
Pantau - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot secara resmi memulai tahap penggenangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat (9/10/2026), sebagai persiapan pengujian fasilitas pembangkit sebelum memasuki tahap operasional.
Peresmian penggenangan dilakukan langsung oleh Yuliot di kawasan Bendungan Air PLTA Batang Toru yang dikembangkan oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE).
“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, penggenangan PLTA Batang Toru, Tapanuli Selatan, dimulai,” ujar Yuliot.
Tahap penggenangan menjadi salah satu proses penting untuk memastikan kesiapan fasilitas pembangkit, mulai dari rumah pembangkit, ketersediaan air, hingga sistem penyaluran listrik menuju jaringan transmisi.
Pemerintah menargetkan seluruh tahapan penggenangan dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2026 setelah melalui serangkaian pengujian instrumen selama sekitar dua minggu.
PLTA Batang Toru nantinya diharapkan memperkuat pasokan listrik di wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), khususnya saat kebutuhan daya mencapai periode beban puncak.
Wakil Menteri ESDM Mulai Penggenangan PLTA Batang Toru
Wakil Menteri ESDM Yuliot menjelaskan bahwa penggenangan merupakan tahapan yang harus dilalui sebelum seluruh fasilitas pembangkit listrik dapat menjalani pengujian secara menyeluruh.
Menurutnya, proses tersebut diperlukan agar pengelola dapat memastikan berbagai instrumen pembangkit berfungsi sesuai kebutuhan operasional.
“Jadi, proses yang kita lakukan hari ini adalah untuk proses penggenangan. Tanpa penggenangan, kita tidak bisa melakukan uji coba atas seluruh fasilitas yang ada di sini,” ucap Yuliot.
Pengujian setelah penggenangan mencakup pemeriksaan fasilitas rumah pembangkit atau power house, pencapaian target genangan air, serta kesiapan sistem penyaluran energi listrik.
Rumah pembangkit menjadi salah satu komponen utama yang harus dipastikan kesiapannya karena merupakan tempat berlangsungnya proses pembangkitan listrik dengan memanfaatkan tenaga air.
Selain itu, pengelola perlu memastikan ketinggian dan volume genangan air mencapai target yang dibutuhkan untuk mendukung pengoperasian pembangkit.
Pengujian juga dilakukan terhadap sistem evakuasi daya yang berfungsi menyalurkan energi listrik dari pembangkit menuju jaringan transmisi.
Melalui pemeriksaan tersebut, pemerintah berupaya memastikan seluruh fasilitas PLTA Batang Toru siap menjalani tahapan operasional berikutnya.
Pengujian Instrumen Berlangsung Dua Minggu, Penggenangan Ditargetkan Selesai Oktober 2026
Yuliot menyampaikan bahwa pengelola PLTA Batang Toru akan melaksanakan pengujian terhadap berbagai instrumen setelah proses penggenangan dimulai.
Pengujian tersebut direncanakan berlangsung selama sekitar dua minggu untuk memastikan kesiapan fasilitas pembangkit dan sistem pendukungnya.
“Ini dua minggu dilakukan uji coba terhadap seluruh instrumen,” ujar Yuliot.
Selama periode pengujian, pengelola akan memeriksa kesiapan rumah pembangkit, pencapaian target genangan, serta sistem penyaluran daya menuju jaringan transmisi.
Pemerintah berharap seluruh proses yang berkaitan dengan penggenangan dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2026.
Penyelesaian tahapan tersebut menjadi bagian dari persiapan proyek untuk melanjutkan kegiatan menuju pengoperasian pembangkit.
Pengujian menyeluruh diperlukan agar fasilitas yang telah dibangun dapat berfungsi sesuai rancangan sebelum digunakan untuk menghasilkan dan menyalurkan energi listrik.
Kementerian ESDM berharap seluruh rangkaian pengujian dapat berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
PLTA Batang Toru Berkapasitas 510 MW untuk Perkuat Pasokan Listrik Sumbagut
PLTA Batang Toru merupakan proyek pembangkit listrik tenaga air yang dikembangkan dan dikelola oleh PT North Sumatera Hydro Energy.
Pembangkit tersebut memiliki kapasitas terpasang total sebesar 510 MW yang direncanakan untuk mendukung kebutuhan energi listrik di wilayah Sumatera Bagian Utara.
Dengan kapasitas tersebut, PLTA Batang Toru diproyeksikan menjadi salah satu fasilitas pembangkit yang berperan dalam memperkuat sistem kelistrikan regional.
Pemerintah menargetkan pembangkit ini dapat membantu menjaga stabilitas dan fleksibilitas subsistem kelistrikan Sumbagut.
Peran tersebut berkaitan dengan kemampuan pembangkit dalam memberikan dukungan pasokan daya sesuai kebutuhan sistem kelistrikan.
Pemanfaatan energi air sebagai sumber pembangkitan juga diharapkan dapat memberikan alternatif pasokan listrik untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.
