HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Anjlok 1,94 Persen ke Level 5.975,78, Pengamat Ungkap Tekanan Global dan Domestik Picu Pelemahan Saham

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Anjlok 1,94 Persen ke Level 5.975,78, Pengamat Ungkap Tekanan Global dan Domestik Picu Pelemahan Saham
Foto: (Sumber :Arsip - Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 117,98 poin atau 1,94 persen ke posisi 5.975,78 pada penutupan perdagangan sesi pertama Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (12/10/2026), akibat tekanan sentimen global dan domestik yang membuat investor semakin berhati-hati.

Pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan pelemahan indeks dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan potensi berlanjutnya aksi jual investor asing.

“Pelemahan IHSG hari ini perlu dilihat dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik,” ujar Elandry saat dihubungi di Jakarta, Senin (12/10/2026).

Tekanan tersebut turut memengaruhi pergerakan saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45, dengan penurunan sebesar 9,74 poin atau 1,62 persen ke posisi 591,93.

Kebijakan The Fed dan Risiko Geopolitik Tekan Pasar Saham

Elandry menjelaskan bahwa pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.

Selain kebijakan moneter AS, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau yield US Treasury juga menjadi perhatian investor.

Perubahan imbal hasil obligasi tersebut menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi keputusan investasi di pasar keuangan.

Risiko geopolitik global turut menambah ketidakpastian dan memicu volatilitas di pasar saham.

Kombinasi sejumlah faktor tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi faktor lain yang membatasi ruang penguatan IHSG.

Elandry juga menyoroti potensi berlanjutnya aksi jual bersih investor asing atau net foreign sell yang dapat memperbesar tekanan terhadap indeks.

“Kondisi ini membuat investor cenderung lebih berhati-hati dan menurunkan risk appetite terhadap aset berisiko,” ujar Elandry.

IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi Jika Aksi Jual Asing Berlanjut

Elandry memperkirakan IHSG masih berpotensi mengalami koreksi lanjutan dalam jangka pendek apabila tekanan jual investor asing belum mereda.

Risiko pelemahan juga dapat meningkat apabila indeks belum mampu membentuk area penopang harga atau support yang kuat.

Meski demikian, ia menilai penurunan tajam pada perdagangan Senin belum tentu menjadi awal tren penurunan berkepanjangan atau bearish.

Menurutnya, arah pergerakan indeks berikutnya perlu dilihat berdasarkan perkembangan sejumlah indikator pasar.

“Investor perlu mencermati perkembangan rupiah, aliran dana asing, serta kemampuan IHSG untuk stabil setelah tekanan jual mereda," ujar Elandry.

Pergerakan nilai tukar rupiah dan arus modal asing menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk menilai peluang stabilisasi pasar saham.

Kemampuan IHSG bertahan setelah tekanan jual berkurang juga menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan investor dalam menentukan langkah investasi.

Pengamat Sarankan Investor Cermati Saham Keuangan dan Harga Minyak

Di tengah kondisi pasar yang bergejolak, Elandry menyarankan investor mencermati saham-saham sektor keuangan.

Ia juga menyoroti saham perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan perubahan harga minyak mentah dunia.

Namun, pemilihan saham tetap perlu mempertimbangkan kondisi fundamental perusahaan dan tingkat harga yang dinilai sesuai.

“Meski demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan valuasi, fundamental, dan level support masing-masing saham.,” ujar Elandry.

Elandry mengingatkan investor agar tidak terburu-buru membeli saham hanya karena harga mengalami penurunan tajam.

Dalam kondisi volatilitas tinggi, strategi akumulasi secara bertahap dinilai lebih berhati-hati dibandingkan langsung melakukan pembelian dalam jumlah besar.

Investor juga disarankan tidak terburu-buru melakukan bottom fishing atau membeli saham dengan harapan harga telah mencapai titik terendah sebelum terdapat konfirmasi pembalikan arah.

Sebanyak 562 Saham Melemah pada Perdagangan Sesi Pertama

Berdasarkan data BEI, IHSG ditutup pada posisi 5.975,78 setelah kehilangan 117,98 poin pada akhir perdagangan sesi pertama Senin (12/10/2026).

Sementara itu, Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turun 9,74 poin atau 1,62 persen menjadi 591,93.

Aktivitas perdagangan saham tercatat mencapai 1,04 juta kali transaksi sepanjang sesi pertama.

Jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 35,39 miliar lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp6,40 triliun.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 166 saham mengalami kenaikan harga.

Sebanyak 562 saham tercatat melemah, sedangkan 235 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.

Dominasi saham yang melemah mencerminkan tekanan jual yang meluas pada perdagangan sesi pertama di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap perkembangan pasar global dan domestik.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026