HOME  ⁄  Ekonomi

Pasar Menanti Arah Kebijakan BI Setelah Suku Bunga Naik 100 Basis Poin

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pasar Menanti Arah Kebijakan BI Setelah Suku Bunga Naik 100 Basis Poin
Foto: (Sumber :Arsip foto - Petugas keamanan melakukan penjagaan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa/pri.)

Pantau - Pelaku pasar menantikan arah komunikasi kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026 setelah bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin sejak Mei dan menjalankan sejumlah langkah untuk menarik modal asing.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai kebijakan moneter Indonesia telah memasuki fase berbeda sehingga perhatian investor tidak lagi hanya tertuju pada keputusan BI-Rate.

“Menurut kami, fokus pasar pada RDG Agustus bukan lagi sekadar apakah BI-Rate naik atau ditahan. Yang lebih penting adalah bagaimana Bank Indonesia menjelaskan langkah berikutnya setelah fase stabilisasi yang cukup agresif selama beberapa bulan terakhir,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Rupiah dan Normalisasi SRBI Jadi Sorotan

Fakhrul menyebut salah satu isu utama yang dicermati pasar adalah kemungkinan normalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan operasi moneter.

SRBI dalam beberapa bulan terakhir menjadi instrumen penting untuk menarik kembali arus modal asing sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Pasar ingin mengetahui apakah Bank Indonesia mulai melihat ruang untuk bertransisi dari fase menarik likuiditas menuju fase normalisasi likuiditas. Ini penting karena akan mempengaruhi perbankan, pasar obligasi, dan biaya pendanaan secara keseluruhan,” kata Fakhrul menjelaskan.

Pergerakan rupiah juga menjadi perhatian karena nilai tukar dinilai jauh lebih stabil dibandingkan ketika mengalami tekanan pada kuartal kedua, meski risiko global masih membayangi.

“Pasar akan membaca dengan sangat hati-hati bagaimana Bank Indonesia menggambarkan kondisi rupiah saat ini. Apakah fokus utama masih mempertahankan stabilitas nilai tukar atau mulai bergeser untuk mendukung pemulihan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Arus Modal Asing dan Likuiditas Perbankan Dicermati

Pelaku pasar turut menunggu sinyal apakah upaya menarik capital inflow masih menjadi prioritas BI setelah modal asing digunakan sebagai bagian penting strategi stabilisasi rupiah dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut Fakhrul, investor ingin mengetahui apakah kebijakan tersebut akan dipertahankan atau mulai bergeser menuju penguatan pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi domestik.

“Fase pertama adalah mendapatkan kembali kepercayaan investor global. Fase berikutnya adalah memastikan likuiditas tersebut dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat,” katanya.

Kondisi likuiditas perbankan juga menjadi perhatian setelah pemerintah dan otoritas mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk memperkuat likuiditas sistem perbankan serta mendorong penyaluran kredit.

Kondisi Global Membayangi RDG BI

RDG BI Agustus berlangsung ketika inflasi Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga mulai mereda dan pasar semakin memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Namun, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat jangka panjang masih berada pada level tinggi sehingga biaya modal global belum sepenuhnya turun.

Perlambatan ekonomi China juga menjadi risiko setelah terlihat dari lemahnya permintaan kredit, konsumsi rumah tangga, dan investasi domestik yang berpotensi memengaruhi ekspor serta harga komoditas Indonesia.

Dalam kondisi tersebut, Fakhrul menilai komunikasi Bank Indonesia akan menjadi sama pentingnya dengan keputusan kebijakan yang diambil dalam RDG Agustus 2026.

Penulis :
Ahmad Yusuf