HOME  ⁄  Nasional

Gus Ipul Minta Wali Asuh dan Wali Asrama Sekolah Rakyat Jadi Orang Tua dan Teladan Siswa

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Gus Ipul Minta Wali Asuh dan Wali Asrama Sekolah Rakyat Jadi Orang Tua dan Teladan Siswa
Foto: Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang, Sumatera Barat, Rabu (7/10/2026)

Pantau - Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meminta seluruh wali asuh dan wali asrama Sekolah Rakyat menjadi figur orang tua, pembimbing, sekaligus teladan bagi siswa selama menjalani pendidikan berasrama.

Pesan tersebut disampaikan Gus Ipul saat memberikan arahan dalam Pelatihan Pengasuhan dan Pengelolaan Asrama Sekolah Rakyat di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang, Sumatera Barat, Rabu (7/10/2026).

Gus Ipul menegaskan bahwa keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui pembentukan karakter, kedisiplinan, dan pendampingan siswa selama tinggal di asrama.

Menurutnya, wali asuh dan wali asrama memiliki tanggung jawab besar karena menjadi pihak yang mendampingi siswa setiap hari, memahami perkembangan mereka, serta membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi.

Pelatihan tersebut diikuti 179 peserta dari wilayah Sumatera bagian tengah, terdiri atas 158 wali asuh dan 21 wali asrama, dengan pendampingan 10 fasilitator.

Kegiatan serupa juga berlangsung di sejumlah balai besar Kementerian Sosial, dengan peserta dari Yogyakarta, Banjarmasin, dan Jayapura mengikuti arahan secara daring melalui Zoom Meeting.

Gus Ipul Tekankan Pentingnya Pengasuhan dan Keteladanan di Sekolah Rakyat

Dalam arahannya, Gus Ipul mengingatkan bahwa siswa Sekolah Rakyat berasal dari latar belakang kehidupan yang beragam, termasuk anak-anak yang pernah mengalami putus sekolah, terancam putus sekolah, persoalan kesehatan, masalah psikososial, hingga kesulitan ekonomi keluarga.

Kondisi tersebut membuat para siswa membutuhkan pendekatan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan sosial, emosional, dan karakter.

Karena itu, Gus Ipul meminta wali asuh dan wali asrama tidak sekadar menjalankan tugas administratif maupun rutinitas pengelolaan asrama.

Ia menekankan bahwa para pendamping harus mampu memberikan perhatian, membangun komunikasi yang baik, serta memahami kebutuhan masing-masing siswa dengan penuh empati.

Gus Ipul juga mengingatkan pentingnya menjadikan wali asuh dan wali asrama sebagai kompas moral yang memberikan contoh perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari.

Ia berharap seluruh peserta pelatihan kembali ke tempat tugas masing-masing dengan semangat bekerja secara sungguh-sungguh, disiplin, bertanggung jawab, serta saling mengingatkan dan mengawasi.

Dua Siswa Sekolah Rakyat Padang Ceritakan Perubahan Hidup

Dalam kegiatan tersebut, Gus Ipul mengundang dua siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 4 Padang untuk naik ke panggung dan menceritakan pengalaman mereka sebelum dan setelah mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.

Siswa pertama adalah Muhammad Habib Munthe, anak asal Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.

Ayah Habib bekerja sebagai buruh harian lepas, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.

Karena keterbatasan ekonomi, Habib bersama keluarganya masih menumpang tinggal di rumah milik teman orang tuanya.

Setelah sekitar satu tahun menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat, Habib mengaku mengalami perubahan positif, terutama dalam hal keberanian berbicara di depan umum dan kepercayaan diri.

Habib yang bercita-cita menjadi diplomat menyampaikan bahwa perhatian serta bimbingan guru dan tenaga kependidikan telah membantunya mengembangkan kemampuan berkomunikasi.

Ia juga menganggap dukungan para pendidik sebagai salah satu pengalaman paling berkesan selama mengikuti program Sekolah Rakyat.

Siswa kedua yang berbagi pengalaman adalah Erziza Febriani Chaniago, asal Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.

Erziza merupakan anak dari seorang buruh harian lepas, sementara ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Erziza mengaku sempat merasa tidak percaya diri dan meragukan kesempatan dirinya untuk melanjutkan pendidikan serta meraih masa depan yang lebih baik.

