
Pantau - Pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, menyusul laporan mengenai kemungkinan operasi militer baru AS terhadap Iran serta ekspektasi suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan perkembangan situasi geopolitik tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar keuangan, termasuk pergerakan mata uang negara berkembang seperti rupiah.
“Muncul laporan bahwa Gedung Putih telah meminta opsi serangan militer terhadap Iran menjelang pemilu sela AS,” ungkap Josua kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Selain ketegangan geopolitik, pergerakan rupiah juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak dunia dan kemungkinan kebijakan moneter ketat The Fed yang berlangsung lebih lama.
AS Dikabarkan Siapkan Opsi Serangan Militer terhadap Iran
Kantor berita Sputnik melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama tim keamanan nasionalnya telah membahas sejumlah opsi untuk melanjutkan operasi militer berskala besar terhadap Iran.
Pembahasan tersebut mencakup kemungkinan pelaksanaan operasi dalam beberapa pekan mendatang, termasuk sebelum pemilihan umum sela Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026.
Sementara itu, laporan NBC News yang mengutip sejumlah sumber menyebutkan bahwa pejabat pemerintahan Trump sebelumnya membahas strategi Amerika Serikat terkait Iran dan Yaman dalam pertemuan di Camp David.
Pertemuan tersebut berlangsung pada pekan sebelumnya dan membahas sejumlah langkah yang dapat ditempuh pemerintah Amerika Serikat dalam menghadapi perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah.
Setelah pertemuan itu, militer AS dilaporkan menyiapkan beberapa opsi operasional baru untuk dipertimbangkan Presiden Trump.
Meski demikian, hingga laporan tersebut disampaikan, belum ada keputusan akhir mengenai pelaksanaan operasi militer baru terhadap Iran.
Waktu dimulainya kembali operasi militer berskala besar juga masih belum dapat dipastikan.
Kenaikan Harga Minyak Tambah Tekanan terhadap Rupiah
Josua menjelaskan bahwa peningkatan ketegangan geopolitik turut menjadi perhatian pasar karena berkaitan dengan perkembangan harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak dapat menambah tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
“Kembali meningkatnya harga minyak juga menambah tekanan inflasi, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih dapat melakukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut,” ujar dia.
Menurutnya, kondisi tersebut memperkuat perkiraan pasar bahwa The Fed akan mempertahankan tingkat suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih panjang.
Ekspektasi kebijakan moneter yang ketat menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat dan kemungkinan perubahan suku bunga acuan The Fed hingga akhir 2026.
The Fed Berpeluang Kembali Naikkan Suku Bunga pada 2026
Risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026 menunjukkan mayoritas anggota The Fed memperkirakan kenaikan suku bunga acuan masih dapat dilakukan pada tahun ini.
Meski demikian, waktu pelaksanaan kenaikan suku bunga tersebut belum dapat dipastikan karena masih bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi dan inflasi.
Gubernur The Fed, Christopher Waller, juga menyampaikan bahwa penambahan kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk mengembalikan inflasi menuju target yang ditetapkan bank sentral.
Waller menekankan bahwa laju pengetatan kebijakan moneter tetap bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan perkembangan ekonomi.
Josua menyebutkan pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober 2026 masih cukup besar.
“Pasar saat ini memperkirakan probabilitas sekitar 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober 2026, sementara probabilitas kenaikan sebesar 25 bps (basis points) pada Desember 2026 mencapai sekitar 69 persen,” kata Josua.
Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mengantisipasi kemungkinan pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat menjelang akhir tahun.
Dengan meningkatnya ketegangan AS-Iran, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian arah suku bunga The Fed, pergerakan rupiah masih dipengaruhi perkembangan geopolitik serta kebijakan ekonomi global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




