HOME  ⁄  Ekonomi

PLN EPI Menilai Efisiensi Rantai Pasok Menjadi Kunci Keberhasilan Pemanfaatan Biomassa untuk PLTU

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

PLN EPI Menilai Efisiensi Rantai Pasok Menjadi Kunci Keberhasilan Pemanfaatan Biomassa untuk PLTU
Foto: Fasilitas pengolahan biomassa PT PLN EPI di Tasikmalaya, Jabar, dengan kapasitas produksi mencapai 10 ton per jam (sumber: PT PLN EPI)

Pantau - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyatakan keberhasilan pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pengganti sebagian batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi bahan baku, tetapi juga bergantung pada efisiensi rantai pasok, konsistensi standar kualitas, serta keandalan infrastruktur pengolahan biomassa.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menjelaskan PLN EPI dibentuk untuk menjamin pasokan energi primer bagi sekitar 200 unit PLTU, sekitar 200 unit PLTG, PLTGU, dan PLTMG, serta sekitar 800 unit PLTD yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ia mengungkapkan, "Sekitar 90 persen pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan energi fosil. Karena itu, kami terus memperluas pemanfaatan biomassa sebagai substitusi batu bara untuk mendukung agenda dekarbonisasi dan pencapaian net zero emissions."

Pengembangan Biomassa Berbasis Residu

PLN EPI menegaskan seluruh biomassa yang dimanfaatkan berasal dari residu industri kehutanan, residu perkebunan, dan residu pertanian, serta tidak berasal dari aktivitas penebangan hutan maupun deforestasi.

Pendekatan tersebut dilakukan agar pengembangan biomassa tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan konsep ekonomi sirkular.

Hokkop mengatakan, "Kami memanfaatkan residu yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, biomassa tidak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi sektor kehutanan dan perkebunan, tanpa mengorbankan kelestarian hutan."

PLN EPI menyebut biomassa yang melalui proses pengolahan dan pengendalian mutu yang tepat mampu memenuhi spesifikasi teknis pembangkit sehingga dapat menggantikan sebagian konsumsi batu bara tanpa mengurangi keandalan operasional PLTU.

Sepanjang 2025, PLN EPI memasok 2,35 juta ton biomassa yang berkontribusi terhadap penurunan emisi sebesar 2,72 juta ton CO2e.

PLN EPI menargetkan pasokan biomassa mencapai 3,65 juta ton pada 2026 dan meningkat menjadi 4,07 juta ton pada 2027 untuk mendukung implementasi co-firing di 52 PLTU di berbagai wilayah Indonesia.

Secara kumulatif selama periode 2023–2026, PLN EPI telah merealisasikan penyediaan biomassa sebanyak 4,77 juta ton.

Komposisi pasokan biomassa didominasi biomassa berbasis kayu dengan sawdust sebesar 54,6 persen dan woodchip sebesar 22,4 persen yang telah memenuhi spesifikasi bahan bakar pembangkit.

Penguatan Infrastruktur dan Digitalisasi Rantai Pasok

Hokkop menilai peningkatan volume pasokan biomassa harus diiringi dengan penguatan ekosistem biomassa secara menyeluruh.

Ia mengatakan, "Tantangan utama tidak hanya terletak pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga pada kapasitas pengolahan, standardisasi kualitas, penyimpanan, serta sistem distribusi yang efisien."

Untuk mengatasi tantangan tersebut, PLN EPI mengembangkan model spoke-hub yang mengintegrasikan titik pengumpulan bahan baku (sub hub), fasilitas produksi (hub), main hub sebagai pusat pengolahan, pusat pencampuran biomassa, pusat penyimpanan biomassa, serta pengendalian mutu sebelum biomassa didistribusikan ke pembangkit.

Model tersebut juga diperkuat melalui Marketplace Biomassa sebagai platform digital yang menghubungkan pemasok dengan kebutuhan biomassa di setiap pembangkit.

Saat ini PLN EPI telah mengoperasikan fasilitas pengolahan biomassa di Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat, masing-masing berkapasitas 10 ton per jam.

Ke depan, PLN EPI akan memperluas jaringan hub biomassa di Lebak, Lamongan, Blora, Cilegon, dan Suralaya sebagai bagian dari penguatan rantai pasok biomassa nasional.

Hingga 2028, PLN EPI menargetkan pembangunan 15 main hub atau hub biomassa di berbagai wilayah Indonesia melalui investasi perusahaan dan kolaborasi dengan mitra strategis.

Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menjamin kualitas dan kontinuitas pasokan biomassa sekaligus meningkatkan efisiensi logistik bagi pembangkit listrik di seluruh Indonesia.

Hokkop mengatakan, “Melalui penguatan standardisasi, pembangunan infrastruktur, dan digitalisasi rantai pasok biomassa, PLN EPI terus membangun ekosistem bioenergi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.”

Penulis :
Arian Mesa