
Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 142 poin atau 0,79 persen menjadi Rp17.755 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.897 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah salah satunya dipengaruhi Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia yang masih berada pada level optimistis.
“Konsumen secara umum masih optimistis terhadap kondisi ekonomi, meski tingkat keyakinannya terus menurun dalam tiga bulan terakhir,” ungkap Ibrahim.
IKK Turun Tiga Bulan Beruntun
Bank Indonesia (BI) melaporkan IKK Juli 2026 berada di level 116,8, turun dibandingkan 117,8 pada Juni 2026.
Penurunan pada Juli membuat IKK tercatat melemah selama tiga bulan secara beruntun.
Tren tersebut menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati dalam memandang kondisi ekonomi sekaligus menentukan keputusan belanja.
Meski mengalami penurunan, IKK masih berada di atas level 100 yang menunjukkan konsumen secara umum tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi.
Ibrahim memperingatkan apabila tren penurunan IKK terus berlanjut, ruang pertumbuhan konsumsi dapat ikut tertekan karena rumah tangga berpotensi menahan pengeluaran dan lebih selektif dalam mengalokasikan pendapatan.
“Dengan demikian, perkembangan IKK pada bulan-bulan berikutnya menjadi penting untuk melihat seberapa kuat daya tahan konsumsi domestik di tengah berbagai tantangan ekonomi,” kata Ibrahim.
Sentimen domestik lainnya berasal dari laporan mengenai Presiden RI Prabowo Subianto yang secara resmi mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia definitif kepada DPR RI.
Pengajuan Destry Damayanti tertuang dalam Surat Presiden yang telah diserahkan kepada pimpinan DPR untuk mengisi posisi kepala bank sentral.
Sentimen Global Ikut Menopang Rupiah
Dari sisi global, Ibrahim menyebut muncul harapan Iran dan Oman akan segera mencapai kesepakatan yang dapat berujung pada pembukaan kembali Selat Hormuz.
Iran pada Minggu, 9 Agustus 2026, menyatakan kesepakatan dengan Oman sudah berada pada tahap akhir.
Meski demikian, Iran menegaskan jalur pelayaran tersebut baru akan kembali dibuka setelah Washington memenuhi sejumlah persyaratan lain.
Salah satu persyaratan yang disebut adalah pemberian kompensasi dari Amerika Serikat kepada Iran atas serangan-serangan luas yang telah terjadi.
Sentimen global lainnya berasal dari meredanya kekhawatiran mengenai inflasi Amerika Serikat yang membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed).
“Apalagi, bersama dengan angka ketenagakerjaan yang lemah, hal ini semakin mengurangi ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang,” ujar Ibrahim.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar melihat sekitar 42 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan Fed September 2026.
Angka tersebut turun cukup tajam dibandingkan sekitar 67 persen pada sepekan sebelumnya, menunjukkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Fed semakin melemah.
Dalam sepekan ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis Indeks Harga Konsumen atau CPI Amerika Serikat untuk Juli yang dijadwalkan pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Para ekonom memperkirakan inflasi AS secara tahunan sedikit menurun dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen.
Inflasi inti atau CPI Inti juga diperkirakan turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen secara tahunan.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin turut menguat menjadi Rp17.795 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.913 per dolar AS.
- Penulis :
- Shila Glorya



