HOME  ⁄  Ekonomi

ESDM Bidik Investor PLTB, Energi Angin Disiapkan Jadi Penopang PLTA Saat Debit Air Menyusut

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

ESDM Bidik Investor PLTB, Energi Angin Disiapkan Jadi Penopang PLTA Saat Debit Air Menyusut
Foto: Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi ketika dijumpai setelah Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu 16/9/2026 (sumber: ANTARA/Putu Indah Savitri)

Pantau - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berupaya menarik investor untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang diarahkan menjadi kombinasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), terutama ketika debit air menyusut pada musim kemarau.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan investasi PLTB belum masuk dalam kurun sekitar empat tahun terakhir meski energi angin dinilai berpotensi menopang produksi listrik ketika pembangkit hidro mengalami penurunan.

"Sampai saat ini, sampai empat tahun ke belakang itu, investasi PLTB belum ada. Padahal sangat bagus kalau kita panen angin di saat airnya surut," ungkap Eniya setelah Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Rabu.

ESDM Petakan Potensi PLTB di Sejumlah Wilayah

Eniya menjelaskan angin di Indonesia dapat berembus sepanjang hari atau selama 24 jam pada musim kemarau yang berlangsung sekitar Juni, Juli, Agustus, September, bahkan hingga pertengahan Oktober.

Menurut dia, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik ketika aliran air di sungai yang menjadi sumber pembangkit hidro mengalami penyusutan.

"Apalagi dipicu panas yang berkepanjangan, justru anginnya tambah tinggi," ungkap Eniya.

Eniya meyakini karakteristik tersebut membuat PLTB dapat menjadi kombinasi yang tepat bagi PLTA karena produksi pembangkit berbasis air dapat terpengaruh saat musim kemarau.

Kementerian ESDM telah memetakan sejumlah wilayah yang memiliki potensi pengembangan PLTB, antara lain Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Potensi energi angin juga terdapat di sejumlah wilayah Indonesia Timur, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku.

Eniya juga mengungkapkan pihak JETP telah menawarkan fasilitas pinjaman dengan skema very soft loan yang kemudian diarahkan untuk mendukung pengembangan PLTB dan PLTS terapung.

"Kemarin saya didatangi oleh JETP, ya. Itu menawarkan pinjaman, very soft loan, gitu. Saya sih mengarahkannya untuk ke angin atau PLTS terapung, karena untuk mengakselerasi. Dengan demikian, kita bisa segera juga menjual karbonnya," ungkap Eniya.

Pemanfaatan pembiayaan tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembangan proyek energi terbarukan sekaligus membuka peluang penjualan karbon dari pengembangan energi bersih.

Produksi Pembangkit Hidro Sulbagsel Turun 600 MW

Sementara itu, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menjelaskan sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) dalam beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan akibat menurunnya daya mampu sejumlah pembangkit hidro.

Kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Nino menyebabkan produksi PLTA Poso, PLTA Bakaru, PLTA Malea, serta sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) mengalami penurunan.

Daya mampu agregat pembangkit hidro yang sebelumnya berada di kisaran 850 MW turun menjadi sekitar 250 MW atau berkurang sekitar 600 MW.

Pada saat yang sama, PLTU Jeneponto milik swasta berkapasitas 2 x 100 MW sedang menjalani perbaikan yang terkendala gangguan teknis sehingga turut mengurangi pasokan listrik.

Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik dalam sistem Sulbagsel.

PLN menjalankan sejumlah langkah secara simultan untuk meningkatkan pasokan, mulai dari mempercepat perbaikan pembangkit hingga mengoptimalkan pembangkit yang masih tersedia.

PLN juga menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit hingga 627 MW.

Selain itu, PLN berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna meningkatkan potensi ketersediaan air bagi pembangkit hidro.

Namun, kondisi atmosfer yang sangat kering membuat ketersediaan awan yang dapat disemai masih terbatas.

PLN Siapkan PLTS 5,2 GWp dan BESS 8,2 GWh

Untuk jangka panjang, PLN menyiapkan penguatan sistem kelistrikan Sulbagsel agar memiliki sumber pasokan yang lebih beragam, fleksibel, dan resilien dalam menghadapi dinamika pasokan listrik.

Sesuai arahan Presiden melalui program PLTS 100 GW, PLN akan memperkuat sistem Sulbagsel dengan sekitar 5,2 GWp Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Penguatan tersebut juga akan dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 8,2 GWh untuk mendukung sistem kelistrikan Sulbagsel.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026