Namun, setelah mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat, Erziza mulai menunjukkan perkembangan positif dalam kegiatan akademik maupun nonakademik.

Ia kini aktif mengikuti kegiatan seni tari dan olahraga atletik sebagai sarana mengembangkan bakat serta kemampuan dirinya.

Perubahan juga terlihat dari kondisi fisiknya, dengan berat badan meningkat dari 45 kilogram menjadi 49 kilogram sejak mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.

Erziza turut menyampaikan rasa terima kasih atas program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto karena telah memberinya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan kreativitas.

Gus Ipul menjadikan pengalaman Habib dan Erziza sebagai contoh bahwa perubahan positif pada siswa tidak hanya dihasilkan melalui fasilitas pendidikan, tetapi juga melalui perhatian dan pendampingan orang-orang yang setiap hari berada bersama mereka.

Gus Ipul Larang Keras Perundungan, Kekerasan, dan Intoleransi

Selain menekankan pentingnya pengasuhan, Gus Ipul memberikan peringatan keras mengenai tiga tindakan yang tidak boleh terjadi di lingkungan Sekolah Rakyat.

Ketiga tindakan tersebut adalah perundungan atau bullying, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi.

Gus Ipul menegaskan bahwa seluruh unsur Sekolah Rakyat, mulai dari guru, wali asuh, wali asrama, hingga tenaga kependidikan lainnya, wajib mencegah tindakan tersebut.

Ia meminta seluruh pihak meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas siswa dan segera menggunakan mekanisme pelaporan apabila menemukan indikasi pelanggaran.

Gus Ipul juga memastikan bahwa identitas pihak yang melaporkan dugaan pelanggaran akan mendapatkan perlindungan.

Menurutnya, lingkungan Sekolah Rakyat harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar, mengembangkan kemampuan, serta membangun karakter.

Menteri Sosial berharap tidak perlu menjatuhkan sanksi pemberhentian terhadap tenaga kependidikan akibat pelanggaran aturan.

Sebaliknya, ia menginginkan semakin banyak tenaga pendidik dan pengasuh mendapatkan penghargaan karena keberhasilan mendampingi siswa serta menciptakan prestasi.

Wali Asuh Bengkulu Ungkap Perubahan Karakter Siswa

Kegiatan pengarahan berlangsung interaktif dengan memberikan kesempatan kepada peserta pelatihan untuk menyampaikan pengalaman dan tantangan selama mendampingi siswa Sekolah Rakyat.

Salah satu peserta yang berbagi pengalaman adalah Ayub Saputra, wali asuh SRT 3 Provinsi Bengkulu yang telah menjalankan tugas selama sekitar enam bulan.

Ayub mengaku betah menjalankan tugas karena dapat menyaksikan secara langsung perubahan karakter siswa yang berlangsung secara bertahap.

Perubahan tersebut terlihat dari kebiasaan bangun pagi, peningkatan kedisiplinan, hingga kemampuan siswa menjalankan aktivitas sehari-hari secara lebih teratur.

Menurut Ayub, pelatihan pengasuhan memberikan kesempatan kepada wali asuh dan wali asrama untuk bertukar pengalaman dengan peserta dari berbagai daerah.

Melalui kegiatan tersebut, para pendamping juga dapat mempelajari metode komunikasi dan pelayanan yang lebih baik dalam menghadapi anak-anak dengan latar belakang berbeda.

Ayub turut menyampaikan bahwa banyak siswa yang didampinginya memiliki cita-cita menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) maupun Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Ia kemudian menanyakan kemungkinan adanya dukungan lanjutan untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi persyaratan seleksi kedua institusi tersebut.

Menanggapi pertanyaan itu, Gus Ipul menjelaskan bahwa TNI dan Polri selama ini telah membantu pelaksanaan Sekolah Rakyat, terutama dalam penguatan kedisiplinan siswa.

Ia menilai siswa yang bercita-cita menjadi anggota TNI atau Polri perlu mendapatkan pembinaan secara terarah dalam aspek kemampuan fisik, kedisiplinan, dan prestasi akademik.

Gus Ipul menegaskan bahwa pembinaan tersebut bertujuan membantu siswa memenuhi persyaratan seleksi melalui kemampuan masing-masing, bukan memberikan kelulusan semata-mata karena kebijakan afirmasi.

