
Pantau - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah tengah mengkaji kemungkinan pemberian subsidi pakan ayam untuk mengatasi lonjakan harga bahan baku yang semakin membebani biaya produksi peternak.
Rencana tersebut masih dalam tahap komunikasi dan pembahasan pemerintah sebagai salah satu langkah untuk menekan biaya operasional peternakan ayam, khususnya bagi peternak ayam petelur.
Budi menyampaikan hal itu di Jakarta, Kamis (8/10), menanggapi keluhan peternak yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional (PPN) terkait kenaikan harga bahan baku pakan.
"Kita sekarang lagi komunikasikan, kita akan cari solusinya segera," ujar Budi di Jakarta, Kamis (8/10).
Menurut Budi, tingginya harga minyak menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi kenaikan harga pakan ayam.
Pemerintah kini berupaya mencari langkah agar harga pakan tetap terjangkau sehingga tidak semakin menekan biaya produksi dan keberlangsungan usaha peternakan rakyat.
Meski demikian, Budi menegaskan bahwa pemerintah belum mengambil keputusan mengenai bentuk maupun skema subsidi pakan ayam yang akan diterapkan.
Peternak Keluhkan Harga Jagung dan Bungkil Kedelai Melonjak
Sebelumnya, sejumlah peternak yang tergabung dalam Pinsar Petelur Nasional mendatangi Komisi IV DPR RI di Jakarta pada Rabu (7/10) untuk menyampaikan persoalan kelangkaan dan lonjakan harga bahan baku pakan ayam.
Dalam pertemuan tersebut, peternak mengeluhkan kenaikan harga jagung dan bungkil kedelai yang menjadi dua komponen utama dalam pembuatan pakan ayam petelur.
Perwakilan PPN, Suardi, menjelaskan bahwa kedua bahan baku tersebut memiliki kontribusi sangat besar terhadap total biaya produksi peternakan ayam petelur.
Menurut Suardi, jagung menyumbang sekitar 50 persen dari total biaya produksi, sedangkan bungkil kedelai berkontribusi sekitar 25 persen.
Dengan demikian, kedua bahan baku tersebut secara keseluruhan menyumbang sekitar 75 persen dari total biaya produksi berdasarkan rincian yang disampaikan peternak.
Suardi mengungkapkan bahwa harga bungkil kedelai mengalami kenaikan signifikan dibandingkan kondisi normal.
Harga bungkil kedelai yang sebelumnya berkisar Rp7.200 hingga Rp7.500 per kilogram kini melonjak menjadi sekitar Rp9.900 hingga Rp10.000 per kilogram.
Jika dibandingkan dengan rentang harga normal tersebut, kenaikan harga bungkil kedelai mencapai sekitar 32 hingga 39 persen.
Lonjakan harga tersebut semakin membebani peternak karena bungkil kedelai merupakan salah satu sumber protein utama dalam formulasi pakan ayam petelur.
Selain bungkil kedelai, peternak juga menghadapi persoalan kelangkaan dan kenaikan harga jagung yang menjadi komponen terbesar dalam biaya produksi.
Kondisi ini membuat peternak mendesak pemerintah segera mengambil langkah untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan baku pakan ayam.
Harga Telur Ayam di Konsumen Capai Rp29.750 per Kilogram
Di tengah kenaikan biaya produksi peternakan, harga telur ayam ras segar di tingkat konsumen tercatat mencapai Rp29.750 per kilogram.
Angka tersebut berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional Bank Indonesia pada Kamis (8/10).
Sementara itu, harga telur ayam ras segar di tingkat produsen tercatat sebesar Rp25.600 per kilogram.
Berdasarkan data tersebut, terdapat selisih harga antara tingkat produsen dan konsumen sebesar Rp4.150 per kilogram.
Perbedaan harga tersebut menjadi salah satu gambaran kondisi harga telur ayam di tengah keluhan peternak mengenai tingginya biaya bahan baku pakan.
Kenaikan harga jagung dan bungkil kedelai menjadi perhatian peternak karena kedua komoditas tersebut menentukan sebagian besar biaya produksi telur ayam.
Pemerintah Belum Putuskan Skema Subsidi Pakan Ayam
Rencana pemberian subsidi pakan ayam menjadi salah satu opsi kebijakan yang tengah dibahas pemerintah untuk membantu meringankan beban biaya produksi peternak.
Sebelumnya, pemerintah telah mengumumkan kebijakan subsidi impor kedelai bagi perajin tahu dan tempe sebesar Rp2.000 per kilogram.
Kebijakan tersebut ditujukan untuk membantu pelaku usaha menghadapi tekanan harga bahan baku kedelai.
Sementara itu, pembahasan subsidi pakan ayam masih berlangsung dan belum menghasilkan keputusan mengenai besaran bantuan maupun mekanisme penyalurannya.
Pemerintah juga belum mengumumkan waktu pelaksanaan kebijakan tersebut apabila nantinya disetujui.
Hingga Kamis (8/10), pemerintah masih mengupayakan solusi untuk mengatasi tingginya harga pakan ayam yang dikeluhkan peternak, terutama akibat lonjakan harga jagung dan bungkil kedelai.
- Penulis :
- Shila Glorya




