
Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 87 poin atau 0,48 persen menjadi Rp17.894 per dolar AS pada perdagangan Rabu, setelah pada penutupan sebelumnya berada di posisi Rp17.981 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai penguatan rupiah antara lain dipengaruhi konsistensi intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing.
"BI tetap konsisten melakukan intervensi setelah rupiah sempat menembus Rp18.000 per dolar AS," ucap Amru kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
BI menegaskan tetap melakukan intervensi spot di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan dinamika pasar.
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G Hutapea menjelaskan komposisi intervensi spot sekitar 30 persen merupakan komposisi yang bersifat historis.
Menurut Erwin, angka sekitar 30 persen tersebut bukan target yang ditetapkan BI dalam pelaksanaan intervensi di pasar valuta asing.
Rupiah Hadapi Tekanan Penguatan Dolar AS
Seiring upaya BI mendorong perkembangan pasar valuta asing domestik, secara historis komposisi penggunaan instrumen spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF) mulai menjadi lebih berimbang.
Namun, semakin berimbangnya penggunaan ketiga instrumen tersebut tidak berarti komitmen BI untuk melakukan intervensi di pasar spot berkurang.
Selain intervensi BI, pergerakan rupiah dipengaruhi sentimen global, terutama kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS.
Yield US Treasury tenor 10 tahun disebut berada di kisaran 5,27 persen, sedangkan dolar AS bergerak mendekati level tertingginya pada tahun ini.
Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik sehingga meningkatkan tekanan terhadap berbagai mata uang regional, termasuk rupiah.
Di sisi lain, pernyataan Presiden New York Fed John Williams memberikan ruang bagi pasar untuk mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Williams menyatakan belum terdapat urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga.
Harga Minyak Dunia Turun
Analis Doo Financial Lukman Leong sebelumnya menilai penguatan rupiah turut mendapatkan dukungan dari penurunan harga minyak dunia yang cukup besar.
"Penguatan ini didukung oleh harga minyak dunia yang turun cukup besar oleh berita bahwa Arab Saudi melanjutkan kembali setengah dari ekspor minyak mentah melalui jalur pipa Timur-Barat," ujar Lukman.
Mengutip Anadolu, penurunan harga minyak terjadi di tengah munculnya tanda-tanda perbaikan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Salah satu faktornya adalah kembali berjalannya ekspor minyak Arab Saudi melalui jalur pipa Timur-Barat setelah dilakukan perbaikan terhadap kerusakan akibat serangan pesawat nirawak.
Peningkatan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz turut membantu meredakan kekhawatiran pasar mengenai ketersediaan pasokan minyak dalam waktu dekat.
Harga minyak mentah Brent internasional tercatat turun 2,8 persen atau 2,94 dolar AS menjadi 102,35 dolar AS per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 3,5 dolar AS atau 3,8 persen menjadi 89 dolar AS per barel.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama turut menunjukkan penguatan rupiah menjadi Rp17.877 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.998 per dolar AS.
- Penulis :
- Arian Mesa




