
Pantau - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif mempercepat pemulihan pelaku kriya di Payakumbuh, Sumatera Barat, pascabencana melalui program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam untuk meningkatkan produktivitas serta daya saing produk lokal.
Program tersebut menjadi bagian dari Ekraf Peduli bertajuk “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya” yang memberikan pendampingan kepada perajin terdampak bencana agar dapat memulihkan dan memperkuat usahanya.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Ekraf Peduli, sebagai wujud kepedulian dan komitmen Kementerian Ekraf dalam mendampingi para pelaku ekonomi kreatif untuk kembali pulih, memperkuat usaha, dan bangkit, melalui semangat ‘Pulih Bersama, Bangkit Berdaya’. Karena pendampingan yang berkelanjutan akan memastikan ekosistem kriya daerah semakin tangguh menghadapi tantangan,” ujar Wakil Menteri Ekraf Irene Umar dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).
Irene menilai kerajinan anyaman dan sulam merupakan warisan budaya sekaligus salah satu sektor potensial yang menopang ekonomi masyarakat Payakumbuh.
Pengembangan produk sulam dan anyam diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas daya saing perajin di pasar nasional maupun internasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diolah Kementerian Ekraf, nilai ekspor subsektor kriya meningkat dari 3,47 miliar dolar AS pada Januari-April 2025 menjadi 3,82 miliar dolar AS pada periode yang sama 2026.
Subsektor kriya pada 2025 juga tercatat berkontribusi sebesar 10,7 persen terhadap ekonomi kreatif dengan pertumbuhan mencapai 2,36 persen.
Irene meminta perajin memperkuat cerita mengenai sejarah dan makna di balik produk sehingga konsumen tidak hanya mempertimbangkan bentuk dan harga ketika membeli kerajinan lokal.
“Cerita pada sebuah produk itu penting agar pembeli tahu alasan dan makna di balik barang yang mereka beli. Tanpa adanya cerita, orang hanya akan melihat barang dari keindahan bentuk dan harganya saja. Padahal buatan tangan manusia mengandung nilai sejarah dan doa yang tidak pernah bisa digantikan oleh mesin, ketika pembeli memahami cerita di baliknya, saya yakin produk lokal ini tidak hanya bernilai tinggi, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas,” ungkap Irene.
Program Kriyasi Anyam dan Sulam dilaksanakan Kementerian Ekraf bersama Pemerintah Kota Payakumbuh dengan pendampingan berupa pengembangan desain, peningkatan keterampilan produksi, serta penyesuaian produk terhadap kebutuhan pasar.
Kegiatan tersebut diikuti 50 peserta yang terdiri atas 25 perajin kriya anyam dan 25 perajin kriya sulam.
Para peserta memperoleh pemaparan dan praktik langsung dari Rumpun Consulting untuk pengembangan produk sulam serta Balai Besar Kerajinan dan Batik untuk produk anyam.
Pelatihan diarahkan untuk merevitalisasi material dan pengetahuan kerajinan, meningkatkan pemahaman mengenai cara berpikir desain, serta memperkuat kualitas dan nilai tambah produk.
Salah satu peserta, Maipanis, menilai kegiatan tersebut memberikan pengetahuan, pendampingan, dan motivasi bagi perajin untuk terus berinovasi meningkatkan kualitas produk anyaman.
“Semoga melalui kegiatan ini, produk kriya lokal dapat semakin maju dan memiliki peluang yang lebih besar untuk dikenal hingga ke pasar yang lebih luas,” ujar Maipanis.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




