HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Berpotensi Bergerak Mendatar, Investor Cermati Suku Bunga The Fed dan Ketegangan Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Berpotensi Bergerak Mendatar, Investor Cermati Suku Bunga The Fed dan Ketegangan Global
Foto: (Sumber :Pengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27/7/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak mendatar atau sideways pada perdagangan Jumat (9/10/2026) seiring pelaku pasar mencermati perkembangan ekonomi global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, dan kondisi perekonomian domestik.

IHSG membuka perdagangan dengan penguatan 7,73 poin atau 0,13 persen ke posisi 6.039,01.

Sementara itu, indeks LQ45 yang terdiri atas 45 saham unggulan naik 1,38 poin atau 0,23 persen menjadi 595,02.

Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, memperkirakan pergerakan IHSG masih dipengaruhi sejumlah faktor eksternal dan domestik yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.

“IHSG berpotensi menguji support di 5.979, dengan support berikutnya di 5.898-5.887 apabila level tersebut ditembus. Sebaliknya, jika menguat, IHSG berpeluang menguji resistance di 6.095-6.120,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

IHSG Diperkirakan Bergerak di Tengah Tekanan Pasar Global

Menurut analisis Kiwoom Sekuritas, IHSG berpotensi menguji level penopang atau support pada posisi 5.979.

Apabila level tersebut ditembus, indeks berpeluang bergerak menuju area penopang berikutnya di kisaran 5.898 hingga 5.887.

Sebaliknya, jika tekanan jual mereda dan indeks kembali menguat, IHSG berpotensi menguji area hambatan atau resistance pada level 6.095 hingga 6.120.

Pergerakan tersebut berlangsung ketika investor global menaruh perhatian pada arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.

Notulen rapat The Fed periode September 2026 menunjukkan sebagian besar pejabat memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga acuan hingga akhir tahun.

Namun, waktu pelaksanaan penyesuaian suku bunga tersebut masih belum dipastikan.

Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan bahwa kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan diperlukan untuk membawa inflasi kembali menuju target.

Meski demikian, Waller menekankan bahwa bank sentral tetap memiliki fleksibilitas dalam menentukan kecepatan penyesuaian kebijakan moneter.

Pasar Perkirakan The Fed Pertahankan Suku Bunga pada Oktober

Pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober 2026.

Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember 2026 diperkirakan mencapai 69 persen.

Perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi perhatian karena dapat memengaruhi aliran modal dan pergerakan pasar saham global.

Dari Jepang, investor turut memantau kemungkinan pengetatan kebijakan Bank of Japan (BOJ).

Perhatian tersebut muncul setelah imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun dari posisi tertingginya dalam 30 tahun.

Selain kebijakan suku bunga, pasar juga menghadapi ketidakpastian akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Ketegangan AS dan Iran Tekan Pasokan Minyak Global

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah adanya laporan serangan terhadap kapal tanker di kawasan Selat Hormuz.

Sebanyak sembilan kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran serangan selama sepekan terakhir.

Situasi tersebut menyebabkan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz turun menjadi sekitar 9,5 juta barel per hari.

Jumlah itu tercatat sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan tingkat normal sebelum perang Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada November 2026.

Pernyataan tersebut muncul setelah laporan sebelumnya menyebutkan bahwa pemerintah Amerika Serikat sedang mempertimbangkan serangan lanjutan dalam beberapa pekan mendatang.

Di sisi lain, Badai Isaias turut mengancam fasilitas produksi minyak lepas pantai di Teluk Meksiko.

Perusahaan energi dilaporkan telah menghentikan produksi sekitar 500.000 barel minyak per hari sebagai langkah menghadapi ancaman badai.

Gangguan pasokan minyak tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam menilai risiko ekonomi global.

Investor Cermati Valuasi Saham Teknologi dan Perkembangan AI

Sentimen investor global cenderung berhati-hati akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi.

