HOME  ⁄  Ekonomi

Kementan Siapkan KM Camara Nusantara I Angkut 200 Sapi Perah Bunting untuk Percepat Swasembada Susu

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kementan Siapkan KM Camara Nusantara I Angkut 200 Sapi Perah Bunting untuk Percepat Swasembada Susu
Foto: Jajaran Kementerian Pertanian meninjau kesiapan Kapal Motor (KM) Camara Nusantara I yang dikelola PT Pelni di Semarang, Jawa Tengah, untuk mengangkut 200 sapi perah bunting (sumber: Kementan)

Pantau - Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan Kapal Motor (KM) Camara Nusantara I untuk mengangkut 200 ekor sapi perah bunting sebagai bagian dari upaya mempercepat penambahan populasi ternak dan mewujudkan swasembada susu nasional.

Rencana pengiriman tersebut disertai persiapan berbagai aspek penting, mulai dari transportasi, kesehatan hewan, ketersediaan pakan dan air minum, hingga kesejahteraan ternak selama perjalanan.

Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Tri Melasari, mengatakan sapi yang akan dikirim berasal dari Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden, Jawa Tengah.

"Rencana pengiriman 200 ekor sapi perah bunting berasal dari Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden, Jawa Tengah," ungkap Tri.

Kementan Cek Kesiapan Kapal dan Kesejahteraan Ternak

Untuk memastikan kelancaran pengiriman, jajaran Kementan meninjau kesiapan KM Camara Nusantara I yang dikelola PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) di Semarang, Jawa Tengah.

Peninjauan kapal tersebut menjadi bagian dari persiapan pengadaan sekaligus rencana pengiriman 200 sapi perah bunting.

Persiapan melibatkan Kementan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Badan Karantina Indonesia, PT Pelni, serta Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).

Kementan memastikan pengangkutan sapi perah bunting dilakukan dengan persiapan matang yang tidak hanya memperhitungkan kapasitas kapal, tetapi juga pakan, air minum, ventilasi, alas ternak, tenaga pemelihara, serta pendampingan dokter hewan.

Menurut Tri, kesiapan sarana transportasi menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan populasi sapi perah nasional.

Keberhasilan pengiriman juga tidak hanya dinilai dari sampainya sapi di lokasi tujuan, tetapi mencakup kondisi dan kesehatan ternak selama perjalanan.

Seluruh kebutuhan ternak selama pelayaran harus dipenuhi, mulai dari pakan, air minum, ventilasi, alas yang aman, hingga tata cara penanganan sapi di atas kapal.

"Semua aspek tersebut harus disiapkan dengan baik agar sapi tetap nyaman dan kondisinya terjaga sampai tujuan," tegas Tri.

Persiapan tersebut dilakukan untuk memastikan perjalanan ternak memenuhi prinsip kesehatan sekaligus kesejahteraan hewan.

Kebutuhan logistik akan dihitung berdasarkan perkiraan durasi perjalanan dengan tambahan cadangan untuk mengantisipasi perubahan kondisi selama pelayaran.

Kepala BBPTUHPT Baturraden, Dani Kusworo, mengatakan kesiapan teknis kapal harus diikuti pengaturan pemeliharaan ternak selama perjalanan.

Aspek pemeliharaan yang diperhatikan meliputi pengelolaan kotoran sapi, ketersediaan petugas pemelihara ternak atau kleder, serta keberadaan dokter hewan selama pengangkutan.

"Kami ingin memastikan sapi yang dikirim bukan hanya sampai di tujuan, tetapi sampai dalam kondisi sehat dan siap beradaptasi di lokasi penerima. Karena itu, kebutuhan pakan, air, obat-obatan, petugas, dan dokter hewan selama perjalanan harus dihitung secara cermat," ungkap Dani.

Rute Baturraden-Semarang-Bajoe-Bone Dikaji

Dalam tahap persiapan, seluruh pihak terkait akan berkoordinasi untuk menetapkan trayek perjalanan dan pelabuhan yang digunakan.

Para pihak juga akan menyusun standar operasional prosedur (SOP) pengangkutan, menentukan pembagian tanggung jawab, serta melakukan simulasi proses muat dan bongkar sapi.

Salah satu rute yang sedang dipertimbangkan adalah perjalanan dari Baturraden menuju Semarang, kemudian Bajoe dan Bone.

"Rute Baturraden–Semarang–Bajoe–Bone menjadi salah satu opsi yang dikaji untuk rencana pengiriman," kata Dani.

Dalam kondisi normal, perjalanan pengiriman sapi diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam hari.

Meski durasi perjalanan diperkirakan maksimal sekitar enam hari dalam kondisi normal, kebutuhan pakan, air, obat-obatan, dan operasional akan disiapkan untuk sedikitnya delapan hari sebagai langkah antisipasi.

Penambahan Populasi Didorong untuk Tingkatkan Produksi Susu

Pengadaan dan pengiriman 200 sapi perah bunting tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat penambahan populasi sapi perah di Indonesia.

Penambahan populasi diharapkan meningkatkan produksi susu dalam negeri sekaligus mendukung pencapaian swasembada susu nasional.

"Penambahan populasi menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun produksi susu nasional secara berkelanjutan," tegas Dani.

Kementan menilai pengembangan industri sapi perah tidak cukup dilakukan hanya dengan menyediakan atau menambah jumlah ternak.

Seluruh mata rantai pendukung perlu berjalan secara terintegrasi, mulai dari penyediaan bibit, pakan, kesehatan hewan, transportasi, pemeliharaan ternak, hingga pengelolaan sapi setelah tiba di lokasi penerima.

Integrasi tersebut diperlukan agar investasi pemerintah dalam penambahan populasi ternak memberikan hasil optimal dan berkelanjutan.

Kementan bersama seluruh pihak terkait akan terus mematangkan berbagai aspek teknis sebelum pengiriman 200 sapi perah bunting dilaksanakan.

Persiapan menyeluruh ditujukan agar penambahan populasi sapi perah berlangsung aman, kesehatan dan kesejahteraan ternak tetap terjaga, serta program tersebut memberikan dampak terhadap peningkatan produksi susu nasional.

Penulis :
Leon Weldrick