HOME  ⁄  Ekonomi

Menperin Sarmuji Dorong Pengembangan 43 Sentra Ulos di Sumut, Ekspor Tenun Ikat Indonesia Meningkat Tajam

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Menperin Sarmuji Dorong Pengembangan 43 Sentra Ulos di Sumut, Ekspor Tenun Ikat Indonesia Meningkat Tajam
Foto: (Sumber :Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji dalam Pameran Tenun Ulos di Jakarta, Selasa (13/10/2026). ANTARA/A Muzdaffar Fauzan.)

Pantau - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong pengembangan industri kain ulos melalui peningkatan keterampilan perajin, inovasi produk, modernisasi peralatan, dan perluasan pasar guna meningkatkan daya saing industri tenun tradisional Indonesia.

Sarmuji menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Pameran Tenun Ulos di Jakarta, Selasa (13/10/2026), dengan menekankan pentingnya menjaga nilai budaya ulos sekaligus meningkatkan manfaat ekonominya bagi masyarakat.

Menurutnya, ulos merupakan warisan budaya masyarakat Batak yang memiliki nilai sosial dan ekonomi serta menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Pengembangan industri ulos dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan agar produk tenun tradisional tetap relevan dengan kebutuhan pasar dan mampu meningkatkan kesejahteraan perajin.

Kemenperin Catat 43 Sentra Tenun Ulos di Sumatera Utara

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), terdapat 43 sentra tenun ulos yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Utara.

Sentra produksi tersebut antara lain berada di Kabupaten Tapanuli Utara, Toba, dan Simalungun.

Keberadaan puluhan sentra tersebut menunjukkan bahwa industri ulos memiliki basis produksi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing produk.

Sarmuji menilai peluang pengembangan ulos semakin terbuka seiring meningkatnya kesempatan produk lokal memasuki pasar domestik.

Selain digunakan dalam berbagai tahapan kehidupan dan upacara adat masyarakat Batak, kain ulos kini mulai dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Produk tersebut meliputi busana siap pakai, aksesori fesyen, dekorasi interior, hingga cenderamata.

Diversifikasi produk menjadi salah satu upaya untuk memperluas pemanfaatan kain ulos tanpa menghilangkan identitas budaya yang melekat pada produk tersebut.

Regenerasi Perajin dan Inovasi Desain Jadi Tantangan Industri Ulos

Sarmuji mengungkapkan bahwa industri tenun ulos masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mempertahankan keberlanjutan produksi.

Salah satu persoalan utama adalah regenerasi perajin dan keberlanjutan keterampilan menenun di tengah perubahan minat generasi muda.

Selain itu, pelaku industri perlu meningkatkan kualitas produk, mengembangkan inovasi desain, serta menyesuaikan produksi dengan kebutuhan pasar.

Kemenperin menilai penguatan sumber daya manusia menjadi langkah penting untuk menjaga kelangsungan industri tenun tradisional.

Pemerintah juga mendorong pengembangan kewirausahaan bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) agar mampu meningkatkan kapasitas usaha.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing produk ulos sekaligus mempertahankan keterampilan menenun sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Batak.

Kemenperin Siapkan Penguatan Mesin, Bahan Baku, dan Akses Pasar

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Kemenperin berkomitmen memperkuat ekosistem industri tenun tradisional melalui sejumlah program pengembangan.

Program tersebut mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kewirausahaan IKM, serta peningkatan produktivitas sentra industri.

Kemenperin juga mendorong perlindungan produk khas daerah melalui mekanisme indikasi geografis.

Perlindungan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga identitas dan kekhasan produk tenun tradisional yang berasal dari daerah tertentu.

Selain itu, pemerintah menyiapkan dukungan restrukturisasi mesin dan peralatan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi.

Ketersediaan bahan baku dan pemanfaatan teknologi juga menjadi perhatian dalam pengembangan industri ulos.

Untuk memperluas pemasaran, Kemenperin mendorong promosi produk melalui pameran di dalam negeri maupun luar negeri.

Langkah tersebut ditujukan untuk mempertemukan pelaku industri tenun dengan pasar yang lebih luas.

Ekspor Tenun Ikat Indonesia Capai 34 Ribu Dolar AS pada Semester I 2026

Sarmuji menyampaikan bahwa potensi pengembangan industri tenun turut terlihat dari peningkatan nilai ekspor tenun ikat Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor tenun ikat Indonesia sepanjang 2025 mencapai 28.000 dolar AS.

Sementara itu, pada semester pertama 2026, nilai ekspor tenun ikat telah mencapai 34.000 dolar AS.

Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar 13.600 dolar AS.

Dengan demikian, ekspor tenun ikat Indonesia pada semester pertama 2026 mengalami kenaikan sekitar 150 persen dibandingkan semester pertama tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan nilai ekspor tenun ikat, meskipun data tersebut mencakup produk tenun ikat Indonesia secara umum dan bukan khusus kain ulos.

Sarmuji berharap pengembangan industri ulos dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk tenun tradisional Indonesia.

Penguatan industri tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan perajin, menjaga kelestarian budaya, dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026