
Pantau - Indonesia berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan kapasitas mencapai 7 gigawatt (GW) sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat.
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan target pengembangan PLTN tersebut telah masuk dalam master plan energi nasional berdasarkan informasi terakhir yang diterimanya dari Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo.
“Indonesia akan memulai program pengembangan nuklir yang sangat ambisius. Yang terakhir saya dengar dari Pak Darmawan (Direktur Utama PT PLN) adalah target 7 GW masuk dalam master plan energi nasional,” ungkap Hashim dalam Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta pada Selasa.
Selain energi nuklir, Indonesia mempunyai target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dalam skala besar dengan kapasitas mencapai 100 gigawatt peak (GWp).
Pemerintah Targetkan Tapak PLTN Ditetapkan Paling Lambat 2027
Pemerintah menargetkan penetapan tapak pembangunan PLTN di Indonesia dapat dilakukan pada 2026 atau paling lambat 2027 sebagai bagian dari tahapan pengembangan pembangkit tersebut.
Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi menyebut penentuan tapak PLTN akan mempertimbangkan teknologi yang nantinya dipilih pemerintah.
Indonesia memiliki sejumlah pilihan teknologi nuklir dengan beberapa negara dan mitra disebut berminat menjalin kerja sama dalam pengembangan PLTN.
Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Rusia termasuk negara yang disebut memiliki pilihan teknologi maupun mitra yang berminat bekerja sama dengan Indonesia.
Pengembangan PLTN menjadi salah satu bagian dari upaya menyediakan energi dalam jumlah mencukupi dengan karakteristik andal, kompetitif, dan berkelanjutan.
Pasokan energi tersebut diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus proses industrialisasi Indonesia.
Kebutuhan Listrik Nasional Diproyeksikan Terus Meningkat
Hashim menilai Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah yang dapat dikembangkan menjadi tenaga listrik, termasuk dari berbagai sumber energi baru dan terbarukan.
Menurut dia, pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan masyarakat mendapatkan pasokan listrik dan energi yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari.
“Pemerintah harus menyediakan listrik, energi untuk rakyatnya. Sehingga mereka bisa menerangi rumah, sehingga anak-anak bisa belajar pada malam hari, sehingga rumah sakit dan klinik di daerah terpencil teraliri listrik saat mereka membutuhkannya,” ujar Hashim.
Ketersediaan listrik dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, menunjang pendidikan, serta memastikan rumah sakit dan klinik di wilayah terpencil memperoleh pasokan energi ketika dibutuhkan.
Kebutuhan listrik nasional diproyeksikan terus meningkat hingga mencapai sekitar 600 terawatt hour (TWh).
Pada 2030, konsumsi listrik nasional juga diproyeksikan mendekati 2.000 kilowatt hour (kWh) per kapita.
Peningkatan kebutuhan tersebut menjadi salah satu konteks pemerintah mengembangkan berbagai sumber energi, termasuk PLTN dan PLTS, untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
- Penulis :
- Arian Mesa




