HOME  ⁄  Nasional

Hidayat Nur Wahid Ajak Generasi Muda Sumbar Siapkan Diri Hadapi Indonesia Emas 2045

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Hidayat Nur Wahid Ajak Generasi Muda Sumbar Siapkan Diri Hadapi Indonesia Emas 2045
Foto: (Sumber :Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, saat menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada generasi muda di Kota Padang, Sumatra Barat.)

Pantau - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengajak generasi muda Sumatra Barat mulai meningkatkan kapasitas dan memberikan kontribusi bagi bangsa sebagai persiapan menghadapi Indonesia Emas 2045.

Ajakan tersebut disampaikan HNW dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang bekerja sama dengan Dewan Pimpinan Wilayah Gema Keadilan Sumatra Barat di Kantor DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sumatra Barat, Kota Padang, Minggu (13/9/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota Fraksi PKS MPR RI sekaligus Presiden Gema Keadilan Rahmat Saleh.

Menurut HNW, sejarah Indonesia menunjukkan sejumlah tokoh yang kemudian menjadi pendiri bangsa telah membangun gagasan, berjuang, dan mengambil peran ketika masih berusia muda.

“Diusia kalian sekarang, dahulu para pendiri bangsa sudah memberikan kontribusi yang sangat bermakna bagi persiapan Indonesia merdeka. Karena itu, generasi muda sekarang juga harus mulai mempersiapkan diri dan memberikan kontribusi terbaiknya bagi bangsa dan negara,” ujar HNW.

HNW Angkat Kiprah Tokoh Muda Ranah Minang

HNW mengajak generasi muda mempelajari perjalanan tokoh asal Ranah Minang seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Mohammad Yamin, dan Mohammad Natsir yang telah terlibat dalam gerakan kebangsaan sejak usia muda.

Ia mencontohkan Mohammad Hatta yang lahir pada 1902 dan telah aktif dalam pergerakan kebangsaan ketika berusia 20-an.

“Bung Hatta lahir pada 1902. Artinya, pada 1926 beliau baru berusia 24 tahun. Tetapi pada usia itu Bung Hatta sudah memimpin Perhimpunan Indonesia, semakin aktif menyuarakan Indonesia merdeka dan membangun perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia,” ungkap HNW.

HNW juga mengangkat kiprah Haji Oemar Said Tjokroaminoto yang aktif dalam pergerakan kebangsaan dan menjadi mentor bagi sejumlah tokoh muda, termasuk Soekarno.

“Artinya, menjadi muda bukan alasan untuk tidak berbuat sesuatu bagi bangsa. Justru pada usia muda itulah seseorang dapat mulai membangun gagasan, meningkatkan kapasitas, berorganisasi, dan memberikan kontribusi,” tegas HNW.

Tokoh perempuan Sumatra Barat Rahmah El Yunusiyyah turut dijadikan contoh karena telah mendirikan Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang pada 1 November 1923 ketika usianya belum genap 23 tahun.

“Inilah pentingnya kita mempelajari sejarah, bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk mengukur dan menjadikannya sebagai spirit penyemangat. Sejarah adalah cermin dan pelajaran yang sangat berguna bagi perjalanan hidup kita sekarang dan ke depan,” ujar HNW.

Menurut HNW, generasi muda saat ini dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, kreativitas, dan kemampuan yang dimiliki untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan.

Empat Pilar Disebut Jadi Bekal Generasi Muda

HNW mengatakan pemahaman terhadap Empat Pilar MPR RI menjadi salah satu bekal bagi generasi muda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Empat Pilar tersebut meliputi Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi, NKRI sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

“Dalam konteks kami di MPR, Sosialisasi Empat Pilar itu sangat penting karena merupakan bagian dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang harus dijalankan untuk kemaslahatan bangsa, termasuk generasi mudanya,” kata HNW.

HNW menilai persiapan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik dan perkembangan teknologi, tetapi juga membutuhkan generasi yang memiliki kompetensi, karakter, integritas, semangat kebangsaan, dan kepedulian terhadap masa depan.

“Diusia-usia kalian inilah dahulu para pahlawan bangsa dari Ranah Minang dan berbagai daerah lain memberikan kontribusi yang sangat bermakna bagi persiapan Indonesia merdeka. Mereka belajar di luar negeri, di dalam negeri, bahkan belajar secara otodidak, kemudian memberikan kemampuan terbaiknya bagi kemerdekaan Indonesia,” tutur HNW.

“Kalau sejarah adalah pengulangan, maka demikian jugalah mestinya generasi muda sekarang menghadapi Indonesia Emas, dua puluh tahun yang akan datang, dengan menyiapkan diri sebaik-baiknya agar menjadi generasi yang ‘emas’. Karena mereka yang akan sukses di era Indonesia Emas adalah generasi berkualitas emas, bukan yang tidak berkualitas karena pemalas, apalagi pencemas,” pungkas HNW.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026