HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat 1,14 Persen, Stabilitas Ekonomi Domestik Menopang Pasar di Tengah Gejolak Global

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Menguat 1,14 Persen, Stabilitas Ekonomi Domestik Menopang Pasar di Tengah Gejolak Global
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Selasa (1/9/2026) dengan penguatan 74,46 poin atau 1,14 persen ke posisi 6.599,94, ditopang stabilitas sejumlah indikator perekonomian domestik.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut menguat 10,58 poin atau 1,64 persen menjadi 654,41.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai penguatan IHSG antara lain didukung sentimen positif terhadap kredibilitas fiskal pemerintah.

Kredibilitas fiskal tersebut salah satunya tercermin dari target defisit pemerintah sebesar 2,40 persen pada 2027.

"Di dalam negeri, IHSG menguat didukung sentimen positif terhadap kredibilitas fiskal pemerintah yang tercermin dari target defisit 2,40 persen pada 2027. Realisasi anggaran hingga Juli 2026 juga tetap solid, dengan pendapatan negara tumbuh 21,3 persen year on year (yoy) dan belanja meningkat 18,2 persen (yoy)," ungkap Nico.

Realisasi anggaran hingga Juli 2026 menunjukkan pendapatan negara tumbuh 21,3 persen secara tahunan, sedangkan belanja negara meningkat 18,2 persen.

Inflasi dan Surplus Perdagangan Menopang Sentimen

Sentimen positif domestik juga berasal dari data inflasi terbaru yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS).

BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan atau month to month (mtm).

Secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen.

Angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

"Ini menunjukkan terjaganya dalam kisaran sasaran tersebut merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah," ungkap Nico.

Data ekonomi lainnya berasal dari neraca perdagangan Indonesia yang mencatat surplus 120 juta dolar AS pada Juli 2026 setelah mengalami defisit pada Juni 2026.

"Surplusnya neraca perdagangan tentunya akan menopang dan memperkuat stabilitas pasar keuangan dalam negeri," ungkap Nico.

Di sisi lain, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan perkembangan kurang positif setelah pertumbuhannya melambat hingga memasuki zona kontraksi pada Agustus 2026.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Global S&P Indonesia turun menjadi 49,8 pada Agustus 2026 dibandingkan 50,2 pada Juli 2026 yang sebelumnya menjadi level tertinggi dalam lima bulan.

Penguatan IHSG juga mendapatkan dukungan dari hasil Rapat Paripurna DPR RI yang mengesahkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031.

Nico menilai pengesahan tersebut memberikan kepastian hukum sekaligus memperkuat kepastian arah kebijakan moneter domestik dan memberikan sinyal mengenai komitmen menjaga stabilitas perekonomian.

Kepastian kepemimpinan BI juga diharapkan meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun asing serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tengah gejolak global.

Konflik AS-Iran Tekan Bursa Asia

Berbeda dengan IHSG, bursa saham di kawasan Asia secara umum bergerak melemah karena terbebani meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Eskalasi konflik AS-Iran meningkatkan risiko geopolitik sekaligus mendorong kenaikan harga minyak yang memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan potensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Dalam perkembangan konflik tersebut, pasukan AS dilaporkan menyerang sebuah pulau di Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas dengan melakukan serangan terhadap Uni Emirat Arab (UEA) dan Yordania.

Perkembangan itu menandai kembali terjadinya pertempuran antara AS dan Iran setelah sekitar satu bulan.

Dari AS, Ketua The Fed Warsh menyatakan masih terdapat banyak pekerjaan yang harus dilakukan tanpa adanya bukti lebih jelas bahwa inflasi kembali bergerak menuju target 2 persen.

Setelah pernyataan tersebut, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September 2026 mencapai lebih dari 65 persen, meningkat tajam dari sekitar 36 persen sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut semakin memperkuat kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Sembilan Sektor Saham Menguat

IHSG dibuka menguat dan bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama.

Memasuki sesi kedua, IHSG tetap berada di zona hijau hingga perdagangan saham berakhir.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor mengalami penguatan dan dua sektor melemah.

Sektor industri mencatat kenaikan terbesar sebesar 3,77 persen, disusul sektor teknologi sebesar 2,97 persen dan energi sebesar 2,56 persen.

Sektor barang baku mengalami penurunan terdalam sebesar 0,31 persen, sedangkan sektor infrastruktur melemah 0,15 persen.

Saham SQMI, KKES, AIMS, BSIM, dan SAFE tercatat sebagai saham dengan penguatan harga terbesar.

Sementara itu, RGAS, KICI, HBAT, UDNG, dan AMMS menjadi saham yang mengalami pelemahan harga terbesar.

Frekuensi perdagangan saham di BEI tercatat sebanyak 2.626.000 kali transaksi dengan 57,89 miliar lembar saham diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp20,70 triliun.

Sebanyak 420 saham mengalami kenaikan harga, 233 saham melemah, dan 310 saham tidak mengalami perubahan nilai.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei melemah 0,19 persen menjadi 66.188,00 dan Hang Seng turun 0,93 persen menjadi 25.329,73.

Indeks Straits Times turut melemah 0,98 persen menjadi 5.699,21, sedangkan Shanghai menguat 0,16 persen menjadi 3.979,89 dan Kospi naik 0,23 persen menjadi 6.835,80.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026