HOME  ⁄  Ekonomi

Pakar Unsoed Apresiasi Peningkatan Produksi Padi, Dorong Pemerintah Perluas Perlindungan Petani

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pakar Unsoed Apresiasi Peningkatan Produksi Padi, Dorong Pemerintah Perluas Perlindungan Petani
Foto: (Sumber :Pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Totok Agung Dwi Haryanto. ANTARA/Sumarwoto.)

Pantau - Pakar Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Totok Agung Dwi Haryanto menilai peningkatan produksi padi sebagai salah satu capaian positif dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

"Secara akademik, data-data yang disampaikan pemerintah berkaitan dengan produksi padi itu saya apresiasi. Ada lonjakan luar biasa tahun 2025 dibanding 2024 atau 2023 yang produksinya turun drastis," katanya di Purwokerto, Jawa Tengah, Kamis.

Totok mengatakan peningkatan produksi padi merupakan hasil kontribusi berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pertanian, Kementerian Pertahanan, TNI, swasta, perguruan tinggi, hingga petani.

Menurut dia, perguruan tinggi berkontribusi melalui pengembangan varietas unggul, sedangkan petani menjadi pihak utama yang terlibat langsung dalam produksi.

HPP Gabah Dinilai Dorong Petani

Totok menilai swasembada beras memiliki arti strategis karena komoditas tersebut berkaitan dengan aspek ekonomi, sosial, budaya, politik, dan ketahanan nasional.

"Ketika beras itu ada di rumah, di dapur masyarakat, khususnya petani di desa-desa, hati para petani itu tenang. Jadi beras punya posisi strategis yang luar biasa," katanya.

Ia juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.

Menurut Totok, harga gabah di tingkat petani di sejumlah daerah bahkan telah mencapai Rp8.000 per kilogram.

Ia menilai harga tersebut membuat petani lebih bergairah, tetapi pada sisi lain dapat menjadi persoalan bagi penggilingan dan pelaku usaha ketika harga jual beras dibatasi Harga Eceran Tertinggi (HET).

Asuransi Pertanian Perlu Diperluas

Totok mengingatkan peningkatan produksi padi tidak boleh membuat pemerintah mengabaikan produktivitas dan risiko gagal panen yang dihadapi petani.

Menurut dia, perlindungan melalui asuransi pertanian belum menjangkau seluruh petani, terutama kelompok petani kecil.

"Jangkauannya belum masif. Petani-petani kecil yang tidak memenuhi syarat mengajukan asuransi pertanian akhirnya menanggung sendiri kerugian dari gagal panen," katanya.

Ia mendorong perluasan cakupan asuransi pertanian untuk memberikan perlindungan kepada petani sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Swasembada Didorong Meluas ke Komoditas Lain

Totok juga mendorong pemerintah melanjutkan reforma agraria dan pencetakan sawah baru di luar Jawa dengan memastikan lahan produktif serta memiliki dukungan sistem irigasi memadai.

Selain beras, menurut dia, sasaran swasembada perlu diperluas ke komoditas strategis lainnya seperti kedelai dan jagung.

"Padi sudah sangat bagus, tetapi perlu dipertahankan dengan tetap menjaga kesejahteraan petani melalui asuransi dan harga beli yang bagus. Komoditas lain juga sangat penting sehingga suatu saat bergeser dari swasembada beras menjadi swasembada pangan," kata Prof Totok.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026