
Pantau - Bank Indonesia Kalimantan Timur (BI Kaltim) menerapkan sistem pertanian low external input sustainable agriculture (LEISA) dan teknologi digital farming yang mampu meningkatkan produktivitas gabah padi sebesar 44,8 persen di Kalimantan Timur.
Produktivitas padi yang sebelumnya berada di angka 4,8 ton per hektare meningkat menjadi 6,95 ton per hektare setelah penerapan sistem tersebut.
Capaian itu diperoleh dari hasil panen demonstrasi plot (demplot) padi LEISA dan digital farming di Gapoktan Mandiri, Sidomulyo, Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi BI Kaltim bersama pemerintah daerah, akademisi, dan kelompok tani untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Drone Pangkas Waktu Penyemprotan dari Delapan Jam Menjadi 10 Menit
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kaltim Jajang Hermawan mengatakan penerapan teknologi pertanian tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga menekan biaya dan mempercepat proses budidaya.
"Penerapan teknologi pertanian tersebut tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tapi juga menekan biaya dan mempercepat proses budidaya," ungkap Jajang.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah drone sprayer untuk membantu proses pemupukan dan penyemprotan pestisida.
Sebelum menggunakan drone sprayer, pemupukan dan penyemprotan pestisida membutuhkan waktu sekitar enam sampai delapan jam untuk setiap hektare lahan.
Setelah menggunakan drone sprayer, pekerjaan yang sama dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar 10 menit per hektare.
Penggunaan teknologi tersebut memberikan penghematan waktu yang signifikan dalam proses budidaya padi.
Menurut Jajang, konsep LEISA mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal sehingga petani tidak terlalu bergantung terhadap penggunaan input dari luar dalam jumlah tinggi.
Penerapan teknologi dilakukan dalam berbagai tahapan budidaya, mulai dari pembibitan, pemupukan, pengendalian hama, hingga penyemprotan menggunakan drone.
Penggunaan pupuk organik juga menjadi bagian dari penerapan LEISA untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
Jajang menyebut ketersediaan air menjadi salah satu tantangan yang masih perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan metode tersebut.
Meski menghadapi persoalan ketersediaan air, produktivitas sebesar 6,95 ton per hektare menunjukkan metode LEISA dan digital farming berpotensi dikembangkan di wilayah lain di Kalimantan Timur.
Pemprov Kaltim Bidik Produktivitas Minimal Tujuh Ton per Hektare
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji mengapresiasi peningkatan produksi yang dihasilkan dari penerapan sistem pertanian tersebut.
Seno berharap keberhasilan demplot tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi dapat direplikasi di berbagai sentra pertanian lainnya di Kalimantan Timur.
"Peningkatannya sangat luar biasa. Kita harus punya target lebih, ketika produksi sekarang minimal 4 ton per hektare, kalau bisa nanti minimal bisa 7 ton per hektare," kata Seno.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pun ingin mendorong produktivitas padi hingga minimal mencapai tujuh ton per hektare.
Saat ini, Kalimantan Timur memiliki sekitar 28.000 hektare sawah aktif.
Hingga Agustus 2026, produksi gabah kering panen di Kalimantan Timur telah mencapai lebih dari 200 ribu ton.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga menargetkan penambahan sekitar 12.000 hektare sawah baru.
Penambahan tersebut diproyeksikan meningkatkan luas sawah aktif di Kalimantan Timur dari sekitar 28.000 hektare menjadi sekitar 40.000 hektare pada 2027.
Perluasan lahan pertanian akan dikombinasikan dengan penerapan teknologi pertanian presisi untuk meningkatkan produksi.
"Penambahan lahan dan penerapan teknologi pertanian presisi tersebut diharapkan memperkuat produksi beras sekaligus mendukung target swasembada pangan Kaltim," ungkap Seno.
Peningkatan produktivitas, perluasan sawah, dan penerapan teknologi pertanian presisi diharapkan memperkuat produksi beras sekaligus mendukung pencapaian target swasembada pangan Kalimantan Timur.
- Penulis :
- Leon Weldrick




