HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat ke 6.462,43, Pasar Menanti Langkah BI Usai The Fed Naikkan Suku Bunga

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

IHSG Menguat ke 6.462,43, Pasar Menanti Langkah BI Usai The Fed Naikkan Suku Bunga
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis sore ditutup menguat 25,58 poin atau 0,40 persen ke posisi 6.462,43 di tengah pelaku pasar yang menantikan langkah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) setelah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga acuannya.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga naik 1,42 poin atau 0,22 persen menjadi 648,38.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan kenaikan suku bunga The Fed memberikan tekanan terhadap kebijakan moneter BI.

"Kenaikan suku bunga The Fed memberikan tekanan ke Bank Indonesia (BI) sehingga pasar menantikan langkah kebijakan moneter selanjutnya dari BI," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

BI Hadapi Dilema Stabilitas dan Pertumbuhan

Dari dalam negeri, Nico menilai BI menghadapi dilema untuk menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

BI perlu menjaga kebijakan yang mendukung pro-stability dan pro-growth, tetapi pada saat yang sama perlu mencegah keluarnya modal asing secara masif.

Perhatian pelaku pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026.

Nico juga menyoroti koreksi harga minyak dunia yang dinilai memberikan ruang lebih besar terhadap kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Penurunan harga minyak membuat APBN tidak terlalu terdesak untuk meningkatkan anggaran subsidi secara drastis.

Kondisi tersebut juga dapat mengurangi tekanan untuk mengambil kebijakan yang tidak populer, termasuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tengah periode berjalan.

The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Basis Poin

Dari mancanegara, The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.

Kenaikan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak 2023.

The Fed juga memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga lainnya masih dapat terjadi pada akhir 2026.

Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan inflasi masih berada pada tingkat yang terlalu tinggi.

Pernyataan tersebut memberikan sinyal bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya dan mempertahankannya pada level tinggi dalam waktu lebih lama.

Dari sisi geopolitik, harga minyak mengalami koreksi di tengah munculnya harapan bahwa Arab Saudi dapat memulihkan aliran energi melalui pipa Timur-Barat.

Harga minyak turun setelah Amerika Serikat menyatakan pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi yang mengalami kerusakan dapat kembali beroperasi dalam beberapa hari.

Prospek beroperasinya kembali pipa tersebut mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi setelah harga minyak mentah sebelumnya mengalami lonjakan.

"Dengan penurunan harga minyak di tengah ekspektasi bahwa aliran minyak mentah melalui pipa Timur-Barat Arab Saudi dapat segera dilanjutkan, mengurangi tekanan pada ekonomi negara yang bergantung pada minyak," ujar Nico.

Pasar Cermati Pertemuan Amerika Serikat-China

Pelaku pasar juga mencermati rencana pembicaraan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan China pada akhir pekan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng.

Pertemuan Bessent dan He Lifeng dijadwalkan membahas persiapan akhir menjelang pertemuan puncak pada 24 September antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Amerika Serikat.

"Meskipun pertemuan mendatang diharapkan dapat membantu memperbaiki hubungan antara dua ekonomi terbesar di dunia, namun pasar tetap berhati-hati di tengah ketidakpastian yang masih ada mengenai tarif, sanksi, dan ketegangan geopolitik, termasuk yang melibatkan Taiwan dan Timur Tengah," ujar Nico.

Sepuluh Sektor Saham Menguat

Dalam perdagangan saham domestik, IHSG dibuka menguat dan bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama.

Memasuki sesi kedua, IHSG tetap berada di zona hijau hingga perdagangan saham ditutup.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak 10 sektor mencatatkan penguatan.

Sektor barang konsumen nonprimer mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,79 persen.

Sektor energi menguat 1,18 persen, sedangkan sektor barang konsumen primer naik 0,77 persen.

Hanya sektor kesehatan yang mengalami pelemahan dengan penurunan sebesar 0,58 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar adalah AYLS, ASPI, TEBE, POLA, dan FILM.

Sementara itu, saham-saham yang mencatat pelemahan harga terbesar adalah AGAR, SAPX, FORU, FLMC, dan JAYA.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1,85 juta kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 27,49 miliar lembar dan nilai transaksi sebesar Rp13,86 triliun.

Sebanyak 407 saham mengalami kenaikan, 255 saham mengalami penurunan, dan 301 saham tidak mengalami perubahan nilai.

Di bursa regional Asia, indeks Nikkei menguat 0,53 persen ke posisi 64.261,00 dan indeks Straits Times naik 0,41 persen ke posisi 5.658,24.

Sementara itu, indeks Shanghai melemah 0,41 persen ke posisi 3.875,60, indeks Hang Seng turun 0,44 persen menjadi 24.604,29, dan indeks Kospi melemah 0,04 persen ke posisi 6.715,41.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026