
Pantau - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat (18/9/2026) dipengaruhi sinyal kebijakan hawkish dari Federal Reserve (The Fed).
Josua memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.700 hingga Rp17.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
“The Fed menaikkan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 bps (basis points) menjadi 3,75–4,00 persen dan memberikan sinyal stance yang hawkish ke depan,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Basis Poin
Ringkasan proyeksi ekonomi terbaru para peserta Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan sebagian besar pejabat The Fed memperkirakan suku bunga kebijakan berada pada kisaran 4 persen hingga 4,25 persen pada akhir 2026.
Proyeksi tersebut muncul ketika bank sentral AS berupaya menghadapi inflasi yang terus mendapat tekanan dari guncangan pasokan dan kondisi geopolitik.
The Fed masih memiliki dua pertemuan yang dijadwalkan pada 2026, yakni pada akhir Oktober dan awal Desember.
Dolar AS juga cenderung stabil seiring meredanya sentimen pasar setelah hasil pertemuan FOMC September 2026.
Harga Minyak Turun di Tengah Harapan Pemulihan Pipa Saudi
Dari sisi geopolitik, harga minyak mengalami penurunan seiring meningkatnya harapan Arab Saudi dapat memulihkan aliran energi melalui East-West pipeline.
Menteri Energi AS Chris Wright menyampaikan pipa minyak mentah utama Timur-Barat Arab Saudi diperkirakan segera kembali beroperasi setelah ditutup akibat kerusakan yang disebut terjadi karena serangan pesawat tanpa awak dari Irak.
Arab Saudi menggunakan pipa tersebut untuk mengalihkan ekspor minyak mentah menuju Laut Merah di tengah ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz.
Saat pipa masih ditutup sementara, Arab Saudi disebut mengalihkan sejumlah pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dengan dukungan militer AS.
“Hari ini, kami memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.700–Rp17.850 per dolar AS,” kata Josua.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




