
Pantau - Tiga siswa SMA Negeri 2 Bondowoso, Jawa Timur, meraih juara pertama lomba menulis esai tingkat nasional yang diselenggarakan Universitas Pertahanan Republik Indonesia di Bogor melalui gagasan sistem penanganan bencana terintegrasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Ketiga siswa tersebut adalah Wijdan Shafly Maysa Putra, Gareno Danadyaksa, dan Mochammad Abdy Faiza Bahary.
"Alhamdulillah, kami menjadi juara dalam lomba jenis problem solving ini. Kami menulis esai tentang penanganan bencana," kata Wijdan Shafly Maysa Putra.
Mereka mengusung esai berjudul "BENCANAKU: Aplikasi Crowdsourcing Terintegrasi Algoritme Prioritas Berbasis AI dan Sistem Komando Terpadu untuk Optimalisasi Respons Cepat Bencana Alam".
BENCANAKU Integrasikan Laporan Warga dan AI
BENCANAKU menawarkan aplikasi mobile yang mengintegrasikan laporan partisipatif masyarakat dengan sistem komando terpadu untuk mempercepat penanganan bencana.
Melalui sistem tersebut, masyarakat dapat melaporkan kondisi pascabencana menggunakan fitur multimedia dan status darurat.
Laporan kemudian diproses menggunakan algoritma prioritas berbasis AI dengan mempertimbangkan tingkat keparahan bencana.
Sistem tersebut dirancang untuk mengalokasikan sumber daya terdekat dari BNPB, BPBD, TNI, Polri, dan PMI melalui dashboard terpadu.
Integrasi itu dinilai berpotensi mempercepat waktu respons hingga 40 persen sekaligus meningkatkan akurasi penyaluran bantuan dan koordinasi lintas sektor.
Sistem juga menggunakan Natural Language Processing dan Computer Vision untuk membantu proses deteksi serta verifikasi laporan berdasarkan foto, video, dan informasi status darurat.
Algoritma BENCANAKU mempertimbangkan tingkat keparahan, kepadatan penduduk terdampak, keberadaan kelompok rentan, serta aksesibilitas lokasi dalam menentukan prioritas dan alokasi sumber daya.
Tiga Pelajar Bersaing hingga Babak Final
Perjalanan ketiga siswa menuju gelar juara dimulai dengan pengiriman abstrak esai yang pada tahap awal juga bersaing dengan karya kelompok mahasiswa.
Karya mereka kemudian lolos ke semifinal sebelum berlanjut ke babak final yang mempertemukan kelompok dari kalangan siswa SMA.
Pada babak final, ketiganya harus menyerahkan esai lengkap dan mempresentasikan gagasan tersebut di hadapan dewan juri.
Gagasan BENCANAKU berangkat dari penilaian bahwa sistem penanggulangan bencana di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa koordinasi lintas lembaga yang terfragmentasi, keterlambatan informasi dari lokasi terdampak, dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pelaporan pascabencana.
Para siswa menilai sejumlah platform pelaporan bencana yang telah tersedia masih bersifat parsial dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan sistem komando terpadu.
Sekolah Mendorong Siswa Terus Berprestasi
Kepala SMA Negeri 2 Bondowoso Holifaf Nurazizah menilai keberhasilan tersebut menjadi bukti pentingnya ketekunan, kerja keras, dan konsistensi dalam proses belajar.
Ia juga mengutip pepatah Arab Man jadda wajada yang berarti "Siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan menuai hasil."
Holifaf berharap ketiga siswa tetap rendah hati serta terus mengembangkan kemampuan setelah berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional.
"Anak-anak ini bisa mengukir prestasi yang lebih tinggi dan luas lagi, hingga kancah internasional," katanya.
- Penulis :
- Aditya Yohan



