HOME  ⁄  Ekonomi

Mentan Amran Siapkan Skema Penyerapan Jagung Saat Panen Raya, Libatkan Bulog dan Koperasi untuk Tekan Harga Pakan Peternak

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Mentan Amran Siapkan Skema Penyerapan Jagung Saat Panen Raya, Libatkan Bulog dan Koperasi untuk Tekan Harga Pakan Peternak
Foto: Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bertemu dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat 9/10/2026 (sumber: Kementan)

Pantau - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyiapkan skema penyerapan jagung saat panen raya dengan melibatkan Perum Bulog dan koperasi untuk menekan biaya pakan peternak, menjaga harga jual hasil panen petani, serta memperkuat ketersediaan pasokan jagung nasional.

Rencana tersebut disampaikan Mentan Amran saat menggelar pertemuan dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026), untuk membahas persoalan tingginya harga jagung dan biaya pakan yang membebani pelaku usaha peternakan.

Pemerintah berupaya membangun mekanisme penyerapan jagung ketika produksi melimpah sehingga petani tetap memperoleh harga jual yang layak, sementara peternak dapat mengakses bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau.

“Pemerintah ingin memastikan petani mendapatkan harga yang layak saat panen raya, sementara peternak memperoleh jagung dengan harga lebih terjangkau untuk kebutuhan pakan,” kata Amran.

Mentan menegaskan bahwa keseimbangan kepentingan petani dan peternak menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian dan peternakan nasional.

“Jangan sampai peternak rugi. Kalau rugi peternak, negara juga ikut rugi,” ujarnya.

Melalui skema yang disiapkan, jagung akan diserap ketika harga relatif murah, kemudian disimpan melalui koperasi agar dapat dimanfaatkan peternak saat harga pasar mengalami kenaikan.

Mentan Amran Dorong Penyerapan Jagung Saat Panen Raya

Mentan Amran menjelaskan bahwa penyerapan jagung pada masa panen raya menjadi salah satu langkah untuk mengantisipasi fluktuasi harga bahan baku pakan.

Menurutnya, pembelian jagung perlu dilakukan ketika produksi meningkat dan harga di tingkat pasar relatif murah agar stok dapat dikelola untuk memenuhi kebutuhan peternak pada waktu berikutnya.

“Negara beli pada saat murah, jangan siksa juga saat mahal,” katanya.

Melalui mekanisme tersebut, pemerintah berupaya memastikan petani memperoleh kepastian penyerapan hasil panen tanpa mengabaikan kebutuhan peternak terhadap bahan baku pakan yang terjangkau.

Jagung yang dibeli pada masa panen raya nantinya disimpan melalui koperasi sebagai bagian dari pengelolaan cadangan bahan baku pakan.

Stok tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan ketika peternak membutuhkan pasokan jagung, terutama saat harga di pasar mengalami kenaikan.

Pemerintah juga berupaya membangun sistem pengelolaan pasokan agar kebutuhan pakan tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi harga pasar saat pembelian dilakukan.

Bulog Siapkan Pembiayaan, Koperasi Jadi Tempat Penyimpanan Jagung

Dalam skema yang disiapkan Kementerian Pertanian, peternak akan berperan melakukan penyerapan jagung ketika panen raya berlangsung.

Sementara itu, Perum Bulog bertugas memberikan dukungan pembiayaan pembelian jagung, sedangkan koperasi menjadi tempat penyimpanan stok yang telah diserap.

Pembagian peran tersebut diharapkan dapat membangun sistem pasokan jagung yang menghubungkan petani, peternak, lembaga pembiayaan, dan fasilitas penyimpanan.

“Saya mau pakan ini ada sistem. Bapak yang serap, Bulog yang bayar,” tegas Amran.

Menurut Mentan, mekanisme tersebut diperlukan untuk membantu peternak memperoleh bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau sekaligus menjaga keberlanjutan produksi jagung di tingkat petani.

Pemerintah berharap stok jagung yang telah diserap dapat dikelola melalui koperasi sehingga penyalurannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan peternak.

Skema ini juga menjadi bagian dari upaya mengurangi tekanan biaya produksi yang selama ini dihadapi pelaku usaha peternakan, khususnya peternak ayam petelur.

Peternak Keluhkan Harga Jagung Rp8.400 per Kilogram

Pembahasan skema penyerapan jagung berlangsung di tengah meningkatnya keluhan peternak mengenai tingginya biaya pakan.

Persoalan tersebut sebelumnya juga menjadi salah satu tuntutan yang disampaikan peternak melalui aksi unjuk rasa ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Tingginya harga bahan baku pakan dinilai semakin membebani biaya produksi dan menyebabkan sebagian peternak mengalami kerugian.

Dalam pertemuan bersama Mentan Amran, perwakilan peternak asal Lampung bernama Kasmani menyampaikan kondisi harga dan ketersediaan jagung yang dihadapi peternak di daerahnya.

Kasmani menjelaskan bahwa Lampung Selatan merupakan salah satu sentra produksi jagung, tetapi peternak masih mengalami kesulitan memperoleh jagung dengan harga yang sesuai kebutuhan usaha.

Menurut Kasmani, harga jagung yang dibeli peternak dari petani maupun pengepul berada pada kisaran Rp8.400 per kilogram.

Harga tersebut menjadi persoalan karena jagung merupakan salah satu bahan baku utama dalam penyediaan pakan ternak, terutama untuk usaha ayam petelur.

Selain persoalan harga, Kasmani turut menyoroti perbedaan kadar air jagung yang menjadi kendala dalam proses penyerapan hasil panen.

