
Pantau - Bank Indonesia (BI) tengah menjajaki potensi kerja sama penggunaan QRIS Cross Border dengan Arab Saudi, India, Vietnam, dan Australia untuk memperluas konektivitas sistem pembayaran Indonesia secara internasional.
Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) Bank Indonesia Fitria Irmi Triswati mengatakan penjajakan dilakukan melalui komunikasi dan pertemuan dengan pihak terkait di masing-masing negara.
"Kita sedang menjajaki dengan teman-teman di India, dengan teman-teman di Saudi Arabia, dengan teman-teman di Vietnam, kemudian juga Australia kita juga rapat bareng, kita jajaki (potensi kerja sama). Jadi regional payment connectivity itu semakin luas. Nanti tidak hanya dengan QRIS, tapi juga dengan BI-FAST-nya di Indonesia," ungkap Fitria.
Pengembangan konektivitas pembayaran regional tersebut ke depan tidak hanya diarahkan melalui QRIS, tetapi juga berpotensi melibatkan BI-FAST sebagai infrastruktur sistem pembayaran Indonesia.
Transaksi QRIS Tembus 15 Miliar
Fitria menjelaskan penggunaan QRIS berkembang pesat sejak sistem pembayaran tersebut mulai diadopsi pada 2019.
Perkembangan QRIS semakin cepat saat pandemi COVID-19 karena pembayaran menggunakan kode QR menjadi salah satu solusi transaksi bagi masyarakat.
Saat ini, transaksi menggunakan QRIS telah mencapai sekitar 15 miliar transaksi dari target sebanyak 17 miliar transaksi.
Jumlah merchant atau unit usaha yang menggunakan QRIS juga telah mencapai sekitar 45 juta merchant dari target sebanyak 47 juta merchant.
Sementara itu, jumlah pengguna QRIS telah mencapai sekitar 78 juta orang dan melampaui target sebanyak 70 juta pengguna.
Selain memperluas penggunaan QRIS di dalam negeri, BI terus mengembangkan QRIS Cross Border agar dapat digunakan untuk transaksi lintas negara.
QRIS Cross Border saat ini telah terhubung dengan enam negara dari target sebanyak delapan negara.
Keenam negara tersebut adalah Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China.
Penjajakan kerja sama dengan Arab Saudi, India, Vietnam, dan Australia menjadi bagian dari upaya memperluas konektivitas pembayaran lintas negara.
BI Kembangkan CPM hingga QRIS-Tap
Fitria menekankan perluasan penggunaan QRIS di berbagai negara perlu menyesuaikan kebiasaan dan budaya pembayaran masyarakat setempat agar dapat diterima secara lebih luas oleh pengguna maupun merchant.
Masyarakat Jepang dan Korea Selatan, misalnya, cenderung menyukai mekanisme ketika merchant melakukan pemindaian terhadap kode QR milik pelanggan.
Sementara masyarakat di sejumlah negara Eropa disebut lebih menyukai mekanisme tap untuk mempermudah transaksi tanpa harus melakukan pemindaian kode QR.
Perbedaan kebiasaan tersebut membuat pengembangan QRIS tidak hanya dilakukan dengan menambah jumlah negara yang terhubung, tetapi juga meningkatkan kualitas dan cakupan merchant penerima transaksi.
BI turut memperluas fitur pembayaran agar penggunaan QRIS tidak hanya terbatas pada mekanisme scan.
Fitur yang dikembangkan antara lain Customer Presented Mode (CPM), QRIS Tanpa Tatap Muka (TTM), serta QRIS-Tap.
"Jadi perluasan negaranya, kemudian perluasan kualitas merchant-nya, dan juga perluasan fitur-fitur yang tadi. Jadi tidak hanya scan, tetapi juga CPM (Customer Presented Mode/QRIS Tanpa Tatap Muka (TTM)), dan juga QRIS-Tap," ujar Fitria.
Melalui perluasan negara mitra, peningkatan kualitas merchant, dan pengembangan fitur pembayaran, BI berupaya memperluas konektivitas pembayaran regional sekaligus mempermudah transaksi lintas negara bagi pengguna QRIS.
- Penulis :
- Shila Glorya




