
Pantau - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) menilai penggunaan bahan bangunan rendah emisi menjadi bagian penting untuk mempercepat penerapan konstruksi berkelanjutan di Indonesia.
Direktur Operasi SIG Reni Wulandari mengatakan penerapan bangunan hijau tidak cukup hanya mengandalkan standar dan kerangka penilaian, tetapi harus diwujudkan sejak pemilihan material hingga proses konstruksi.
"Transisi menuju konstruksi rendah emisi membutuhkan kolaborasi seluruh rantai nilai, sekaligus ketersediaan solusi bahan bangunan untuk berbagai kebutuhan proyek," kata Reni dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
SIG Manfaatkan Sampah, Biomassa, dan Energi Terbarukan
Menurut Reni, penurunan emisi pada sektor konstruksi perlu ditopang proses produksi material yang lebih efisien sekaligus memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan.
SIG menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam proses produksi dengan memanfaatkan bahan bakar alternatif berupa sampah perkotaan yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF), limbah industri, dan biomassa.
Perseroan mencatat tingkat substitusi termal atau thermal substitution rate (TSR) di pabrik-pabriknya telah mencapai 25 persen.
Tingkat tersebut menunjukkan porsi energi panas dalam proses produksi yang dapat digantikan dengan bahan bakar alternatif.
SIG juga memanfaatkan energi baru terbarukan di sejumlah wilayah operasional melalui penggunaan panel surya.
Selain itu, perusahaan mengoptimalkan gas panas buang menggunakan teknologi pembangkit listrik dari panas buang atau Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG).
Digitalisasi pabrik turut diterapkan untuk mengoptimalkan proses produksi dan meningkatkan efisiensi.
Sistem pengoptimal pabrik telah digunakan di sejumlah fasilitas produksi dan direncanakan diperluas ke pabrik SIG lainnya.
Reni mengatakan berbagai langkah tersebut diarahkan untuk menghasilkan bahan bangunan dengan intensitas emisi lebih rendah tanpa mengurangi kualitas sesuai peruntukannya.
Semen Rendah Emisi SIG Tekan Emisi hingga 38 Persen
Berdasarkan catatan perseroan, produk semen rendah emisi SIG memiliki intensitas emisi hingga 38 persen lebih rendah dibandingkan semen konvensional.
Sejumlah produk tersebut juga telah memperoleh sertifikasi Green Label.
Selain semen, SIG mengembangkan berbagai produk beton dan bahan bangunan turunan semen untuk memenuhi kebutuhan konstruksi dengan mempertimbangkan efisiensi penggunaan material serta aspek keberlanjutan.
Perseroan menyatakan produk-produknya telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 90 persen.
Reni menilai penerapan prinsip keberlanjutan semakin penting seiring kebutuhan pembangunan infrastruktur dan gedung yang tetap memperhatikan efisiensi sumber daya serta penurunan emisi.
SIG bersama Green Building Council Indonesia (GBCI) juga mendorong perluasan pemahaman mengenai bangunan hijau melalui Indonesia Green Building Festival 2026.
Rangkaian kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung di Bandung pada 9 September, Yogyakarta pada 14 September, Makassar pada 24 September, Denpasar pada 26 September, dan Surabaya pada 29 September 2026.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperluas penerapan prinsip bangunan hijau di kalangan pelaku industri, termasuk dalam pemilihan bahan bangunan dan penerapan proses konstruksi yang lebih berkelanjutan.
- Penulis :
- Aditya Yohan




