HOME  ⁄  Ekonomi

BRIN Dorong Lahan Bekas Tambang di Kalimantan Timur Jadi Kawasan Pangan Penopang IKN

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

BRIN Dorong Lahan Bekas Tambang di Kalimantan Timur Jadi Kawasan Pangan Penopang IKN
Foto: Ilustrasi - Aktifitas petani Sidrap yang melakukan penanaman untuk Masa Tanam 2 tahun 2026 (sumber: ANTARA/Nur Suhra Wardyah)

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan kawasan percontohan Agro Techno Park (ATP) di lahan bekas tambang Kalimantan Timur untuk memperkuat ketahanan pangan dan memenuhi kebutuhan pangan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN Santoso mengatakan pengembangan tersebut tidak sekadar membuktikan bahwa ternak dapat hidup dan dipelihara di kawasan bekas pertambangan.

BRIN ingin kawasan percontohan itu menghasilkan model pertanian terpadu yang paling sesuai untuk diterapkan di lahan bekas tambang.

"Kita tidak ingin sekedar membuktikan bahwa ternak dapat dipelihara di lahan bekas tambang. Yang lebih penting adalah mengetahui model seperti apa yang tepat," kata Santoso dalam diskusi yang diikuti secara daring dari Jakarta, Kamis.

Produksi Pangan Lokal Baru Penuhi 38 Persen Kebutuhan

BRIN juga menyoroti kemampuan produksi pangan di Kalimantan Timur yang dinilai masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat setempat.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan BRIN Sindu Akhadiarto menyebut produksi beras lokal pada tahun lalu baru mampu memenuhi sekitar 38 persen dari keseluruhan kebutuhan masyarakat.

Kehadiran IKN diperkirakan semakin meningkatkan kebutuhan pangan sehingga kapasitas produksi pangan di Kalimantan Timur perlu diperkuat.

Sindu menilai pemanfaatan lahan bekas tambang dapat menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan produksi pangan di wilayah tersebut.

"Jadi apalagi nanti ada IKN. Jadi alangkah baiknya kalau kita bisa memanfaatkan lahan bekas tambang," kata Sindu.

ATP Integrasikan Peternakan hingga Perikanan

Pembangunan kawasan percontohan ATP di lahan bekas tambang direncanakan menggunakan konsep circular bioeconomy dengan mengintegrasikan sejumlah sektor produksi pangan.

Sektor yang akan dikembangkan secara terpadu meliputi peternakan, perikanan, hortikultura, dan tanaman pangan.

Menurut Sindu, salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan adalah lubang bekas galian tambang batu bara atau void.

Air di lubang bekas tambang tersebut disebut sangat jernih sehingga berpotensi digunakan untuk kegiatan budi daya perikanan.

Ikan patin menjadi salah satu komoditas yang dinilai berpotensi dibudidayakan dengan memanfaatkan air di void tersebut.

Pengembangan ATP diharapkan dapat dilakukan melalui kolaborasi antara BRIN, pemerintah daerah, dan perusahaan pertambangan.

Melalui kolaborasi tersebut, Sindu berharap kawasan ATP di lahan bekas tambang dapat berkembang menjadi mesin biologis yang mendorong kemandirian pangan nasional sekaligus menopang kebutuhan pangan IKN pada masa mendatang.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026