
Pantau - Ketua Koalisi Bersama (Kobar) Lawan Dengue dr. H. Suir Syam mendorong pengendalian dengue secara terpadu dengan melibatkan berbagai pihak karena penyakit tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga aktivitas dan kondisi keuangan keluarga.
"Dengue masih menjadi persoalan kesehatan yang serius karena setiap tahun masih merenggut nyawa, tetapi ini bukan penyakit yang tidak dapat dikendalikan," katanya dalam keterangan Takeda di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Menurut Suir Syam, pencegahan perlu menjadi kebiasaan masyarakat melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus, deteksi dini, pengendalian vektor, serta edukasi secara berkelanjutan.
Siaran pers Takeda menyebut studi Center for Health Financing Policy and Insurance Management (Pusat KPMAK) Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan beban ekonomi dengue di Indonesia mencapai 550,9 juta dolar AS atau hampir Rp9 triliun pada 2024.
Studi yang dipresentasikan dalam Asia Dengue Summit ke-9 di Singapura pada Juni 2026 tersebut juga mencatat lebih dari dua juta kunjungan rawat inap akibat dengue pada tahun yang sama.
Pasien JKN Masih Keluarkan Biaya Mandiri
Peneliti senior UGM Dr. Diah Ayu Puspandari mengatakan beban biaya akibat dengue tidak hanya berasal dari pengobatan.
"JKN belum menghapus beban ekonomi di tingkat rumah tangga. Pasien yang tercakup JKN tetap akan mengeluarkan biaya mandiri rata-rata Rp1,09 juta hingga Rp1,33 juta per episode," katanya.
Pengeluaran tersebut antara lain meliputi transportasi, konsumsi, akomodasi pendamping, serta hilangnya pendapatan ketika pasien atau anggota keluarga yang mendampingi tidak dapat bekerja.
Sementara itu, pasien tanpa asuransi diperkirakan harus menanggung biaya Rp4,27 juta hingga Rp5,60 juta per episode.
Diah mengatakan beban tersebut dapat semakin berat bagi keluarga berpenghasilan rendah karena satu episode dengue bisa menyerap sebagian besar pengeluaran rumah tangga dalam satu bulan.
Dengue juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari karena anak berpotensi tidak masuk sekolah dan orang tua harus meninggalkan pekerjaan untuk merawat anggota keluarga yang sakit.
PSN hingga Inovasi Kesehatan Perkuat Pencegahan
Masyarakat dapat mengurangi risiko penularan dengan menguras tempat penampungan air, menutup wadah yang dapat menampung air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Pemantauan genangan air di sekitar rumah dan pemeriksaan jentik secara berkala juga menjadi bagian dari upaya pencegahan.
Selain pengendalian lingkungan, pencegahan dengue dapat diperkuat melalui berbagai inovasi kesehatan, termasuk teknologi Wolbachia dan vaksinasi dengue sesuai kebijakan pemerintah.
Studi analisis efektivitas biaya yang dilakukan Center for Child Health (CCHPRO) UGM menunjukkan vaksinasi dengue pada anak usia sekolah berpotensi menjadi intervensi yang hemat biaya.
Suir Syam mengatakan upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dunia usaha, media, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat.
"Ini saatnya kita melihat pencegahan sebagai investasi, bukan sekadar biaya," katanya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




