HOME  ⁄  Ekonomi

Kepala Barantin ‘Spill’ Ekspor Tanaman Hias RI Tembus Rp3,5 Triliun ke 96 Negara

Oleh Khalied Malvino
SHARE   :

Kepala Barantin ‘Spill’ Ekspor Tanaman Hias RI Tembus Rp3,5 Triliun ke 96 Negara
Foto: Ekspor florikultura Indonesia tembus Rp3,51 triliun ke 96 negara hingga pertengahan September 2026, Kepala Barantin Abdul Kadir Karding (kedua dari kiri) tegaskan sektor ini bukan sekadar hobi. (PANTAU/Khalied Malvino)

Pantau - Nilai ekspor komoditas florikultura Indonesia mencapai Rp3,51 triliun sepanjang 1 Januari hingga 14 September 2026, dengan volume 59,6 juta komoditas yang menjangkau 96 negara tujuan.

Capaian tersebut diumumkan Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding saat membuka Floriculture Indonesia International (FLOII) Expo 2026 di Tangerang, Kamis (17/9/2026).

Menurut Karding, angka tersebut menunjukkan bahwa tanaman hias dan florikultura tidak lagi bisa dipandang sebatas hobi, melainkan sektor dengan potensi ekonomi yang nyata.

"Keindahan tanaman harus mampu kita transformasikan menjadi nilai tambah dan daya saing Indonesia. Florikultura bukan sekadar hobi, melainkan bagian penting dari ekonomi hijau, industri kreatif, inovasi, penyerapan lapangan kerja, dan peluang ekspor nasional," ujar Karding.

Pertemukan Petani hingga Pemerintah

Pameran florikultura internasional bertajuk ‘United by Nature’ ini mempertemukan berbagai unsur industri, mulai dari petani, breeder, nursery, pelaku usaha, hingga pemerintah.

Menurut Karding, kolaborasi antarpihak diperlukan agar besarnya biodiversitas dan potensi tanaman Indonesia dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sekaligus berdaya saing di pasar internasional.

Jangkauan Negara Bertambah

Berdasarkan data sistem layanan karantina Best Trust per 14 September 2026, capaian ekspor florikultura pada 2026 sebenarnya belum melampaui raihan sepanjang 2025, yang tercatat sebesar Rp4,42 triliun dengan volume 93,9 juta komoditas ke 95 negara.

Meski begitu, jangkauan pasar justru meluas — dari 95 negara pada 2025 menjadi 96 negara hanya dalam periode Januari hingga pertengahan September 2026.

Sejumlah komoditas yang tercatat dalam ekspor tersebut antara lain bunga krisan, bibit krisan, bibit lilium, bibit Saintpaulia, tanaman akuarium, hingga berbagai bibit tanaman hias lainnya.

Reputasi Jadi Taruhan

Barantin menegaskan, pengembangan pasar florikultura harus dibarengi dengan pemenuhan persyaratan karantina dan ketentuan negara tujuan.

Pasalnya, perdagangan tanaman lintas negara tidak hanya menyangkut kepentingan ekonomi, tetapi juga risiko penyebaran organisme pengganggu tumbuhan serta perlindungan biodiversitas.

"Ketika tanaman Indonesia terbang ke luar negeri, yang kita bawa bukan sekadar komoditasnya, namun juga nama baik, reputasi, dan kepercayaan pasar dunia terhadap Indonesia," tegas Karding.

Ia menambahkan, peran karantina kini tidak hanya berkaitan dengan pengawasan lalu lintas komoditas.

Barantin juga mendorong fasilitasi perdagangan dengan tetap menjalankan fungsi perlindungan keamanan hayati atau biosecurity, melalui penguatan sistem berbasis risiko, integrasi layanan, serta pemanfaatan teknologi digital.

Momentum Jelang HUT ke-3 Barantin

FLOII Expo 2026 turut menjadi momentum menjelang peringatan Hari Karantina Indonesia ke-149 dan HUT ke-3 Barantin yang jatuh pada 18 Oktober 2026.

Momentum ini dimanfaatkan Barantin untuk mendorong transformasi sistem karantina, dari pola pemeriksaan konvensional menuju layanan yang lebih terintegrasi dan berbasis risiko (risk based approach).

Barantin berharap kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas dalam pameran tersebut dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk florikultura Indonesia, tanpa mengabaikan perlindungan biodiversitas.

Penulis :
Khalied Malvino
FLOII 2026