Keberlanjutan tren penguatan pasar atau bullish juga menjadi perhatian di tengah tingginya biaya pinjaman dan ketidakpastian geopolitik.

King Lip dari BakerAvenue Wealth Management menilai tren kenaikan pasar saham belum berakhir, tetapi sedang menghadapi sejumlah tekanan.

Menurutnya, pertumbuhan laba perusahaan dan peningkatan produktivitas berbasis kecerdasan buatan atau AI masih berpotensi menopang pasar.

Namun, volatilitas diperkirakan meningkat seiring perubahan ekspektasi investor terhadap pertumbuhan ekonomi dan kebijakan moneter.

“Investor akan mencermati keberlanjutan pertumbuhan laba, perkembangan sektor AI, serta kemampuan pasar menyerap tekanan tanpa memicu koreksi yang lebih luas,” ujar Liza.

Restitusi Pajak Indonesia Turun Menjadi Rp198,71 Triliun

Dari dalam negeri, investor mencermati perkembangan penerimaan dan pengembalian pajak yang berpotensi memengaruhi aktivitas dunia usaha.

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencatat realisasi restitusi pajak hingga September 2026 mencapai Rp198,71 triliun.

Angka tersebut turun 38,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp323,92 triliun.

Restitusi pajak didominasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar Rp137,79 triliun.

Sementara itu, restitusi Pajak Penghasilan (PPh) tercatat mencapai Rp59,08 triliun.

Penurunan realisasi restitusi berpotensi mencerminkan tertahannya pengembalian pajak yang dapat memengaruhi kondisi keuangan pelaku usaha.

Selain itu, masih terdapat utang restitusi sebesar Rp70,25 triliun pada akhir 2025 yang belum dicairkan.

Penundaan pembayaran hingga 2027 dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027.

Investasi Indonesia Capai Rp1.010,6 Triliun pada Semester I 2026

Di tengah ketidakpastian global, realisasi investasi Indonesia pada semester pertama 2026 tercatat mencapai Rp1.010,6 triliun.

Investasi tersebut berasal dari proyek penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA).

Dari realisasi tersebut, sebanyak 1,448 juta tenaga kerja berhasil terserap melalui berbagai proyek investasi.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan penyerapan tenaga kerja dari investasi langsung tumbuh rata-rata 22,4 persen dalam lima tahun terakhir.

“Tren ini mencerminkan kontribusi investasi terhadap penciptaan lapangan kerja dan aktivitas ekonomi domestik, dengan keberlanjutan realisasi investasi menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.” ujar Liza.

Bursa Saham Asia dan Wall Street Bergerak Bervariasi

Pada perdagangan Kamis (8/10/2026), mayoritas indeks saham utama di Amerika Serikat ditutup melemah.

Indeks S&P 500 turun 0,47 persen ke posisi 7.765,36, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 1,25 persen menjadi 27.193,34.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menguat 0,10 persen ke level 51.231,64.

Bursa saham Eropa juga mencatat pelemahan dengan indeks Euro Stoxx 50 turun 0,94 persen dan FTSE 100 Inggris melemah 0,16 persen.

Indeks DAX Jerman terkoreksi 1,18 persen, sedangkan CAC 40 Prancis turun 0,51 persen.

Pada perdagangan Jumat pagi, bursa saham Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi.

Indeks Nikkei Jepang melemah 0,73 persen ke posisi 68.548,00, sedangkan Hang Seng Hong Kong menguat 0,94 persen menjadi 24.010,50.

Indeks Shanghai China turun 1,19 persen ke level 3.766,44 dan Straits Times Singapura melemah 0,43 persen menjadi 5.389,85.

Sementara itu, perdagangan indeks Kospi Korea Selatan diliburkan untuk memperingati Hari Hangul.

Perkembangan pasar global dan kondisi ekonomi domestik menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan investor dalam menentukan arah perdagangan IHSG pada akhir pekan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026