HOME  ⁄  Ekonomi

Pelaku Industri Mendorong Ekosistem Kripto Indonesia Lebih Inklusif dan Terintegrasi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pelaku Industri Mendorong Ekosistem Kripto Indonesia Lebih Inklusif dan Terintegrasi
Foto: (Sumber :CEO Indodax William Sutanto memberikan pemaparan terkait as dalam "Indonesia Blockchain Week 2026" di Jakarta. (Antara/HO/Indodax).)

Pantau - Pelaku industri blockchain dan aset kripto mendorong penguatan ekosistem digital Indonesia agar mampu menciptakan nilai ekonomi yang lebih luas dan inklusif di tengah menguatnya regulasi serta meluasnya pemanfaatan teknologi blockchain.

CEO Indodax William Sutanto mengatakan industri blockchain dan aset kripto Indonesia memasuki fase baru seiring penguatan kerangka regulasi dan penggunaan teknologi tersebut di berbagai sektor.

Pemanfaatannya antara lain berkembang melalui tokenisasi real world assets (RWA), intellectual property tokenization, serta pembangunan infrastruktur digital.

"Perkembangan ini menandai kerangka industri yang tak hanya berfokus pada perdagangan aset kripto, tetapi juga pada penguatan ekosistem guna menciptakan nilai ekonomi yang lebih luas dan inklusif," ujar William dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Regulasi Didorong Tetap Beri Ruang bagi Inovasi

William menilai transisi pengawasan aset kripto kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berjalan relatif baik melalui pendekatan soft landing.

Menurut dia, fase selanjutnya perlu diarahkan pada penguatan ekosistem melalui integrasi yang lebih luas dengan lembaga jasa keuangan serta regulasi yang tetap memberikan ruang bagi inovasi.

"Yang terpenting adalah bagaimana kepastian regulasi yang semakin kuat dapat menjadi fondasi bagi industri untuk menjadi ruang inovasi dan integrasi yang lebih luas dengan ekosistem keuangan dengan tetap menjaga perlindungan konsumen," kata William.

Kerangka regulasi juga dinilai perlu memberikan ruang terhadap inovasi dan akses pasar yang lebih luas tanpa mengesampingkan perlindungan konsumen.

“Industri kripto berkembang sangat cepat. Karena itu, yang perlu terus dicari adalah keseimbangan agar inovasi tetap memiliki ruang untuk berkembang, sementara perlindungan konsumen tetap menjadi prioritas,” katanya.

William dalam Indonesia Blockchain Week 2026 juga menyebut bertambahnya jumlah exchange berizin atau perusahaan perdagangan aset kripto sebagai perkembangan positif karena memberikan lebih banyak pilihan kepada konsumen.

Namun, penurunan volume perdagangan kripto secara global membuat pertumbuhan jumlah pelaku industri perlu bergerak seimbang dengan volume pasar untuk memitigasi risiko konsolidasi.

Tokenisasi Aset Buka Pemanfaatan Blockchain Lebih Luas

William menjelaskan pemanfaatan teknologi blockchain mulai berkembang untuk kebutuhan ekonomi yang lebih luas, termasuk tokenisasi aset sebagai alternatif pembiayaan pembangunan.

Perkembangan tersebut menunjukkan teknologi blockchain mulai bergerak dari pembangunan infrastruktur menuju pemanfaatan yang lebih konkret.

"Seiring semakin luasnya penerapan teknologi ini, perkembangan inovasi juga perlu berjalan beriringan dengan regulasi yang adaptif, kepatuhan yang kuat, serta tata kelola yang mampu mendukung pertumbuhan ekosistem secara berkelanjutan," ujarnya.

Penguatan tersebut dinilai menjadi peluang bagi industri aset digital untuk berkembang dari sekadar pasar kripto menjadi ekosistem yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia.

Penulis :
Aditya Yohan