HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat ke 6.496,79 di Tengah Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Menguat ke 6.496,79 di Tengah Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Foto: (Sumber :Pengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (7/8/2026). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/agr.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak menguat pada perdagangan Rabu (16/9/2026) pagi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed.

Setelah dibuka melemah, IHSG pada pukul 09.15 WIB naik 35,64 poin atau 0,55 persen menjadi 6.496,79.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga menguat 1,86 poin atau 0,29 persen menjadi 652,62.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memperkirakan pergerakan IHSG masih menghadapi tekanan dengan rentang teknikal tertentu.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.440-6.600,” ujar Nico.

Pasar Perkirakan The Fed Naikkan Suku Bunga

Nico mengatakan pasar global tengah menghadapi kombinasi ketidakpastian perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran, harga minyak yang melewati 100 dolar AS per barel, potensi peningkatan inflasi, serta imbal hasil obligasi US Treasury tenor 10 tahun yang mencapai 5,04 persen.

Berdasarkan kondisi tersebut, data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada rapat FOMC September 2026 telah mencapai kisaran 92-93 persen.

“Kondisi tersebut membuat The Fed sulit rasanya untuk tidak menaikkan tingkat suku bunganya,” ujar Nico.

Menurut Nico, apabila The Fed mempertahankan suku bunga acuannya, pelaku pasar dan investor diperkirakan tetap menuntut imbal hasil obligasi US Treasury yang lebih tinggi.

Di tengah tekanan tersebut, AS dan China disebut tengah membahas pengurangan tarif terhadap sejumlah barang tertentu, termasuk energi dan produk pertanian dari AS.

Nico menilai perkembangan tersebut membuka peluang perpanjangan gencatan perang dagang antara kedua negara.

“Sehingga kami yakin adanya sebuah harapan baru bahwa gencatan perang dagang berpotensi ditambah satu tahun lagi,” ujar Nico.

China juga disebut memenuhi komitmen pembelian 25 juta ton kedelai dari AS setiap tahun hingga 2028 serta produk pertanian lainnya senilai hampir 17 miliar dolar AS.

“Setidaknya, di tengah gersangnya pasar saat ini, hubungan yang mesra dapat membuat segalanya dapat dilewati dengan baik,” ujar Nico.

Utang Luar Negeri Indonesia Capai 453,4 Miliar Dolar AS

Dari dalam negeri, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per Juli 2026 tercatat mencapai 453,4 miliar dolar AS atau tumbuh 4,9 persen secara year on year (yoy).

Dari jumlah tersebut, ULN publik tercatat 218,4 miliar dolar AS dan ULN swasta 194,6 miliar dolar AS.

ULN pemerintah terutama digunakan untuk sektor kesehatan, administrasi, pendidikan, konstruksi, dan transportasi serta didominasi utang jangka panjang.

Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 30,7 persen.

“Kami menilai kenaikan ULN Indonesia terutama dari sektor publik masih relatif terkendali karena didominasi utang jangka panjang dan digunakan untuk pembiayaan sektor produktif," ujar Nico.

Namun, kenaikan biaya pengiriman minyak AS menuju Asia akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah dinilai berpotensi meningkatkan tekanan biaya energi dan impor.

“Kami memperkirakan kondisi ini perlu dicermati terhadap stabilitas rupiah dan beban pembayaran eksternal, meski rasio ULN terhadap PDB sebesar 30,7 persen masih menunjukkan ruang pengelolaan utang," ujar Nico.

Pada perdagangan Selasa (15/9/2026), bursa Eropa dan Wall Street ditutup mayoritas melemah.

Bursa saham Asia pada Rabu pagi juga didominasi pelemahan dengan Nikkei turun 0,13 persen, Shanghai 0,54 persen, Kospi 0,30 persen, dan Hang Seng 1 persen, sedangkan Straits Times menguat 0,20 persen.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026