HOME  ⁄  Ekonomi

Investasi Pariwisata Tembus Rp73,56 Triliun, Menpar Dorong Investor Asing Masuk Destinasi Prioritas

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Investasi Pariwisata Tembus Rp73,56 Triliun, Menpar Dorong Investor Asing Masuk Destinasi Prioritas
Foto: Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan sambutannya dalam forum Monthly Economic Diplomatic Breakfast yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat 11/9/2026 (sumber: Kementerian Pariwisata)

Pantau - Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mendorong investor asing dan mitra internasional menanamkan modal di 13 Destinasi Prioritas dan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata untuk memperluas investasi di luar Jakarta dan Bali.

Widiyanti mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk memperluas investasi pariwisata, baik dari sisi wilayah maupun ragam usaha yang dikembangkan.

Dorongan tersebut disampaikan Widiyanti dalam forum Monthly Economic Diplomatic Breakfast bersama Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.

Realisasi investasi sektor pariwisata Indonesia sepanjang 2025 tercatat mencapai rekor Rp73,56 triliun.

Namun, sekitar 76,5 persen investasi tersebut masih terkonsentrasi di Jakarta dan Bali, sementara sekitar 75 persen investasi berupa pembangunan hotel dan restoran.

"Karenanya kami saat ini melakukan diversifikasi investasi di destinasi prioritas lainnya di luar Bali dan Jakarta," kata Widiyanti.

Danau Toba hingga Labuan Bajo Tawarkan Peluang Investasi

Pemerintah melihat sejumlah destinasi di luar Jakarta dan Bali menunjukkan pertumbuhan kunjungan wisatawan yang kuat pada awal 2026 sehingga membuka peluang bagi pemerataan investasi.

Kunjungan wisatawan ke Danau Toba pada awal 2026 tumbuh lebih dari 106 persen.

Lombok–Gili Tramena juga mencatat pertumbuhan kunjungan wisatawan sebesar 72,1 persen.

Labuan Bajo turut mencatat pertumbuhan kunjungan wisatawan secara berkelanjutan sehingga dipandang memiliki prospek pengembangan investasi pariwisata.

Peluang pemerataan investasi semakin terbuka seiring pola perjalanan wisatawan yang tidak lagi hanya berpusat di Pulau Jawa dan Bali.

Widiyanti menilai pemerataan investasi dapat memperluas manfaat ekonomi pariwisata melalui penciptaan lapangan pekerjaan, pengembangan berbagai jenis usaha, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi.

Kementerian Pariwisata juga ingin memanfaatkan dukungan KADIN Indonesia untuk mengarahkan investasi ke sektor yang lebih beragam dan tidak hanya terkonsentrasi pada pembangunan hotel serta restoran.

Investasi antara lain didorong masuk ke infrastruktur pendukung aksesibilitas pariwisata, termasuk pengembangan marina kapal pesiar.

Pemerintah turut mendorong investasi untuk menciptakan dan mengembangkan daya tarik wisata baru sehingga ekosistem pariwisata semakin kuat dan mampu membuka lebih banyak peluang ekonomi di daerah.

Pemerintah Siapkan Insentif bagi Investor Pariwisata

Pemerintah menyediakan sejumlah fasilitas dan kemudahan untuk mendorong masuknya investasi ke sektor pariwisata.

Fasilitas tersebut mencakup pengurangan pajak penghasilan atau tax allowance, insentif bagi industri padat karya, serta pembebasan bea masuk untuk peralatan wisata dan yacht.

"Pemerintah menyediakan berbagai fasilitas kemudahan, mulai dari pengurangan pajak penghasilan (tax allowance), insentif bagi industri padat karya, hingga pembebasan bea masuk untuk peralatan wisata dan yacht," kata dia.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri KADIN Indonesia James Riady mengatakan pariwisata menjadi salah satu sektor yang menunjukkan pertumbuhan sangat signifikan di tengah kondisi pertumbuhan ekonomi yang berada di bawah tekanan.

Menurut James, Indonesia memiliki karakteristik pariwisata yang unik karena berbagai aset dasarnya telah tersedia melalui kekayaan alam maupun budaya.

Pantai, laut, lokasi menyelam atau diving, hutan, serta kekayaan budaya menjadi potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata.

Tantangannya adalah mengubah berbagai potensi tersebut menjadi peningkatan jumlah kedatangan wisatawan, lama tinggal, pengeluaran wisatawan, investasi, dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Pengembangan destinasi juga perlu diarahkan agar mampu mendorong wisatawan melakukan kunjungan berulang.

"Satu karakteristik khusus lainnya dari pariwisata, ia menyentuh masyarakat dengan sangat cepat. Setiap investasi menciptakan lapangan kerja. Itulah mengapa kami percaya bahwa pariwisata layak mendapatkan porsi yang jauh lebih besar dalam strategi pertumbuhan Indonesia," katanya.

Sumatera Barat Tawarkan Tiga Klaster Investasi

Forum tersebut turut membahas tiga klaster peluang investasi pariwisata di Sumatera Barat.

Klaster pertama berupa pengembangan wisata berselancar atau surfing di Mentawai.

Klaster kedua mencakup pengembangan wisata bahari di Padang dan Mandeh.

Klaster ketiga diarahkan pada pengembangan wisata berbasis sejarah dan budaya di Sawahlunto.

Selain pengembangan destinasi, forum tersebut mendorong penguatan konektivitas udara untuk mempermudah perjalanan wisatawan menuju berbagai kawasan pariwisata.

Pengembangan infrastruktur di kawasan wisata bahari juga menjadi salah satu kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan destinasi.

Forum turut membahas pengembangan hyperbaric chamber atau ruang hiperbarik yang diharapkan mendukung promosi dan pengembangan berbagai lokasi selam di Indonesia.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026