HOME  ⁄  Ekonomi

Lesca Gadai Premier Sebut Aset Bernilai Tinggi Bisa Menopang Likuiditas Usaha

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Lesca Gadai Premier Sebut Aset Bernilai Tinggi Bisa Menopang Likuiditas Usaha
Foto: (Sumber :Gerai PT Lesca Gadai Premier. (ANTARA/HO-Lesca Gadai Premier).)

Pantau - PT Lesca Gadai Premier menilai aset bernilai tinggi dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh likuiditas guna menopang usaha tanpa harus menjual aset yang dimiliki.

Direktur Lesca Gadai Premier Bastian Purnama mengatakan kebutuhan dana dalam waktu relatif cepat menjadi salah satu pertimbangan pengusaha menggunakan pendanaan berbasis aset atau asset-backed lending.

“Melalui skema pendanaan berbasis aset, mereka dapat memanfaatkan nilai laten dari koleksi premium tersebut secara maksimal,” kata Bastian dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.

Aset Premium Bisa Menjadi Jaminan Pendanaan

Skema pendanaan tersebut memungkinkan pemilik memperoleh dana berdasarkan hasil penaksiran nilai pasar barang yang dijaminkan tanpa harus melepas kepemilikan aset.

Aset yang dapat dimanfaatkan antara lain emas dan logam mulia, perhiasan berlian, jam tangan bernilai tinggi atau edisi terbatas, serta tas desainer.

Bastian mengatakan kenaikan nilai sejumlah aset, terutama emas dan logam mulia, turut meningkatkan nilai ekonomis barang yang dapat digunakan sebagai jaminan.

Besaran dana yang dapat diperoleh nasabah ditentukan berdasarkan hasil penaksiran nilai pasar aset.

Lesca Gadai Premier menyebut pencairan dana dapat mencapai miliaran rupiah bergantung pada nilai barang yang dijaminkan.

Menurut Bastian, mekanisme tersebut dapat menjadi pilihan bagi pemilik usaha yang membutuhkan tambahan modal kerja atau likuiditas untuk mengelola arus kas tanpa menjual aset operasional maupun investasi.

“Bagi para pemimpin bisnis, waktu dan reputasi adalah komoditas yang paling berharga,” ujarnya.

Perusahaan menyediakan layanan penaksiran secara privat dengan penilai atau appraiser yang dapat mendatangi lokasi yang disepakati bersama nasabah.

Lokasi penaksiran dapat berupa kantor maupun kediaman nasabah, sedangkan pencairan dana dilakukan melalui transfer perbankan setelah proses penaksiran dan verifikasi selesai.

Pembiayaan Industri Pergadaian Tembus Rp162,26 Triliun

Pemanfaatan aset sebagai sumber likuiditas berlangsung di tengah pertumbuhan pembiayaan industri pergadaian nasional.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran pembiayaan industri pergadaian pada Juni 2026 tumbuh 54,47 persen secara tahunan atau year-on-year menjadi Rp162,26 triliun.

Pembiayaan melalui produk gadai mencapai Rp136,88 triliun atau 84,36 persen dari total pembiayaan industri pergadaian tersebut.

Industri pergadaian antara lain diatur melalui POJK Nomor 39 Tahun 2024 tentang Pergadaian yang telah diubah dengan POJK Nomor 29 Tahun 2025 serta Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Ekonom senior Piter Abdullah menilai perkembangan layanan pergadaian dari segmen ritel hingga aset bernilai tinggi menunjukkan perubahan cara sebagian masyarakat dan dunia usaha mengelola modal.

“Bagi segmen kelas atas, efisiensi biaya modal (cost of capital) dan perlindungan reputasi adalah kunci,” ucap Piter.

Menurut Piter, penggunaan aset bernilai tinggi sebagai jaminan dapat menjadi pilihan untuk memperoleh likuiditas dibandingkan mencairkan deposito berjangka lebih awal atau menjual kepemilikan saham ketika pasar sedang bergejolak.

Penulis :
Aditya Yohan