HOME  ⁄  Nasional

Semarang Kembali Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional Setelah 47 Tahun, Toleransi dan Ekonomi Daerah Menguat

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Semarang Kembali Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional Setelah 47 Tahun, Toleransi dan Ekonomi Daerah Menguat
Foto: Sejumlah penari membawakan tari kolosal Jejak Langit di Tanah Jawa saat pembukaan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu 12/9/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Makna Zaezar)

Pantau - Kota Semarang, Jawa Tengah, kembali mencatat sejarah dengan menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI pada 11–20 September 2026 setelah terakhir kali menjadi lokasi penyelenggaraan MTQ tingkat nasional pada 1979.

Pada 1979, Semarang menjadi tuan rumah MTQ ke-XI sehingga penyelenggaraan tahun ini menandai kembalinya ajang tersebut ke Ibu Kota Jawa Tengah setelah 47 tahun.

MTQ Nasional XXXI diikuti 2.242 peserta yang terdiri atas 1.751 peserta inti dan 491 peserta cadangan.

Para peserta berkompetisi dalam delapan cabang yang terbagi menjadi 24 golongan lomba dengan total 48 kategori.

Pelaksanaan berbagai perlombaan tersebar di 12 lokasi di Kota Semarang.

Secara keseluruhan, sedikitnya lebih dari 7.000 orang hadir selama rangkaian MTQ Nasional XXXI berlangsung.

MTQ Dongkrak Perputaran Ekonomi Semarang

Penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI turut memberikan dampak ekonomi bagi Kota Semarang dan Jawa Tengah.

Berdasarkan perhitungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Badan Pusat Statistik setempat, perputaran uang selama kegiatan diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun.

Perputaran ekonomi tersebut tidak hanya berasal dari kebutuhan utama peserta dan pengunjung berupa akomodasi, transportasi, serta konsumsi, tetapi juga pembelian oleh-oleh, perlengkapan tambahan, dan kegiatan wisata lokal.

Pemerintah daerah turut mendukung kemeriahan MTQ melalui berbagai kegiatan selama September 2026, salah satunya Festival Kota Lama di Kawasan Kota Lama Semarang.

Festival Kota Lama berlangsung pada 4–20 September dengan menghadirkan berbagai kegiatan seni dan hiburan, seperti wayang on the street, festival musik jazz, pertunjukan seni budaya, dan pasar malam.

Pengunjung yang ingin menikmati suasana pegunungan sekaligus menghindari cuaca panas Semarang dapat mengunjungi Bandungan di Kabupaten Semarang yang relatif dekat dari pusat kegiatan.

Pilihan lainnya adalah Dataran Tinggi Dieng di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo yang dapat ditempuh sekitar empat jam dari Semarang dalam kondisi perjalanan santai.

Di Dieng, pengunjung berpeluang merasakan suhu di bawah 5 derajat Celsius dan dapat menjumpai embun upas pada pagi hari apabila suhu turun hingga di bawah nol derajat Celsius.

Jejak Akulturasi Terekam dalam Kuliner Semarang

Selain wisata alam, Semarang menawarkan beragam kuliner yang berkaitan erat dengan perjalanan sejarah kota sebagai salah satu pusat perdagangan dan jalur kuliner penting sejak era kolonial.

Bersama Jakarta dan Surabaya, Semarang menjadi salah satu pusat pelabuhan utama di Pulau Jawa pada masa Hindia Belanda sehingga menjadi tempat pertemuan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Interaksi masyarakat pribumi, Tionghoa, Arab, dan Eropa kemudian melahirkan berbagai bentuk akulturasi budaya yang turut terlihat dalam makanan dan jajanan pasar tradisional Semarang.

Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan melalui sejumlah tempat makan yang telah beroperasi sejak era kolonial, termasuk Toko Oen di Kawasan Kota Lama Semarang.

Salah satu kuliner khas Semarang yang melegenda adalah Roti Ganjel Rel yang merupakan hasil modifikasi lokal dari kue khas Belanda bernama ontbijtkoek atau bolu rempah bertekstur lembut.

Mahalnya bahan baku ontbijtkoek pada masa kolonial mendorong masyarakat setempat memodifikasi resep menggunakan tepung singkong atau gaplek dan gula jawa.

Modifikasi tersebut menghasilkan roti berwarna cokelat dengan tekstur padat dan keras, beraroma kayu manis, serta memiliki taburan wijen.

Tekstur yang sangat padat dan bentuk menyerupai balok membuat masyarakat Semarang menyamakannya dengan kayu pengganjal rel kereta api sehingga dikenal sebagai Ganjel Rel.

