
Pantau - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Eniya Listiani Dewi, menyebut penerapan mandatori biodiesel B50 dapat menghemat devisa negara sekitar Rp170 triliun, terutama setelah impor solar dihentikan.
"Meningkatkan devisa negara Rp170 triliun," ungkap Eniya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
B50 Hentikan Impor Solar 18 Juta Kiloliter
Menurut Eniya, sebelum mandatori B50 diterapkan, impor solar Indonesia mencapai sekitar 18 juta kiloliter.
Penerapan B50 membuat impor solar tersebut dihentikan sehingga memberikan dampak positif terhadap devisa negara sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.
Mandatori B50 juga memberikan dampak terhadap komposisi pasokan energi apabila dibandingkan dengan lifting minyak nasional.
Eniya mengatakan lifting minyak nasional saat ini berada di kisaran 610 ribu barel per hari, sedangkan kontribusi bahan bakar nabati telah mencapai sekitar 300 ribu barel per hari.
"Kalau lifting minyak kita 610 ribu barel per day maka lifting minyak dari nabati sudah mencapai setengahnya yaitu 300 ribu barel per day," ungkap Eniya.
Dengan angka tersebut, kontribusi bahan bakar berbasis nabati telah mendekati separuh dari lifting minyak nasional.
Selain menekan ketergantungan terhadap impor solar, mandatori B50 meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan, khususnya energi yang menggunakan bahan baku dari dalam negeri.
Peningkatan pemanfaatan bahan baku domestik tersebut juga dinilai dapat memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Emisi Berkurang dan Tenaga Kerja Bertambah
Dari aspek lingkungan, penggunaan biosolar B50 disebut dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 44,46 juta ton pada 2026.
Penerapan mandatori B50 juga disebut memberikan dampak terhadap penciptaan dan peningkatan tenaga kerja.
"Tenaga kerja juga meningkat hingga 2,1 juta orang pada 2026, setelah mandatori B50," ungkap Eniya.
Penyaluran B50 Capai 94 Persen SPBU
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menyampaikan perkembangan distribusi B50 melalui jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Hingga 5 September 2026, sebanyak 6.050 SPBU telah menyalurkan biodiesel B50 atau sekitar 94 persen dari total 6.412 SPBU.
Dengan demikian, masih terdapat 362 SPBU yang belum menyalurkan B50 karena masih menghabiskan atau menyalurkan stok B40.
"Masih 362 SPBU yang belum menyalurkan B50 karena masih menyalurkan B40," ungkap Mars Ega.
Berdasarkan laporan Marketing Operation Region (MOR) yang tersebar di delapan wilayah, rata-rata tingkat penyaluran B50 telah berada di atas 90 persen.
Pengecualian terdapat pada MOR yang mencakup Maluku dan Papua karena tingkat penyaluran B50 baru mencapai sekitar 65 persen.
"Untuk di Maluku dan Papua masih menghabiskan stok B40, karena stok masih cukup banyak," ungkap Mars Ega.
Pemerintah menilai mandatori B50 memberikan sejumlah manfaat, mulai dari menghentikan impor solar dan menghemat devisa sekitar Rp170 triliun hingga meningkatkan pemanfaatan bahan baku energi domestik, memperkuat ketahanan energi, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta mendukung penyerapan tenaga kerja.
- Penulis :
- Arian Mesa




