HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Anjlok 2,59 Persen ke Level 6.936,15, Seluruh Sektor Saham Melemah akibat Tekanan Geopolitik dan Ekonomi Global

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Anjlok 2,59 Persen ke Level 6.936,15, Seluruh Sektor Saham Melemah akibat Tekanan Geopolitik dan Ekonomi Global
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 157,61 poin atau 2,59 persen ke level 6.936,15 pada perdagangan Senin sore, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global yang menekan pasar saham domestik.

Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan di BEI, dengan penurunan sebesar 10,77 poin atau 1,79 persen ke posisi 690,90.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG dipengaruhi sejumlah sentimen negatif global, termasuk tingginya harga minyak mentah, kekhawatiran arus keluar modal asing, serta isu terkait MSCI.

Harga minyak mentah Brent yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel turut menjadi perhatian investor karena berpotensi memberikan tekanan terhadap kondisi perekonomian.

"Sentimen negatif berasal dari ketidakpastian di global yang masih tinggi, harga minyak Brent yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel, kekhawatiran akan potensi capital outflow di pasar obligasi Indonesia, serta berbagai isu mengenai MSCI," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Ketidakpastian Global dan Kebijakan The Fed Tekan Pasar Saham

Ratna menjelaskan bahwa pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi internasional, terutama arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.

Kebijakan moneter The Fed menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pergerakan aliran dana di pasar keuangan global, termasuk pasar saham dan obligasi negara berkembang seperti Indonesia.

Selain itu, investor juga mengamati pergerakan imbal hasil atau yield surat utang pemerintah Amerika Serikat, US Treasury, yang menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan arah investasi global.

Perubahan imbal hasil surat utang Amerika Serikat dapat memengaruhi daya tarik investasi pada berbagai instrumen keuangan dan meningkatkan potensi perpindahan modal dari pasar negara berkembang.

Di sisi lain, perkembangan geopolitik internasional turut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan berlanjutnya volatilitas harga aset keuangan.

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah laporan serangan kelompok Houthi dari Yaman terhadap sejumlah wilayah di Arab Saudi.

Serangan tersebut dilaporkan menyasar sejumlah fasilitas strategis, termasuk infrastruktur minyak milik Aramco dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.

Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian pasar karena wilayah tersebut memiliki peran penting dalam pasokan energi dunia.

Ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, ditambah harga minyak mentah Brent di atas 100 dolar AS per barel, menjadi kombinasi sentimen yang membayangi pergerakan pasar keuangan.

Rupiah Melemah ke Rp17.899 per Dolar AS, Investor Asing Jadi Sorotan

Dari dalam negeri, tekanan terhadap nilai tukar rupiah turut memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan IHSG.

Rupiah tercatat ditutup melemah sebesar 0,08 persen hingga berada pada posisi Rp17.899 per dolar AS.

Pelemahan mata uang domestik tersebut terjadi di tengah kekhawatiran mengenai kemungkinan berlanjutnya aksi jual bersih investor asing atau net foreign sell di pasar keuangan Indonesia.

Potensi arus keluar modal asing atau capital outflow menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor, khususnya di pasar obligasi domestik.

Kekhawatiran terhadap tekanan jual investor asing turut membatasi kemampuan IHSG untuk kembali menguat sepanjang perdagangan.

Pada awal perdagangan, IHSG sebenarnya sempat dibuka di zona positif sebelum akhirnya berbalik arah menuju wilayah negatif.

Tekanan jual kemudian membuat indeks terus bergerak melemah hingga berakhirnya sesi pertama perdagangan.

Memasuki sesi kedua, IHSG belum mampu keluar dari zona merah dan terus mengalami tekanan hingga penutupan perdagangan saham.

Indeks akhirnya ditutup pada level 6.936,15 setelah kehilangan 157,61 poin dalam satu hari perdagangan.

Seluruh 11 Sektor Saham Melemah, Energi Anjlok Paling Dalam

Berdasarkan klasifikasi indeks sektoral IDX-IC, seluruh sebelas sektor saham di Bursa Efek Indonesia mengalami pelemahan pada perdagangan Senin.

Sektor energi mencatat penurunan paling dalam dengan pelemahan sebesar 5,88 persen.

Penurunan tersebut terjadi meskipun harga minyak mentah Brent di pasar global masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel.

Setelah sektor energi, sektor industri mencatat pelemahan terbesar berikutnya sebesar 5,20 persen.

Sementara itu, sektor infrastruktur mengalami penurunan sebesar 4,72 persen pada akhir perdagangan.

Pelemahan yang terjadi pada seluruh sektor menunjukkan bahwa tekanan jual melanda berbagai kelompok saham di pasar modal Indonesia.

Meski mayoritas saham mengalami penurunan, sejumlah emiten masih berhasil mencatatkan penguatan harga.

Saham BIKE, TFCO, ZONE, IFSH, dan MINE masuk dalam kelompok saham dengan kenaikan harga terbesar atau top gainers.

Sebaliknya, saham CCSI, MBSS, MAPB, PTRO, dan CUAN tercatat sebagai kelompok saham dengan penurunan harga terbesar atau top losers.

Sebanyak 632 Saham Turun, Nilai Transaksi BEI Capai Rp13,57 Triliun

Dari sisi aktivitas perdagangan, Bursa Efek Indonesia mencatat frekuensi transaksi sebanyak 1,85 juta kali sepanjang perdagangan Senin.

Total volume perdagangan mencapai 57,73 miliar lembar saham yang berpindah tangan.

Sementara itu, nilai transaksi saham di BEI tercatat mencapai Rp13,57 triliun.

Berdasarkan pergerakan harga saham, sebanyak 118 saham berhasil ditutup menguat.

Sebaliknya, sebanyak 632 saham mengalami penurunan harga, sedangkan 213 saham lainnya ditutup stagnan atau tidak mengalami perubahan.

Jumlah saham yang melemah jauh lebih besar dibandingkan saham yang menguat, mencerminkan dominasi tekanan jual sepanjang perdagangan.

Kondisi tersebut sejalan dengan penurunan IHSG sebesar 2,59 persen serta pelemahan seluruh sektor saham di BEI.

Bursa Asia Bergerak Beragam, Kospi Korea Selatan Turun 3,65 Persen

Sementara itu, pergerakan bursa saham regional Asia pada perdagangan Senin sore menunjukkan hasil yang beragam.

Indeks Hang Seng di Hong Kong tercatat menguat sebesar 0,25 persen hingga mencapai level 24.271,20.

Indeks Shanghai di China juga mengalami kenaikan sebesar 0,43 persen dan ditutup pada posisi 3.797,24.

Berbeda dengan kedua indeks tersebut, indeks Kospi di Korea Selatan mencatat pelemahan sebesar 3,65 persen hingga berada pada level 6.384,24.

Adapun indeks Straits Times di Singapura menguat sebesar 0,30 persen dan mencapai posisi 5.417,96.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar saham tidak terjadi secara merata di kawasan Asia meskipun ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global masih menjadi perhatian investor.

Di Indonesia, kombinasi sentimen negatif dari luar negeri dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah membuat IHSG gagal mempertahankan penguatan pada awal perdagangan.

Kekhawatiran mengenai harga minyak dunia, kebijakan suku bunga The Fed, potensi arus keluar modal asing, serta perkembangan geopolitik Timur Tengah masih menjadi faktor yang dicermati pelaku pasar.

Pelemahan seluruh sektor saham dan dominasi 632 saham yang mengalami penurunan menjadi gambaran tekanan jual yang terjadi di Bursa Efek Indonesia hingga IHSG ditutup pada level 6.936,15.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026