Kuliner lain yang menjadi bagian dari sejarah Semarang adalah loenpia atau lumpia yang disebut lahir pada akhir abad ke-19 di kawasan Pasar Johar.

Lumpia Semarang dikaitkan dengan kisah Tjoa Thay Yoe, imigran asal Fujian, China, yang menikah dengan Mbak Wasih, warga pribumi Jawa.

Keduanya memodifikasi resep masing-masing sehingga makanan tersebut dapat dinikmati berbagai kalangan, termasuk masyarakat muslim dan tamu kolonial Belanda pada masa itu.

Pembukaan MTQ Tampilkan Toleransi Lintas Agama

Semangat keberagaman menjadi salah satu unsur menonjol dalam penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI di Semarang.

Kota Semarang saat ini dipimpin Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti yang memenangkan Pilkada Kota Semarang 2024 bersama Iswar Aminuddin.

Pasangan yang diusung PDI Perjuangan dan empat partai nonparlemen tersebut memperoleh 486.423 suara atau 57,24 persen dari total suara sah.

Agustina yang beragama Katolik disebut serius mempersiapkan Semarang sebagai tuan rumah MTQ Nasional XXXI melalui rapat rutin yang melibatkan berbagai sektor.

Pemerintah Kota Semarang juga memperoleh dukungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam mempersiapkan penyelenggaraan MTQ.

Semangat toleransi Semarang turut tercermin dalam Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang dirilis SETARA Institute.

Semarang mempertahankan peringkat ketiga secara nasional dengan skor 6,160 dalam pengukuran yang melibatkan 94 kota di Indonesia.

Penilaian tersebut melihat pengelolaan keberagaman, kebebasan beragama, dan inklusi sosial berdasarkan empat variabel utama berupa regulasi pemerintah kota, tindakan nyata pemerintah, regulasi sosial, dan demografi agama.

Nuansa toleransi juga terlihat saat pembukaan MTQ Nasional XXXI melalui keterlibatan tim paduan suara dari 87 gereja.

Warga dari berbagai unsur agama, termasuk Guru Sekolah Minggu, perwakilan Paroki Gereja Katolik, vihara, pura, dan kelenteng turut berdiri bersama serta menyanyikan Mars MTQ Nasional.

Keterlibatan tersebut mengantarkan Semarang mencatat rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori menyanyikan Mars MTQ dengan peserta terbanyak saat pembukaan MTQ Nasional.

Sebanyak 24.957 peserta hadir langsung di kawasan Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, sedangkan 263.262 peserta lainnya bergabung secara daring.

Peserta daring berasal dari sekolah tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK serta berbagai instansi di seluruh Kota Semarang.

Pemecahan rekor tersebut tidak hanya melibatkan umat Islam karena sebanyak 10.867 warga lintas agama dari kalangan Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu turut berpartisipasi.

Menteri Agama Ingin MTQ Digelar Setiap Tahun

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan kebanggaannya terhadap kemeriahan pembukaan MTQ Nasional XXXI yang turut dihadiri sejumlah kepala daerah dari berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Ahmad Luthfi, sebanyak 14 gubernur hadir dalam pembukaan, yakni dari Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, dan Jawa Tengah.

Selain itu, tujuh wakil gubernur dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Sumatra Barat, Lampung, Sumatra Utara, Kalimantan Tengah, Papua Barat Daya, dan Jawa Tengah turut menghadiri kegiatan tersebut.

Sejumlah kepala daerah tingkat kabupaten dan kota juga hadir dalam pembukaan MTQ Nasional XXXI.

Melihat kemeriahan penyelenggaraan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menargetkan MTQ pada masa mendatang dapat digelar setiap tahun dan tidak lagi berlangsung dua tahun sekali.

Nasaruddin memandang MTQ sebagai pesta rakyat terbesar di Indonesia dan menilai kemeriahan penyelenggaraannya tidak ditemukan dalam skala serupa di negara lain.

Penyelenggaraan MTQ juga diharapkan semakin mempererat simbol persatuan di berbagai wilayah Indonesia.

Semangat tersebut sejalan dengan pandangan yang kerap disampaikan Presiden Prabowo Subianto bahwa negara yang kuat harus memiliki fondasi yang kuat, termasuk dalam aspek keagamaan.

Melalui MTQ Nasional XXXI, Kota Semarang tidak hanya menjadi arena kompetisi keagamaan, tetapi juga menampilkan keterlibatan lintas agama sebagai bagian dari toleransi, kebersamaan, dan persatuan.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026