
Pantau - Badan Pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mendorong konsolidasi BUMN Karya memperkuat kemitraan dengan perusahaan swasta agar industri konstruksi nasional semakin sehat, kompetitif, dan berkelanjutan.
Sekretaris Jenderal BPP HIPMI Anthony Leong mengatakan pihaknya mendukung langkah pemerintah bersama Danantara dalam melakukan penyehatan dan konsolidasi BUMN Karya.
"Langkah tersebut penting untuk membangun perusahaan konstruksi negara yang lebih sehat, efisien, profesional, dan memiliki kemampuan keuangan yang kuat," kata Anthony terkonfirmasi di Jakarta, Senin, (5/1).
Anthony menilai restrukturisasi harus menjadi momentum memperbaiki ekosistem industri konstruksi nasional secara menyeluruh dan bukan sekadar menggabungkan sejumlah perusahaan.
"HIPMI mendukung penyehatan BUMN Karya. Indonesia membutuhkan BUMN konstruksi yang sehat dan kuat untuk mengerjakan proyek-proyek strategis," ujarnya.
HIPMI Minta Restrukturisasi Jaga Rantai Pasok
Menurut Anthony, proses penyehatan tidak boleh berhenti pada merger atau perbaikan neraca, tetapi harus memberikan manfaat nyata kepada kontraktor swasta, pengusaha daerah, pemasok, pelaku UMKM, dan seluruh rantai industri konstruksi.
Danantara saat ini melakukan penataan terhadap tujuh BUMN Karya, yakni PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero).
Anthony mengatakan keberlangsungan proyek serta kepastian pembayaran kepada vendor dan subkontraktor perlu menjadi perhatian selama proses penyehatan.
Menurut dia, keterlambatan pembayaran selama beberapa bulan dapat mengganggu modal kerja, pembayaran gaji, hingga keberlangsungan usaha kontraktor daerah dan pemasok kecil.
"Karena itu restrukturisasi harus sekaligus menjaga kesehatan seluruh rantai pasok," katanya.
HIPMI Minta Ruang Swasta Tidak Menyempit
HIPMI juga mendorong konsolidasi menciptakan pembagian peran yang semakin sehat antara BUMN Karya dan perusahaan swasta nasional.
Anthony menilai BUMN dapat lebih berfokus pada proyek strategis dan kompleks yang membutuhkan kemampuan pembiayaan maupun teknologi berskala besar.
Sementara itu, kontraktor swasta nasional dan pengusaha daerah dinilai perlu mendapatkan ruang lebih luas sebagai kontraktor utama pada proyek tertentu maupun melalui skema kemitraan dan rantai pasok.
"Jangan sampai BUMN yang semakin besar justru membuat ruang pengusaha nasional semakin kecil. BUMN yang sehat seharusnya menjadi lokomotif yang menarik lebih banyak perusahaan swasta masuk ke dalam rantai proyek, bukan berjalan sendiri," tegas Anthony.
Menurut Anthony, belanja infrastruktur memiliki efek berganda terhadap perekonomian karena menggerakkan industri semen, baja, alat berat, transportasi, jasa engineering, konstruksi, hingga tenaga kerja di daerah.
Karena itu, keterlibatan pengusaha nasional dan daerah yang semakin luas dinilai dapat memperbesar manfaat ekonomi dari setiap proyek infrastruktur.
Keberhasilan Tak Hanya Diukur dari Utang
HIPMI meminta keberhasilan penyehatan BUMN Karya tidak hanya diukur berdasarkan penurunan utang maupun perbaikan laporan keuangan perusahaan.
"Ukuran keberhasilannya harus lebih luas: apakah perusahaan menjadi sehat, apakah proyek berjalan tepat waktu, apakah vendor dibayar dengan baik, apakah keterlibatan pengusaha nasional meningkat, dan apakah semakin banyak lapangan kerja yang tercipta," kata Anthony.
Anthony menambahkan konsolidasi perlu diikuti penguatan tata kelola, disiplin dalam pemilihan proyek, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri konstruksi.
Menurutnya, BUMN Karya yang sehat akan meningkatkan kepercayaan perbankan, investor, mitra usaha, dan pasar.
"Kalau restrukturisasi ini dilakukan dengan baik, kita bukan hanya menyelesaikan persoalan masa lalu, tetapi membangun fondasi baru industri konstruksi Indonesia yang lebih kompetitif," kata Anthony.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