Meski demikian, ia mengingatkan wali asuh dan wali asrama agar tetap memperhatikan minat, bakat, dan potensi setiap siswa tanpa memaksakan pilihan profesi tertentu.

Sekolah Rakyat Jangkau 44 Ribu Siswa di 182 Lokasi

Dalam keterangannya seusai kegiatan, Gus Ipul menjelaskan bahwa program Sekolah Rakyat telah menjangkau sekitar 44 ribu siswa yang tersebar di 182 titik di seluruh Indonesia.

Program tersebut menerapkan sistem pendidikan berasrama atau boarding school yang memungkinkan proses pembelajaran dan pembentukan karakter berlangsung secara berkesinambungan.

Dalam sistem ini, guru bertanggung jawab mendampingi siswa selama kegiatan pembelajaran di sekolah, sedangkan wali asuh dan wali asrama melanjutkan pendidikan karakter ketika siswa berada di lingkungan asrama.

Gus Ipul menjelaskan bahwa penerimaan siswa Sekolah Rakyat tidak didasarkan pada tes kemampuan akademik, melainkan kondisi sosial ekonomi keluarga calon peserta didik.

Proses penerimaan dilakukan melalui penjangkauan calon siswa, pemeriksaan langsung di lapangan atau ground check, serta tahapan verifikasi dan validasi.

Mekanisme tersebut diterapkan untuk memastikan program pendidikan benar-benar menjangkau anak-anak dari keluarga yang menjadi sasaran Sekolah Rakyat.

Menurut Gus Ipul, perbedaan latar belakang sosial ekonomi dan pengalaman kehidupan membuat setiap siswa membutuhkan pendekatan pendidikan serta pengasuhan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Karena itu, kerja sama antara guru, wali asuh, dan wali asrama menjadi bagian penting dalam membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan pendidikan baru.

Berdasarkan pengamatannya, siswa yang telah mengikuti pendidikan selama lebih dari satu tahun mulai menunjukkan perkembangan positif dari sisi kebugaran, pertumbuhan fisik, kesehatan mental, kepercayaan diri, dan optimisme menghadapi masa depan.

Gus Ipul Apresiasi Karya dan Penampilan Seni Siswa Sekolah Rakyat

Kedatangan Gus Ipul di BBPPKS Padang sebelumnya disambut meriah oleh siswa SRMP 4 Padang yang mengenakan seragam PDL hijau army.

Para siswa berdiri berbaris sambil menyanyikan yel-yel Sekolah Rakyat untuk menyambut kedatangan Menteri Sosial.

Penyambutan kemudian dilanjutkan dengan penampilan tari pasambahan dan iringan marching band yang mengantarkan Gus Ipul menuju aula tempat pelatihan berlangsung.

Setelah memberikan pengarahan, Gus Ipul meninjau pameran hasil karya siswa Sekolah Rakyat yang diselenggarakan di lokasi kegiatan.

Berbagai karya kreatif ditampilkan dalam pameran tersebut, mulai dari lukisan, kerajinan crochet atau rajutan, hingga gantungan kunci buatan siswa.

Rangkaian kegiatan juga diisi penampilan seni dan keterampilan siswa SRMP 4 Padang, termasuk marching band yang membawakan lagu "Maju Tak Gentar", pertunjukan tari piring, serta demonstrasi taekwondo.

Gus Ipul menyaksikan berbagai penampilan tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap pengembangan bakat, kreativitas, dan kemampuan nonakademik siswa.

Kegiatan ini turut dihadiri Senior Eksekutif Universitas Negeri Padang Ganefri, Staf Ahli Gubernur Bidang Pembangunan, Kemasyarakatan, dan SDM Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Nizam Ul Muluk, Kepala BBPPKS Padang Wildan Humaedi, serta Kepala SRMP 4 Padang Azizah Batubara.

Hadir pula jajaran Staf Khusus Menteri dan Tenaga Ahli Menteri Sosial yang mendampingi rangkaian kunjungan serta pengarahan kepada wali asuh dan wali asrama Sekolah Rakyat.

Melalui pelatihan tersebut, Gus Ipul kembali menekankan pentingnya peran wali asuh dan wali asrama sebagai pendamping utama siswa di luar jam pembelajaran, sekaligus figur orang tua dan teladan dalam membangun karakter, kedisiplinan, serta kepercayaan diri anak-anak Sekolah Rakyat.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026