Kehadiran PLTA Batang Toru diarahkan untuk memperkuat kemampuan sistem kelistrikan dalam menyesuaikan pasokan energi dengan perubahan kebutuhan listrik masyarakat.
PLTA Batang Toru Dirancang Beroperasi Saat Beban Puncak Pukul 18.00 hingga 24.00
PLTA Batang Toru dirancang untuk beroperasi secara penuh pada periode beban puncak listrik, yakni mulai pukul 18.00 hingga 24.00.
Periode tersebut merupakan waktu ketika kebutuhan konsumsi listrik meningkat sehingga sistem kelistrikan memerlukan dukungan pasokan daya yang memadai.
Pengoperasian pembangkit pada jam beban puncak diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan listrik sekaligus menjaga kestabilan pasokan energi.
Pembangkit berkapasitas 510 MW tersebut dipersiapkan untuk memberikan dukungan daya ketika permintaan listrik mengalami peningkatan.
Pemerintah menilai kemampuan pembangkit dalam mendukung periode beban puncak menjadi salah satu aspek penting untuk memperkuat fleksibilitas sistem kelistrikan Sumbagut.
Dengan memanfaatkan tenaga air, PLTA Batang Toru diharapkan dapat menyediakan tambahan pasokan listrik sesuai kebutuhan sistem regional.
Pemerintah Targetkan Pengurangan Pembangkit Diesel dan Bahan Bakar Minyak
Selain memperkuat pasokan listrik, pemerintah menargetkan pengoperasian PLTA Batang Toru dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.
Pembangkit tersebut diharapkan dapat menggantikan sebagian penggunaan pembangkit berbasis energi fosil atau memungkinkan penghentian pengoperasian pembangkit sewa yang memiliki biaya tinggi.
Jenis pembangkit yang menjadi perhatian antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan pembangkit berbahan bakar minyak yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik pada periode beban puncak.
Pengurangan penggunaan pembangkit berbahan bakar minyak berbiaya tinggi menjadi salah satu sasaran pemerintah melalui pengoperasian PLTA Batang Toru.
Dengan memanfaatkan energi air, pembangkit tersebut diharapkan dapat mendukung penyediaan listrik sekaligus mengurangi kebutuhan pengoperasian fasilitas pembangkit berbahan bakar fosil.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pasokan energi listrik melalui pemanfaatan sumber energi air.
Operasional PLTA Batang Toru Sempat Tertunda Akibat Banjir dan Longsor
Sebelumnya, proyek PLTA Batang Toru ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2025.
Namun, target tersebut mengalami penundaan akibat dampak bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di wilayah Sumatera pada November 2025.
Bencana tersebut memengaruhi pelaksanaan proyek sehingga jadwal pengoperasian pembangkit tidak dapat direalisasikan sesuai rencana awal.
Setelah mengalami penundaan, proyek PLTA Batang Toru kini memasuki tahap penggenangan sebagai bagian dari kelanjutan persiapan operasional.
Dimulainya penggenangan pada 9 Oktober 2026 menjadi langkah untuk memastikan berbagai fasilitas pembangkit dapat menjalani pengujian sebelum digunakan dalam proses produksi listrik.
Pengelola proyek akan melaksanakan pemeriksaan terhadap instrumen pembangkit, pencapaian target genangan, dan kesiapan sistem penyaluran daya.
Pemerintah berharap penyelesaian tahapan penggenangan pada akhir Oktober 2026 dapat mendukung kelanjutan proyek menuju tahap operasional berikutnya.
PLTA Batang Toru Diharapkan Jadi Penopang Stabilitas Kelistrikan Sumatera Utara
Kementerian ESDM menempatkan PLTA Batang Toru sebagai salah satu proyek yang diharapkan dapat memperkuat pasokan energi listrik di wilayah Sumatera Bagian Utara.
Pembangkit berkapasitas 510 MW tersebut disiapkan untuk membantu menjaga stabilitas sistem kelistrikan, terutama ketika kebutuhan daya meningkat pada jam beban puncak.
Selain itu, keberadaan PLTA Batang Toru diharapkan dapat mengurangi kebutuhan penggunaan pembangkit diesel maupun pembangkit berbahan bakar minyak berbiaya tinggi.
Tahap penggenangan menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan teknis fasilitas sebelum pembangkit dapat melanjutkan proses pengoperasian.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM berharap seluruh instrumen pembangkit dapat diuji sesuai jadwal sehingga proses penggenangan selesai pada akhir Oktober 2026.
Dengan dimulainya penggenangan dan pengujian fasilitas, PLTA Batang Toru memasuki tahapan lanjutan menuju pengoperasian untuk mendukung kebutuhan listrik serta memperkuat stabilitas sistem kelistrikan Sumatera Bagian Utara.
- Penulis :
- Shila Glorya




