HOME  ⁄  Ekonomi

United Tractors Bukukan Pendapatan Rp58,3 Triliun pada Semester I 2026 Meski Laba Bersih Menurun

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

United Tractors Bukukan Pendapatan Rp58,3 Triliun pada Semester I 2026 Meski Laba Bersih Menurun
Foto: (Sumber :Jajaran direksi PT United Tractors Tbk (UNTR) menggelar Konferensi Pers seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Menara Astra, Jakarta, Kamis (16/4/2026). ANTARA/Muhammad Heriyanto/am..)

Pantau - PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp58,3 triliun pada semester I 2026, turun 15 persen secara tahunan dibandingkan Rp68,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya akibat penurunan penjualan emas dan melemahnya kinerja sejumlah segmen usaha.

Pendapatan dan Laba Tertekan

Perusahaan Grup PT Astra International Tbk (ASII) itu menyebut penurunan pendapatan terutama dipengaruhi oleh berkurangnya penjualan emas dari PT Agincourt Resources serta melemahnya kinerja segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal maupun metalurgi akibat alokasi RKAB batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.

“Hal ini sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor kontraktor penambangan yang terutama didorong oleh penguatan kurs dolar AS,” ungkap Corporate Secretary UNTR Ari Setiyawan.

Penjualan emas dari Tambang Emas Martabe menurun karena penghentian sementara operasional tambang, namun aktivitas penambangan telah kembali berjalan pada kuartal II 2026.

Sejalan dengan penurunan pendapatan, laba bersih perseroan yang tidak termasuk non-recurring items turun 48 persen secara tahunan menjadi Rp4,3 triliun.

Perseroan juga mencatat non-recurring items sebesar Rp3,3 triliun yang berasal dari penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.

Segmen Alat Berat Ikut Melemah

Per 30 Juni 2026, United Tractors mencatat utang bersih sebesar Rp9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5 persen, berbalik dari posisi kas bersih Rp7,7 triliun pada akhir 2025.

“Perubahan ini utamanya mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham,” ujar Ari.

Segmen alat berat mencatat pendapatan bersih sebesar Rp15 triliun atau turun 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penjualan alat berat Komatsu juga turun 27 persen menjadi 1.994 unit, terutama karena penjualan big machine di sektor pertambangan merosot 55 persen menjadi 325 unit sebagai dampak alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah.

Di tengah penurunan tersebut, pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat meningkat tipis menjadi Rp5,5 triliun dibandingkan Rp5,4 triliun pada semester I 2025.

Penulis :
Ahmad Yusuf