HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Ditutup Menguat 1,04 Persen di Tengah Penantian Data NFP AS dan Sorotan Ketegangan Timur Tengah

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

IHSG Ditutup Menguat 1,04 Persen di Tengah Penantian Data NFP AS dan Sorotan Ketegangan Timur Tengah
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 65,94 poin atau 1,04 persen ke level 6.409,65 pada perdagangan Jumat di tengah pelaku pasar yang menantikan rilis data Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat (AS) serta mencermati meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Indeks LQ45 juga ditutup menguat 9,43 poin atau 1,49 persen ke posisi 640,29.

Sentimen Global Bayangi Pergerakan Pasar

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, "Bursa regional Asia cenderung bergerak beragam jelang akhir pekan ini yang terbebani kondisi terakhir di Timur Tengah, dan penantian rilis data pekerja AS yang merupakan salah satu indikator untuk kebijakan moneter The Fed."

Pergerakan bursa saham Asia menjelang akhir pekan dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan penantian investor terhadap data ketenagakerjaan AS sebagai acuan arah kebijakan moneter The Fed.

Ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi global setelah muncul laporan mengenai serangan Iran di Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Ketidakjelasan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz turut meningkatkan kekhawatiran pasar karena Iran berupaya membatasi kapal-kapal AS dan Israel menggunakan jalur tersebut serta menuntut kompensasi dari negara-negara yang dianggap bermusuhan.

Nico mengungkapkan, "Hal ini tentunya membuatkan harga minyak dunia dan ketegangan yang kembali memicu kekhawatiran tentang inflasi dan prospek suku bunga ke depannya."

Pelaku pasar juga menantikan laporan data Non-Farm Payroll AS periode Juli 2026 yang dijadwalkan dirilis pada Jumat (07/08) waktu AS sebagai indikator kekuatan pasar tenaga kerja dan petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.

Para pejabat The Fed semakin memberikan sinyal kesiapan menaikkan suku bunga menyusul meningkatnya tekanan inflasi.

Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026.

Mengutip Financial Times, Ketua The Fed Kevin Warsh bersedia menaikkan suku bunga bulan depan apabila inflasi tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

Kevin Warsh juga diperkirakan tetap mempertahankan gaya komunikasi yang sederhana meski mendapat kritik dari pasar keuangan.

Faktor Domestik dan Pergerakan IHSG

Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 145,3 miliar dolar AS, sedikit turun dibandingkan posisi akhir Juni 2026 sebesar 145,6 miliar dolar AS.

Nico mengatakan, "Hal ini menunjukkan bahwa cadangan devisa tetap terjaga dan mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan."

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Pelaku pasar juga menantikan pengumuman calon Gubernur Bank Indonesia definitif yang direncanakan diumumkan pemerintah pada pekan ini.

Penunjukan Gubernur BI dinilai menjadi salah satu katalis penting bagi pasar keuangan karena investor akan mencermati komitmen dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, dan menentukan arah kebijakan suku bunga di tengah dinamika ekonomi global.

Nico mengatakan, "Penunjukan figur yang memiliki kredibilitas tinggi dan dinilai mampu menjaga independensi BI berpotensi meningkatkan kepercayaan pasar, sementara ketidakpastian yang berkepanjangan dapat mendorong sikap wait and see dari pelaku pasar."

IHSG dibuka menguat pada awal perdagangan dan bertahan di zona hijau hingga penutupan sesi pertama.

Pada sesi kedua, IHSG tetap bergerak di wilayah positif hingga penutupan perdagangan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor mencatatkan penguatan dengan sektor infrastruktur memimpin kenaikan sebesar 2,06 persen, diikuti sektor barang baku sebesar 1,59 persen, dan sektor barang konsumen primer sebesar 1,15 persen.

Dua sektor mengalami pelemahan, yakni sektor barang konsumen non primer sebesar 0,91 persen dan sektor kesehatan sebesar 0,91 persen.

Saham dengan penguatan terbesar di antaranya VOKS, ROCK, KBLV, MCAS, dan ISAT.

Sementara itu, saham dengan pelemahan terdalam dipimpin TALF, diikuti PDES, BACH, MDIA, dan KDTN.

Frekuensi perdagangan saham tercatat mencapai 2.192.000 transaksi dengan volume 36,88 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp16,44 triliun.

Sebanyak 373 saham ditutup menguat, 245 saham melemah, dan 345 saham tidak mengalami perubahan harga.

Pada penutupan perdagangan regional Asia, Indeks Nikkei melemah 0,07 persen ke 65.634,00, Indeks Shanghai menguat 1,02 persen ke 3.940,04, Indeks Hang Seng naik 0,54 persen ke 25.668,03, Indeks Kospi melemah 0,60 persen ke 6.258,77, dan Indeks Straits Times menguat 1,05 persen ke 5.698,43. 

Penulis :
Shila Glorya