
Pantau - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memperketat tata kelola penyerapan, pengolahan, hingga pemeliharaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk menjaga kualitas cadangan pangan nasional secara berkelanjutan.
Langkah tersebut dilakukan setelah Bulog mengevaluasi penyerapan gabah tahun sebelumnya yang menggunakan skema any quality dan menghadapi sejumlah tantangan terkait mutu hasil panen petani di berbagai wilayah produksi.
"Pengalaman ini kami evaluasi, maka di Inpres Tahun 2026 kami tambahkan klausulnya any quality dengan catatan masuk dalam usia panen. Nah itu di inpres bunyinya," kata Rizal di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan Rizal saat menerima kunjungan kerja Ketua Komisi VI DPR RI Anggia Erma Rini bersama jajaran di Pusat Komando dan Pengendalian Bulog terkait penanganan pangan bagi korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bulog Awasi Gabah Sejak Tahap Panen
Evaluasi tersebut menjadi dasar Bulog memperbaiki mekanisme penyerapan pada 2026 dengan mensyaratkan gabah any quality berasal dari usia panen yang sesuai agar dapat diolah menjadi beras pemerintah.
Dalam pelaksanaannya, Bulog melibatkan Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), serta penyuluh pertanian lapangan (PPL).
Pelibatan sejumlah pihak tersebut dilakukan untuk memastikan gabah yang akan dibeli Bulog memenuhi persyaratan sejak tahap panen.
"Makanya di tim serap gabah kami, di tiap-tiap desa itu melibatkan Babinsa, Bhabinkamtibmas, teman-teman PPL. Nah jadi nanti setelah ada rekomendasi PPL mana yang dipanen, itu yang dibeli Bulog. Ini untuk menjaga kualitasnya supaya memenuhi syarat," bebernya.
Pengawasan sejak awal dilakukan karena kualitas gabah menjadi salah satu faktor yang menentukan mutu beras hasil pengolahan sekaligus keberlanjutan cadangan pangan pemerintah.
Setelah gabah diserap, Bulog menggandeng penggilingan mikro di daerah yang telah tersertifikasi untuk menghasilkan beras sesuai standar mutu, termasuk dari sisi pecahan dan kadar air.
"Nah, diolah ini kami bermitra sesuai dengan arahan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) agar memprioritaskan mitra-mitra penggilingan mikro, yang kecil-kecil, bukan yang besar-besar. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di daerah," kata dia.
Sertifikasi dilakukan untuk memastikan setiap mitra penggilingan memiliki kemampuan memenuhi standar produksi sebelum mengolah beras untuk cadangan pemerintah.
Beras Turun Mutu Diolah Menjadi Tepung
Bulog juga menerapkan pemeliharaan stok secara bertahap, bertingkat, dan berkelanjutan melalui pemeriksaan harian, mingguan, bulanan, hingga semester.
Pemeliharaan tersebut mencakup rotasi posisi penyimpanan agar beras yang berada di bagian bawah maupun atas gudang tetap terjaga kualitasnya.
Beras yang mengalami penurunan mutu setelah disimpan lebih dari delapan bulan akan dihilirisasi menjadi tepung beras.
Rizal mengatakan keputusan dalam Rapat Koordinasi Terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan sebelumnya telah memberikan ruang bagi Bulog untuk melelang pengelolaan beras turun mutu sebagai bahan baku tepung beras.
Sekitar 380.000 ton beras turun mutu akan dialihkan untuk produksi tepung beras sebagai bagian dari pemanfaatan stok yang kualitasnya menurun selama penyimpanan.
- Penulis :
- Aditya Yohan




