HOME  ⁄  Ekonomi

Wamendag Dyah Dorong Teknologi Jadi Alat Diplomasi untuk Perluas Pasar Produk Indonesia

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Wamendag Dyah Dorong Teknologi Jadi Alat Diplomasi untuk Perluas Pasar Produk Indonesia
Foto: Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri saat menjadi pembicara dalam panel diskusi di acara FEKDI & IFSE 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) di Jakarta, Jumat 25/9/2026 (sumber: ANTARA/Fitra Ashari)

Pantau - Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong pemanfaatan dan adaptasi teknologi sebagai alat diplomasi untuk memperluas pengenalan dan akses pasar produk Indonesia.

Dyah menilai teknologi dapat menjadi sarana untuk menceritakan produk sekaligus menjembatani pelaku usaha yang ingin memperluas kegiatan perdagangan dan menjangkau konsumen.

"Bagaimana teknologi itu hadir untuk menceritakan, menjadi jembatan kepada para pelaku usaha yang memang ingin berdagang agar produknya bisa semakin dikenal. Jadi di dalamnya adalah teknologi menjadi sebuah alat untuk menceritakan sesuatu, menceritakan tentang produknya," ungkap Dyah.

Pernyataan tersebut disampaikan Dyah dalam panel diskusi pada acara FEKDI & IFSE 2026 di Jakarta.

Teknologi Perkuat Cerita dan Identitas Produk Indonesia

Pemanfaatan teknologi tersebut mencakup berbagai perkembangan, mulai dari sistem penjualan secara daring hingga penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Teknologi dinilai tidak hanya dapat memperluas akses pasar bagi pelaku usaha, tetapi juga menjadi sarana diplomasi untuk memperkenalkan identitas produk melalui cerita yang menyertainya.

Dyah mencontohkan kopi Indonesia yang di pasar internasional kerap lebih dikenal berdasarkan daerah asalnya, seperti Jawa, Kalimantan, atau Sumatra.

Kondisi tersebut menjadi peluang untuk memperkuat narasi mengenai Indonesia sebagai negara asal dari beragam produk tersebut.

Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membangun penceritaan mengenai esensi, keunikan, latar belakang, serta identitas produk Indonesia kepada konsumen.

Strategi penceritaan produk melalui teknologi juga dapat membantu pelaku usaha kecil menjangkau konsumen yang sebelumnya sulit mereka akses.

Pemanfaatan teknologi dinilai semakin penting di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan.

Namun, pemerintah perlu memastikan perkembangan teknologi dan AI tidak membuat kesenjangan digital di masyarakat semakin melebar.

"Kita harus selalu berupaya di pemerintah untuk memastikan bahwa AI, teknologi yang semakin berkembang, tidak membuat kesenjangan itu semakin lebar," kata Dyah.

Salah satu langkah yang diperlukan adalah memastikan pelaku usaha dan masyarakat mendapatkan pendidikan serta pelatihan agar mampu mengikuti perkembangan teknologi dan inovasi.

UMKM Didorong Maksimalkan Teknologi

Dyah juga menilai penggunaan teknologi sebagai sarana diplomasi produk dapat memperkuat peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam perekonomian Indonesia.

UMKM dinilai memiliki peran penting karena mampu bertahan menghadapi berbagai situasi, termasuk ketika terjadi pandemi.

Dalam paparan Dyah, UMKM disebut memberikan kontribusi sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Selain itu, sebanyak 64,5 persen pelaku usaha UMKM disebut merupakan perempuan.

Besarnya peran UMKM membuat penguatan kapasitas pelaku usaha melalui pendidikan dan pelatihan menjadi bagian penting dalam strategi pemanfaatan teknologi.

Pelaku usaha perlu memiliki kemampuan menggunakan teknologi tidak hanya untuk melakukan transaksi atau penjualan.

Teknologi juga perlu dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk, menyampaikan cerita di balik produk, serta membangun nilai dan identitas produk kepada konsumen.

Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai penting agar perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing produk Indonesia sekaligus mendukung pencapaian target Indonesia Emas 2045.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026