
Pantau - Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi menguat terhadap dolar Amerika Serikat seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah penghentian aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran.
Redanya Konflik Dorong Sentimen Positif
Lukman mengatakan meredanya konflik di Timur Tengah menjadi sentimen positif bagi pergerakan rupiah.
Ia mengungkapkan, “Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS (Amerika Serikat) di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul penghentian aksi saling serang antara AS dan Iran.”
Berdasarkan laporan Anadolu, tidak ada serangan baru dari Amerika Serikat maupun Iran selama dua malam berturut-turut, sementara Pakistan dan Qatar meningkatkan upaya mediasi untuk mendorong deeskalasi konflik.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan jeda tersebut terjadi setelah hampir dua pekan serangan yang menyasar infrastruktur militer, sistem pengawasan pesisir, fasilitas rudal dan pesawat nirawak, aset angkatan laut, serta pusat logistik Iran.
Sumber pemerintah Pakistan juga menyebut Islamabad dan Doha mengintensifkan pertukaran pesan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mendorong penyelesaian konflik.
Investor Masih Tunggu Data Ekonomi AS
Lukman menilai penguatan rupiah berpotensi terbatas karena investor masih bersikap wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat.
Ia mengatakan, “PDB AS diperkirakan tumbuh 2,3 persen quartal on quartal (QoQ), sedangkan inflasi PCE inti naik 0,1 persen (QoQ).”
Pasar juga menantikan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang diperkirakan akan membahas kenaikan harga minyak dunia serta potensi tekanan inflasi.
Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
- Penulis :
- Aditya Yohan



