HOME  ⁄  Ekonomi

Kanal Pinglu Pangkas Rute Kargo China, Indonesia Hadapi Peluang Baru di Rantai Pasok Regional

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kanal Pinglu Pangkas Rute Kargo China, Indonesia Hadapi Peluang Baru di Rantai Pasok Regional
Foto: (Sumber :Sebuah kapal kargo bersiap untuk berangkat ke Pelabuhan Nanning di sepanjang Kanal Pinglu di daerah Pelabuhan Qinzhou di Pelabuhan Teluk Beibu di Qinzhou, Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, China selatan, 16 September 2026. (ANTARA/Xinhua/Zhang Ailin).)

Pantau - Pengoperasian Kanal Pinglu sepanjang 134,2 kilometer di China pada 16 September 2026 memangkas lebih dari 560 kilometer rute kargo dari wilayah barat daya negara tersebut menuju laut dan membuka jalur perdagangan yang lebih efisien dengan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kanal yang menghubungkan jaringan Sungai Xijiang dengan Teluk Beibu tersebut menjadi bagian dari Koridor Internasional Baru Perdagangan Darat-Laut menuju Asia Tenggara.

Kapal dengan kapasitas hingga 5.000 ton kini dapat bergerak dari wilayah pedalaman China menuju kawasan pesisir melalui rute lebih pendek sehingga konektivitas antara pusat produksi, pelabuhan, dan pasar ASEAN meningkat.

Indonesia telah memiliki arus perdagangan melalui kawasan tersebut dengan komoditas curah yang masuk ke China melalui Qinzhou sepanjang 2025 mencapai 11,521 juta ton senilai 8,26 miliar yuan atau sekitar Rp21,9 triliun.

Komoditas Indonesia yang diperdagangkan melalui jalur tersebut antara lain batu bara, bijih aluminium, karet, dan minyak sawit.

Perdagangan Indonesia-China Sudah Berskala Besar

Pada Januari-Juli 2026, China menyumbang 42,38 persen impor nonmigas Indonesia dan menjadi sumber defisit perdagangan nonmigas terbesar senilai 17,67 miliar dolar AS.

Data tersebut belum mencerminkan dampak pengoperasian Kanal Pinglu karena jalur itu baru mulai beroperasi pada September 2026.

Bahan baku dan barang penolong menyumbang 71,45 persen impor Indonesia pada periode tersebut, sedangkan barang modal mencapai 19,88 persen sehingga keduanya mencakup 91,33 persen dari total impor.

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menilai impor mesin, peralatan, bahan baku, dan barang penolong dapat memperluas kapasitas produksi apabila mampu menghasilkan produksi dan ekspor dengan nilai lebih tinggi di dalam negeri.

Arus barang dari China dapat menjadi bagian dari proses industrialisasi Indonesia apabila terhubung dengan kegiatan produksi domestik, pemasok lokal, alih teknologi, dan ekspor.

Konektivitas Buka Pilihan Rantai Pasok

Kanal Pinglu belum dapat dinyatakan telah mengubah pola perdagangan Indonesia karena data untuk mengukur dampaknya belum tersedia sejak jalur tersebut mulai beroperasi.

Namun, rute baru itu memperluas pilihan perusahaan dalam menentukan sumber bahan baku, lokasi pengolahan, serta tujuan distribusi di kawasan China dan ASEAN.

"Ketika China dan ASEAN semakin terhubung, perusahaan memiliki lebih banyak pilihan untuk menentukan lokasi pemasok, pengolahan, dan distribusi," demikian disebutkan dalam ulasan mengenai dampak konektivitas tersebut.

Konektivitas yang meningkat juga berpotensi memperlancar pengiriman komoditas Indonesia menuju pasar China sekaligus mempermudah produk dan input industri China menjangkau Indonesia serta negara ASEAN lainnya.

Dampak lebih lanjut terhadap posisi Indonesia dalam rantai pasok akan bergantung pada keterhubungan arus perdagangan tersebut dengan produksi domestik, pemasok lokal, investasi, alih teknologi, dan kegiatan ekspor.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026