
Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Jumat sebesar 13 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.903 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp17.916 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai penguatan rupiah antara lain dipengaruhi oleh membaiknya hubungan Amerika Serikat dan China.
AS-China Perpanjang Gencatan Senjata Perdagangan
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian pasar adalah kesepakatan Washington dan Beijing untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan antara kedua negara.
Ibrahim mengatakan, "Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi bahwa Washington dan Beijing sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan mereka hingga 10 Januari 2027."
Mengutip Anadolu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa China dan Amerika Serikat memperpanjang periode peredaan ketegangan ekonomi.
Peredaan ketegangan ekonomi tersebut sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 10 November, tetapi kemudian diperpanjang hingga awal bulan berikutnya.
Bessent juga memberikan sinyal mengenai kemungkinan adanya pengumuman lanjutan dari delegasi China dalam beberapa hari ke depan.
Salah satu kemungkinan kesepakatan yang disebut adalah pembelian lebih banyak produk pertanian Amerika Serikat oleh China.
Selain itu, terdapat kemungkinan tercapainya kesepakatan antara kedua negara di sektor jasa keuangan.
Pengumuman mengenai perkembangan hubungan ekonomi AS-China disampaikan setelah Bessent bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di Washington.
Pertemuan Bessent dan He Lifeng tersebut sebelumnya tidak termasuk dalam agenda yang telah dijadwalkan.
Selain hubungan AS-China, pasar turut memperhatikan perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang disebut tengah menjajaki jalan keluar secara bertahap dari konflik kedua negara.
Upaya tersebut mencakup kemungkinan Iran membuka kembali Selat Hormuz, sementara Washington disebut dapat mencabut blokade ekonomi terhadap Iran sebagai bagian dari langkah tersebut.
Kebijakan The Fed dan Data Ekonomi AS Jadi Perhatian
Sentimen lain yang memengaruhi pergerakan rupiah berasal dari kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed.
Presiden The Fed wilayah New York John Williams menyatakan inflasi perlu dikembalikan menuju target dalam jangka waktu yang tepat.
Dengan kondisi tersebut, kenaikan kembali suku bunga sebelum akhir tahun dinilai sebagai sesuatu yang wajar.
Presiden The Fed wilayah Cleveland Beth Hammack juga memberikan perhatian terhadap risiko inflasi yang tetap berada pada level tinggi.
Hammack memperingatkan, "semakin lama inflasi tetap tinggi, semakin sulit untuk mengembalikannya ke target."
Pergerakan rupiah juga dipengaruhi data Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global Amerika Serikat yang menunjukkan kinerja kuat.
PMI Komposit Amerika Serikat pada September naik menjadi 58,4 atau mencapai level tertinggi dalam lima tahun.
Pasar turut mencermati data klaim awal tunjangan pengangguran Amerika Serikat yang turun menjadi 197 ribu pada pekan yang berakhir 19 September.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar yang berada di level 201 ribu.
JISDOR Bank Indonesia Bergerak Melemah
Di sisi lain, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama bergerak melemah.
JISDOR tercatat berada pada level Rp17.917 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp17.898 per dolar AS.
- Penulis :
- Arian Mesa