Mentan Amran Ungkap Pasokan 40 Ribu Ton Jagung, Minta Bulog Hitung Anggaran

Mentan Amran mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 40 ribu ton jagung yang menjadi bagian dari pasokan yang dibahas dalam rencana skema penyerapan.

Pemerintah tetap berupaya melakukan penyerapan jagung dengan mempertimbangkan kemampuan pembiayaan negara serta mengoptimalkan stok yang tersedia.

“Saat ini ada 40 ribu ton, tapi ini tetap menyerap. Negara punya keterbatasan. Sekarang yang ada dulu 40 ribu jagung,” ujar Mentan Amran.

Menurut Amran, keterbatasan kemampuan pembiayaan negara harus menjadi pertimbangan agar mekanisme penyerapan jagung dapat dijalankan sesuai kapasitas yang tersedia.

Karena itu, Mentan meminta Perum Bulog menghitung kembali kebutuhan anggaran untuk mendukung pembelian dan pengelolaan stok jagung.

Perhitungan tersebut diperlukan agar proses pembelian, penyimpanan, dan penyaluran jagung dapat dilaksanakan secara efektif.

Pemerintah juga perlu mempertimbangkan prioritas penyaluran berdasarkan jumlah stok yang tersedia serta kebutuhan peternak di berbagai daerah.

“Ini sudah solusi terbaik untuk bantu peternak supaya untung,” kata Mentan.

Presiden Prabowo Siapkan Rp5 Triliun untuk Gudang Bulog dan Mesin Pengering

Selain menyiapkan skema penyerapan, Mentan Amran menyoroti pentingnya penguatan fasilitas pergudangan dan pengeringan jagung di daerah sentra produksi.

Kebutuhan tersebut muncul karena jagung hasil panen dari sejumlah wilayah masih menghadapi kendala dalam memenuhi standar kadar air yang dipersyaratkan untuk penyerapan.

Perwakilan peternak asal Lampung, Kasmani, mencontohkan jagung dari Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki kadar air sekitar 16–17 persen.

Sementara itu, jagung yang diserap Perum Bulog dipersyaratkan memiliki kadar air sebesar 14 persen.

Perbedaan kadar air tersebut menjadi tantangan karena hasil panen perlu memenuhi standar kualitas sebelum dapat masuk ke dalam mekanisme pengadaan dan penyimpanan.

Menanggapi persoalan tersebut, Mentan Amran menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan dukungan anggaran sebesar Rp5 triliun untuk memperkuat infrastruktur pergudangan Perum Bulog.

“Presiden sudah tetapkan anggaran Rp5 triliun untuk gudang paket Bulog. Lengkapi dengan dryer,” ujar Amran.

Mentan meminta fasilitas pergudangan Bulog dilengkapi dengan mesin pengering atau dryer agar kualitas jagung dapat dijaga sebelum memasuki tahap penyimpanan.

Keberadaan mesin pengering diharapkan dapat membantu menurunkan kadar air jagung sehingga hasil panen petani memenuhi standar yang diperlukan dalam proses penyerapan.

NTB dan Gorontalo Jadi Perhatian Penguatan Fasilitas Pengeringan Jagung

Mentan Amran secara khusus menyoroti wilayah yang memiliki potensi produksi jagung besar, seperti Nusa Tenggara Barat dan Gorontalo, sebagai daerah yang perlu mendapat perhatian dalam penguatan fasilitas pergudangan.

Pengadaan fasilitas pengeringan di sentra produksi tersebut diharapkan dapat mengurangi kendala kualitas jagung akibat tingginya kadar air hasil panen.

Selain membantu memenuhi standar penyerapan, fasilitas pengeringan juga diperlukan untuk menjaga mutu jagung selama masa penyimpanan.

Penguatan infrastruktur pergudangan menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun sistem pengelolaan stok jagung yang lebih terintegrasi.

Dengan dukungan gudang dan mesin pengering, jagung yang diserap pada masa panen raya diharapkan dapat disimpan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pakan pada waktu berikutnya.

Langkah tersebut juga diarahkan untuk memperlancar proses penyerapan hasil panen petani di wilayah yang memiliki potensi produksi jagung besar.

Pemerintah Targetkan Harga Jagung Stabil dan Biaya Pakan Peternak Turun

Melalui kombinasi penyerapan jagung saat panen raya, dukungan pembiayaan Bulog, penyimpanan melalui koperasi, serta penguatan fasilitas pengeringan, pemerintah berupaya membangun sistem pasokan jagung pakan yang lebih terintegrasi.

Mekanisme tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian penyerapan hasil panen bagi petani dengan harga yang layak.

Di sisi lain, peternak diharapkan memperoleh akses terhadap bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau sehingga beban biaya produksi dapat ditekan.

Pengelolaan stok jagung ketika produksi melimpah juga diarahkan untuk mengurangi tekanan harga saat pasokan di pasar mengalami perubahan.

Mentan Amran menekankan pentingnya kerja sama antara petani, peternak, Perum Bulog, dan koperasi agar mekanisme penyerapan, pembiayaan, penyimpanan, serta penyaluran jagung berjalan sesuai kebutuhan.

Pemerintah juga akan mempertimbangkan kemampuan pembiayaan dan ketersediaan stok dalam menentukan pelaksanaan skema tersebut.

Melalui langkah tersebut, Kementerian Pertanian menargetkan terciptanya keseimbangan antara harga jual yang menguntungkan petani, biaya pakan yang lebih terjangkau bagi peternak, serta ketersediaan jagung untuk mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026