HOME  ⁄  Ekonomi

BI Siapkan Sejumlah Strategi Jaga Rupiah di Tengah Penguatan Dolar AS

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

BI Siapkan Sejumlah Strategi Jaga Rupiah di Tengah Penguatan Dolar AS
Foto: Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (kiri) didampingi Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta dan Thomas A.M. Djiwandono mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/9/2026). Rapat tersebut membahas agenda kerja Bank Indonesia (sumber: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Pantau - Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tantangan eksternal berupa penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap berbagai mata uang dunia.

Dari sisi moneter, Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan penguatan kebijakan akan dilakukan secara konsisten melalui sejumlah langkah, termasuk meningkatkan pengawasan lalu lintas devisa.

BI juga akan memperkuat kecukupan likuiditas melalui operasi moneter berupa fasilitas repo untuk surat berharga non-SBN.

"Kami akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa, kemudian juga kami akan terus memperkuat kecukupan likuditas melalui repo operasi moneter untuk non-SBN," kata Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin.

BI Perluas Fasilitas Repo Non-SBN

Bank Indonesia telah membuka fasilitas repo untuk surat berharga non-SBN yang saat ini diterapkan pada surat berharga terbitan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).

Mulai Oktober 2026, BI berencana memperluas fasilitas tersebut untuk obligasi yang diterbitkan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Dengan kebijakan itu, surat berharga yang diterbitkan SMF dan SMI dapat direpokan kepada Bank Indonesia sekaligus diharapkan membantu memperdalam pasar uang untuk instrumen tersebut.

Berbagai kebijakan tersebut disiapkan di tengah penguatan dolar AS yang menurut Destry antara lain dipengaruhi perkembangan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed.

Dalam keterangan yang disampaikan, suku bunga The Fed disebut naik 25 basis poin menjadi kisaran 3,75–4,00 persen pada 16 September 2026 waktu AS.

BI memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya satu kali lagi pada triwulan IV 2026.

Menurut Destry, perkembangan suku bunga The Fed turut mendorong penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang lainnya.

Kondisi tersebut disebut tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang mencapai 101,11, sedangkan indeks dolar terhadap mata uang negara-negara Asia tercatat 96,26.

Penguatan dolar AS juga berdampak terhadap pergerakan modal dengan arus dana yang sebelumnya berada di negara berkembang beralih menuju negara-negara maju.

Selain penguatan dolar AS, Destry menyoroti meningkatnya tekanan inflasi global yang turut memengaruhi arah kebijakan moneter berbagai negara.

BI Perkuat Sistem Pembayaran dan Talenta Digital

Dari sisi kebijakan makroprudensial, BI akan melakukan penguatan melalui optimalisasi kredit, menjaga ketahanan sistem keuangan, serta meningkatkan keuangan inklusif.

Pada sektor sistem pembayaran, BI berencana memperluas pembayaran lintas negara atau cross-border payment serta mendorong pengembangan dan inovasi aset keuangan digital.

BI juga akan memperkuat kapasitas talenta digital melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), termasuk mencari dan memberdayakan anak muda yang memiliki kompetensi tinggi di bidang digital dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

"Kemudian juga penguatan talenta digital melalui program PIDI, yaitu Pusat Inovasi Digital Indonesia dimana kami di situ mencari talenta-talenta dan juga memberdayakan talenta-talenta muda yang mempunyai kemampuan dan kompetensi yang tinggi di bidang digital, termasuk AI dan kemudian kami berusaha melakukan matchmaking dengan pihak demand side," ujar Destry.

Melalui program tersebut, BI juga berupaya melakukan matchmaking atau mempertemukan talenta digital dengan pihak yang membutuhkan kompetensi mereka.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026