
Pantau - Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperluas penetrasi pasar ekspor ke kawasan Asia Tengah dan Afrika sebagai upaya mendongkrak pertumbuhan perekonomian Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global.
Langkah tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri di sela pelepasan ekspor salak di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (6/8/2026).
Ia mengungkapkan, "Ini pasar besar yang harus kami optimalkan bersama."
Kemendag menegaskan diversifikasi pasar ekspor menjadi salah satu strategi utama untuk meningkatkan kinerja ekspor nasional.
Diversifikasi pasar tersebut diperkuat setelah pemerintah meratifikasi sejumlah perjanjian dagang, yakni Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (EU-CEPA), perjanjian dagang Indonesia-Peru, serta Indonesia-Kanada Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
Hilirisasi Komoditas Jadi Fokus Peningkatan Nilai Tambah
Kemendag menilai buah-buahan tropis menjadi salah satu komoditas yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor Indonesia.
Wakil Menteri Perdagangan meminta pelaku usaha terus melakukan inovasi agar nilai tambah produk semakin meningkat.
Inovasi tersebut didorong melalui pengolahan produk mentah menjadi barang jadi dengan proses hilirisasi.
Hilirisasi diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih besar dibandingkan hanya mengekspor bahan mentah.
Bali dinilai memiliki potensi besar sebagai daerah pengekspor buah-buahan tropis.
Selain buah tropis, Bali juga memiliki komoditas unggulan lain berupa kopi dan cokelat.
Kedua komoditas tersebut didorong untuk diolah serta dikemas menjadi produk premium agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasar internasional.
Perluasan Ekspor Didorong Hadapi Perlambatan Global
Kemendag menyebut perluasan pasar ekspor juga menjadi salah satu solusi menghadapi perlambatan ekonomi global yang dipengaruhi perang dagang serta krisis geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Wakil Menteri Perdagangan menegaskan perluasan pangsa pasar ekspor tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri.
Upaya tersebut memerlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, nilai ekspor Indonesia pada 2025 mencapai 282,91 miliar dolar AS atau meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar 266,52 miliar dolar AS.
Rata-rata tren pertumbuhan ekspor Indonesia selama periode 2021-2025 tercatat sebesar 3,12 persen per tahun.
Indonesia juga membukukan surplus perdagangan sebesar 31 miliar dolar AS pada 2024 yang kemudian meningkat menjadi 41 miliar dolar AS pada 2025.
Pada periode Januari-Juni 2026, Indonesia kembali mencatat surplus perdagangan sebesar 3,58 miliar dolar AS.
Hingga saat ini realisasi ekspor Indonesia pada 2026 telah mencapai 280 miliar dolar AS dari target sebesar 315 miliar dolar AS.
- Penulis :
- Arian Mesa



