
Pantau - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi batu bara nasional mencapai 423,71 juta ton hingga Juli 2026, dengan sekitar 63,82 persen dialokasikan untuk pasar ekspor.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan rata-rata produksi batu bara bulanan sepanjang 2026 turun sekitar 8 juta ton dibandingkan rata-rata produksi bulanan pada 2025.
Penurunan tersebut berlangsung ketika pemerintah menerapkan pendekatan optimum production untuk menyeimbangkan tingkat produksi dengan kondisi dan kebutuhan pasar.
ESDM Seimbangkan Produksi dan Kebutuhan Pasar
Tri mengatakan, "Pendekatan kita adalah optimum production, di mana produksi ini harus diseimbangkan dengan pasar, kebutuhan pasar, DMO, kondisi harga, logistik, serta keberlanjutan cadangan."
Dari produksi sebesar 423,71 juta ton hingga Juli 2026, sebanyak 63,82 persen dialokasikan untuk ekspor, 26,86 persen digunakan memenuhi kebutuhan domestik, dan 9,32 persen menjadi stok nasional.
Sebagai perbandingan, produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 817,48 juta ton.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 63,89 persen dialokasikan untuk ekspor, 30,2 persen digunakan memenuhi kebutuhan domestik, dan 5,9 persen menjadi stok.
Pemerintah juga mengendalikan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dengan mempertimbangkan keberlanjutan pasokan batu bara dan kondisi pasar.
Kementerian ESDM menetapkan target produksi batu bara nasional dalam RKAB 2026 sekitar 600 juta ton, lebih rendah dibandingkan realisasi produksi pada 2025 yang mencapai 817,48 juta ton.
Menurut Tri, permintaan batu bara global dalam lima tahun mendatang diperkirakan turun tipis seiring semakin kuatnya penggunaan energi terbarukan di berbagai negara.
Meski demikian, India dan kawasan ASEAN dinilai masih berpotensi menjadi sumber pertumbuhan permintaan batu bara, termasuk pada 2027.
China dan India juga masih menjadi pasar utama ekspor batu bara Indonesia.
Harga Batu Bara Stabil, Logistik Jadi Perhatian
Dari sisi harga, Tri menilai tren harga batu bara relatif stabil dengan kecenderungan meningkat seiring permintaan dari pasar-pasar utama.
Harga Batu Bara Acuan (HBA) sepanjang Januari hingga Agustus 2026 rata-rata berada pada kisaran 111,8 dolar AS per ton.
HBA I untuk batu bara spesifikasi 5300 GAR tercatat sebesar 79,3 dolar AS per ton, sedangkan HBA II untuk spesifikasi 4100 GAR sebesar 54,2 dolar AS per ton.
Sementara itu, HBA III untuk batu bara spesifikasi 3400 GAR tercatat sebesar 38,3 dolar AS per ton.
Di tengah kebijakan penyesuaian produksi, pemerintah turut memberi perhatian terhadap aspek logistik karena kondisi cuaca dapat memengaruhi distribusi batu bara.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau pada 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Penurunan curah hujan di sejumlah wilayah berpotensi menurunkan debit Sungai Barito dan Sungai Mahakam yang menjadi jalur utama pengangkutan batu bara menuju pelabuhan ekspor.
Potensi penurunan debit kedua sungai tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pemerintah dalam menjaga kelancaran distribusi batu bara nasional.
- Penulis :
- Shila Glorya




