HOME  ⁄  Ekonomi

Nelayan Pulau Lanjukang dan Langkai Jaga Kelestarian Laut, Tangkapan Gurita Kini Bisa Capai 15 Ekor Sehari

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Nelayan Pulau Lanjukang dan Langkai Jaga Kelestarian Laut, Tangkapan Gurita Kini Bisa Capai 15 Ekor Sehari
Foto: (Sumber :Suasana di kawasan konservasi Pulau Lanjukan dan Pulau Langkai, Makassar, yang menerapkan sistem buka tutup penangkapan hasil laut. ANTARA/ Suriani Mappong.)

Pantau - Nelayan di Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai, Kepulauan Spermonde, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mulai menerapkan pengelolaan kawasan penangkapan gurita melalui sistem buka tutup untuk menjaga ketersediaan sumber daya laut sekaligus mempertahankan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Sistem tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan konservasi setelah nelayan menghadapi penurunan hasil tangkapan gurita akibat tekanan penangkapan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Salah seorang nelayan, Erwin (48), mengaku pernah mengalami masa sulit ketika hasil tangkapan gurita hanya mencapai tiga hingga lima ekor sehari.

Kini, Erwin dapat memperoleh hingga 15 ekor gurita dalam sehari yang kemudian dijual kepada pengepul.

Nelayan Lanjukang Pernah Kesulitan Mendapatkan Gurita

Erwin merupakan nelayan yang telah mengenal kehidupan laut sejak kecil dengan mengikuti pekerjaan kakek dan ayahnya.

Sejak pertengahan 1980-an, ia terbiasa melaut untuk menangkap ikan dan gurita di perairan sekitar Kepulauan Spermonde.

Namun, baru sekitar satu dekade terakhir Erwin menjadikan gurita sebagai komoditas utama hasil tangkapannya.

Menurut pengalaman Erwin, menangkap gurita membutuhkan keterampilan khusus untuk membaca kondisi perairan dan mengetahui lokasi persembunyian hewan laut tersebut.

Hasil tangkapan yang diperoleh juga memiliki ukuran dan nilai jual berbeda.

Gurita dengan berat lebih dari dua kilogram masuk kategori A, sedangkan gurita berbobot satu hingga 1,9 kilogram termasuk kategori B.

Sementara itu, gurita berukuran kurang dari satu kilogram masuk kategori C dan D.

Gurita berukuran besar menjadi salah satu komoditas yang diminati pasar ekspor, termasuk negara-negara di Eropa dan Amerika.

Meski memiliki nilai ekonomi yang tinggi, nelayan di Pulau Lanjukang dan Langkai pernah menghadapi penurunan jumlah tangkapan.

Erwin mengenang kondisi pada 2020 ketika gurita semakin sulit ditemukan meskipun aktivitas melaut berkurang akibat pembatasan sosial.

“Makin susah cari gurita. Paling banyak dapat tiga hingga lima ekor per hari. Itu pun ukurannya kecil. Melaut hanya cukup untuk makan saja,” kata Erwin.

Nilai Ekspor Gurita Sulawesi Selatan Capai 10,7 Juta Dolar AS

Gurita merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir Sulawesi Selatan.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2020, ekspor gurita asal Sulawesi Selatan mencapai 2,1 juta ekor.

Nilai ekspor komoditas tersebut tercatat sekitar 10,7 juta dolar Amerika Serikat.

Besarnya nilai ekonomi gurita mendorong aktivitas penangkapan untuk memenuhi permintaan pasar.

Namun, penangkapan yang dilakukan tanpa mempertimbangkan jumlah dan ukuran gurita turut memberikan tekanan terhadap ketersediaan stok di laut.

Dalam kondisi tersebut, nelayan semakin sulit memperoleh gurita berukuran besar.

Penurunan jumlah dan ukuran tangkapan juga berdampak pada penghasilan masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari hasil laut.

Sistem Buka Tutup Penangkapan Jadi Upaya Menjaga Laut

Kondisi menurunnya hasil tangkapan mendorong kesadaran nelayan mengenai pentingnya memberikan kesempatan bagi sumber daya laut untuk pulih.

Di kawasan konservasi Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai, pengelolaan penangkapan hasil laut dilakukan melalui sistem buka tutup.

Sistem tersebut mengatur periode pemanfaatan kawasan penangkapan agar aktivitas mengambil hasil laut tidak berlangsung terus-menerus.

Upaya ini berkaitan dengan kebutuhan menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pulau.

Bagi nelayan seperti Erwin, keberadaan gurita di perairan sekitar pulau memiliki arti penting karena hasil penjualannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Pengalaman sulit memperoleh gurita pada 2020 menjadi salah satu gambaran dampak berkurangnya stok tangkapan terhadap kehidupan nelayan.

Gurita Tetap Jadi Sumber Penghasilan Nelayan Kepulauan Spermonde

Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai merupakan dua pulau terluar dalam wilayah administrasi Kota Makassar yang berada di kawasan Kepulauan Spermonde.

Sebagian masyarakat di kedua pulau tersebut menggantungkan penghasilan pada kegiatan penangkapan hasil laut, termasuk gurita.

Nelayan biasanya berangkat melaut dan kembali membawa hasil tangkapan untuk dijual kepada pengepul.

Bagi Erwin, gurita menjadi komoditas utama karena memiliki harga jual yang relatif lebih tinggi dibandingkan ikan.

Meski hasil tangkapannya kini dapat mencapai 15 ekor sehari, pengalaman ketika stok gurita menipis menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kegiatan penangkapan dan kelestarian laut.

Penerapan pengelolaan kawasan penangkapan melalui sistem buka tutup menjadi salah satu langkah masyarakat nelayan Pulau Lanjukang dan Langkai dalam mempertahankan sumber penghidupan mereka.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026