
Pantau - Pemerintah Iran sedang meninjau respons terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap rencana tujuh hari yang diajukan Teheran untuk menghentikan permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz, dengan menegaskan bahwa sejumlah persyaratan utama yang telah disampaikan tidak akan diubah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan tanggapan terbaru Washington telah diterima melalui para mediator dan saat ini sedang dipelajari pemerintah Iran.
Baghaei menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Senin (12/10/2026).
Menurutnya, Iran akan menyampaikan pandangan resmi kepada para mediator setelah proses peninjauan terhadap poin-poin terbaru dari AS selesai.
Iran Pertahankan Syarat Pembukaan Selat Hormuz
Baghaei menjelaskan bahwa respons terbaru AS berkaitan dengan rencana tujuh hari yang sebelumnya diajukan Iran untuk mengakhiri permusuhan dan memulihkan hak-hak Teheran.
Rencana tersebut disampaikan Iran kepada Amerika Serikat pada 22 September 2026 melalui para mediator di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York.
Salah satu tujuan utama proposal tersebut adalah membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi internasional.
Iran mengajukan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi sebelum pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut.
Persyaratan itu mencakup pencabutan blokade laut oleh Amerika Serikat, penghentian perang di seluruh front, serta pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Menurut Baghaei, persyaratan tersebut merupakan bagian dari nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang ditandatangani Teheran dan Washington pada Juni 2026.
Ia menegaskan bahwa Iran tetap mempertahankan persyaratan tersebut dan tidak akan menunjukkan fleksibilitas terkait hak-hak yang dianggap sah oleh pemerintahnya.
Amerika Serikat Disebut Terima Sebagian dari Tujuh Syarat Iran
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, sebelumnya menyampaikan perkembangan terkait respons Washington terhadap proposal Teheran.
Pada Minggu (11/10/2026), Rezaei mengatakan Amerika Serikat telah menerima beberapa dari tujuh persyaratan yang diajukan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Namun, sikap Washington terhadap sejumlah persyaratan lainnya masih belum dapat dipastikan.
Kondisi tersebut membuat proses diplomasi antara kedua negara belum menghasilkan kesepakatan menyeluruh.
Baghaei juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat sebelumnya telah menyampaikan sejumlah tuntutan dalam proses perundingan.
Menurutnya, Washington terus menyatakan bahwa persoalan program nuklir Iran merupakan salah satu perhatian utamanya.
Perbedaan posisi mengenai persyaratan perdamaian dan program nuklir masih menjadi bagian dari pembahasan kedua negara melalui jalur diplomatik.
Konflik Iran dengan AS dan Israel Memanas Sejak Februari 2026
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Teheran serta sejumlah kota lain di Iran pada 28 Februari 2026.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan pesawat nirawak yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Dalam perkembangan konflik itu, Iran juga memperketat kendalinya atas Selat Hormuz.
Pertempuran antara pihak-pihak yang terlibat akhirnya mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 8 April 2026.
Selanjutnya, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni 2026 mengenai penghentian perang di seluruh front kawasan.
Kesepakatan tersebut menjadi dasar bagi kedua negara untuk melanjutkan perundingan mengenai penyelesaian konflik dan persoalan nuklir Iran.
Perundingan Nuklir dan Pencabutan Sanksi Belum Capai Kesepakatan
Berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni, Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan melakukan perundingan selama 60 hari.
Perundingan tersebut memiliki tenggat pada 17 Agustus 2026 dengan tujuan mencapai kesepakatan akhir mengenai program nuklir Iran dan pencabutan sanksi.
Namun, kedua negara gagal mencapai kemajuan yang memadai hingga tenggat tersebut berakhir.
Kegagalan mencapai kesepakatan membuat ketegangan antara Teheran dan Washington kembali meningkat.
Iran kemudian mengajukan rencana tujuh hari pada September sebagai upaya melanjutkan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Hingga Selasa (13/10/2026), pemerintah Iran masih meninjau respons terbaru Amerika Serikat dan belum mengumumkan keputusan akhir terkait poin-poin yang disampaikan Washington.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




