
Pantau - Transisi menuju ekonomi rendah karbon berpeluang menjadi mesin baru industrialisasi Indonesia melalui investasi teknologi bersih, penguatan rantai pasok domestik, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Peluang tersebut muncul seiring pergeseran sektor energi dan transportasi global yang memperluas pasar kendaraan listrik, energi terbarukan, sistem penyimpanan energi, serta teknologi efisiensi.
Indonesia memiliki modal berupa pasar domestik yang besar dan basis manufaktur dengan industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen secara tahunan pada triwulan II-2026.
Industri pengolahan nonmigas menyumbang 16,83 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 19,99 juta tenaga kerja.
Nilai tambah manufaktur Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 275,61 miliar dolar AS, terbesar di Asia Tenggara dan menempati peringkat ke-12 dunia.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy memperkirakan ekonomi hijau berpotensi menciptakan sekitar 1,2 juta lapangan kerja setiap tahun sekaligus mendorong pertumbuhan PDB rata-rata 6–7 persen per tahun.
Industri Kendaraan Listrik Jadi Penggerak Rantai Pasok
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menyebut populasi kendaraan listrik di Indonesia telah mencapai sekitar 541 ribu unit dengan investasi industri perakitan mendekati Rp30 triliun.
Pertumbuhan tersebut dinilai perlu diarahkan untuk memperkuat industri komponen dan penguasaan teknologi, bukan hanya memperluas pasar kendaraan listrik.
Pemerintah mendorong pendalaman industri melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan peta jalan industri kendaraan listrik menetapkan TKDN minimum sebesar 40 persen pada 2026, 60 persen pada 2027–2029, dan 80 persen mulai 2030.
Sebanyak 14 perusahaan saat ini telah berinvestasi di sektor kendaraan listrik roda empat dengan nilai Rp24,13 triliun dan kapasitas produksi mencapai 409.860 unit per tahun.
Kebijakan TKDN diarahkan agar investasi tersebut semakin melibatkan industri komponen dan rantai pasok dalam negeri.
Kemampuan memproduksi komponen kendaraan listrik juga berpotensi menjadi fondasi pengembangan sistem penyimpanan energi battery energy storage, teknologi efisiensi industri, dan berbagai peralatan pendukung rendah karbon.
Pemerintah turut mengkaji insentif berbasis TKDN untuk meningkatkan penggunaan komponen lokal sekaligus mendorong investasi agar tidak berhenti pada tahap perakitan.
Transfer Pengetahuan Jadi Kunci Penguatan Industri
Ketua Umum Komunitas Anak Muda Amankan Indonesia (AMAN) James Karnadi menilai Indonesia harus berperan aktif dalam produksi, inovasi, dan penciptaan nilai tambah teknologi rendah karbon.
Transfer pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan ekosistem industri lokal menjadi bagian penting agar investasi menghasilkan kemampuan produksi domestik.
Proses pembelajaran dalam kegiatan produksi diharapkan meningkatkan kapasitas perusahaan dalam negeri sehingga tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan solusi sendiri.
Nilai strategis transisi rendah karbon bagi Indonesia pada akhirnya bergantung pada kemampuan mengubah perubahan teknologi global menjadi kapasitas produksi, pengetahuan, lapangan kerja, dan daya saing industri domestik.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




