HOME  ⁄  Ekonomi

Pengamat UI Dorong Indonesia Perkuat Sektor Energi di Tengah Gejolak Geopolitik

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pengamat UI Dorong Indonesia Perkuat Sektor Energi di Tengah Gejolak Geopolitik
Foto: (Sumber :Ilustrasi area Kilang Pertamina Plaju Palembang, Sumatera Selatan. (ANTARA/HO/RU3).)

Pantau - Indonesia perlu memperkuat sektor energi dan mengurangi ketergantungan impor untuk menghadapi konflik geopolitik, perang dagang, serta gangguan rantai pasok global yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional.

Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) Muhammad Syaroni Rofii mengatakan energi merupakan sektor krusial karena berperan dalam menggerakkan industri dan mobilitas masyarakat.

“Energi menjadi salah satu sektor yang perlu diperkuat karena memiliki banyak turunan. Energi dapat menggerakkan industri dan mobilitas masyarakat,” kata Syaroni di Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Ia menilai ketergantungan terhadap impor turut membebani APBN sehingga pemerintah perlu mempercepat pengembangan energi alternatif.

Energi Alternatif Dinilai Perlu Dipercepat

Syaroni mengatakan Indonesia dapat mempertimbangkan pengalaman sejumlah negara, termasuk China dan Arab Saudi, yang telah mendorong pengembangan sumber energi alternatif.

Menurut dia, penguatan produksi dalam negeri juga penting untuk menopang kemandirian Indonesia di tengah ketidakpastian global.

“Pada saat yang sama, Indonesia harus mengurangi ketergantungan impor. Produk yang dapat dibuat di dalam negeri harus diprioritaskan untuk menopang kemandirian, sekaligus menempatkan ASEAN sebagai perisai bersama di kawasan,” ujarnya.

Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China, Indonesia dinilai perlu beradaptasi dengan mengedepankan kemitraan yang saling menguntungkan bersama kedua negara.

Syaroni juga menilai pemerintah perlu mengidentifikasi kepentingan nasional yang mendesak dan memanfaatkan politik luar negeri sebagai instrumen untuk mencapainya.

“Saya melihat Indonesia berpotensi memainkan peran di kawasan maupun tingkat global. Hal itu harus didukung diplomasi yang lincah dan adaptif,” katanya.

Perubahan Geopolitik Dorong Adaptasi Kebijakan

Syaroni mengatakan perubahan geopolitik selama lima tahun terakhir telah mendorong negara-negara semakin mengutamakan kepentingan nasional sekaligus menyiapkan alternatif kebijakan.

“Pandemi COVID-19, perang dagang AS-China, serta perang AS-Iran menjadi variabel tersebut. Saya kira pendekatan Presiden Prabowo dalam menavigasi politik luar negeri Indonesia tidak lepas dari variabel tersebut,” katanya.

Penguatan sektor energi, pengurangan ketergantungan impor, dan diplomasi yang adaptif dinilai menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan geopolitik serta menjaga kepentingan nasional Indonesia.

Penulis :
Ahmad Yusuf